Sing Mbahu Rekso
Bumi ini semakin kehilangan cara untuk mempertahankan diri. Terik panas belakangan ini terlihat semakin manjadi-jadi. Bengawan Solo bergeming tak tahu apa yang harus dilakukan. Gelarnya sebagai sungai terpanjang di pulau Jawa hanya tersisa dalam bentuk selarik kata di balik lembaran kertas tua yang mulai rapuh di rak perpustakaan. Bengawan yang dalam bahasa Jawa berarti sungai yang besar, seakan-akan bangkrut dari kejayaannya sebagai raja sungai yang menguasai pulau Jawa. Semakin hari, pulau-pulau kecil akibat endapan lumpur bercampur sampah, beranak pinak menyusuri setiap pinggiran sungai. Sepertinya ia tidak ikhlas memberikan air yang semakin hari semakin kecil. Ia tidak sanggup lagi memenuhi semua kebutuhan masyarakat.
Rumput-rumput liar yang tadinya tumbuh bebas di sekitar pekarangan, mulai berkemas-kemas untuk mempersiapkan masa kemarau panjang. Mereka dengan sengaja menyerahkan tubuhnya sendiri di hanguskan oleh sang matahari. Namun dalam hati kecil mereka tetap berharap agar akar-akar mereka bisa tumbuh kembali di saat iklim sudah membaik.
Tumbuhan-tumbuhan jati sudah terbiasa dengan kondisi semacam ini karena mereka memiliki lebih banyak pengalaman untuk bertahan hidup. Di kondisi yang seperti ini, mereka akan menggugurkan daun-daunnya untuk mengurangi penguapan. Sementara pohon-pohon yang tidak berpengalaman dalam menghadapi situasi seperti ini, biasanya mereka terbengkalai kaku dan akhirnya rapuh di geregoti rayap-rayap kecil.
Masyarakat desa Gombloh mendengar berita tentang tetangga desa mereka yang sudah kesulitan untuk menemukan air bersih. Akibatnya mereka harus pergi ke desa sebelah untuk mengambil air yang akan digunakan untuk kebutuhan pokok mereka. Rupanya kondisi sulit ini berlangsung berbulan-bulan. Musim hujan tidak bisa ditebak lagi. Akibatnya ini berdampak pada para petani. Sawah-sawah menjadi terbengkalai tidak bisa digarap. Harapan mereka satu-satunya adalah menantikan hujan turun.
Masyarakat desa Gombloh sendiri masih beruntung karena di daerah mereka masih memiliki persediaan air yang cukup. Terdengar isu bahwa musim kemarau panjang ini terjadi karena kemarahan Sing Mbahu Rekso. Konon katanya setiap pohon-pohon besar yang berada di pinggiran kali atau di perempatan jalan, terdapat makhluk-makhluk tak terlihat yang menghuni pohon-pohon besar itu. Kepercayaan ini yang membuat para leluhur takut untuk memotong pohon-pohon yang dianggap rumahnya Sing Mbahu Rekso. Malahan mereka akan memberikan sesajen seperti bunga, dupa, buah-buahan, dll. di hari-hari tertentu. Mereka juga sungkan untuk lewat tanpa permisi atau bahkan takut untuk kencing di sekitar pohon-pohon itu.
Kemarahan Sing Mbahu Rekso ini tak lain karena ulah masyarakat desa sebelah yang mengabaikan nasihat para leluhur mereka. Pohon-pohon besar yang tadinya disakralkan dan dilarang untuk ditebang, sekarang diratakan dengan tanah. Bahkan sampai akar-akarnya pun dibakar sekalian agar tidak mampu tumbuh lagi. Generasi-generasi sejenisnya juga dihabisi agar tidak menyisakan tilas. Mereka benar-benar ingin pohon sejenis itu lenyap dari mata mereka.
Walaupun sebagian orang-orang tua sempat melarang agar pohon-pohon itu tidak ditebangi, namun tokoh utama di masyarakat itu tetap menebangnya karena pohon-pohon ini dianggap sebagai pelanggeng kesesatan yang sudah dipercaya sekian lama. Mereka beranggapan bahwa pohon-pohon ini telah membuat para leluhur melenceng dari jalan hidup yang sesungguhnya.
Setelah pohon-pohon besar berhasil ditumbangkan, tradisi meletakkan sesajen tidak terlihat lagi. Sekarang tidak terdengar lagi bunyi klakson yang sengaja dipencet oleh para pengendara motor maupun mobil untuk menghormati pohon beringin yang berada di pinggir perempatan jalan. Kali yang menjadi sumber air utama di desa itu sekarang selalu bersih dari daun-daun yang rontok karena pohon beringinnya sudah ditebang. Desa yang dulunya sedikit gelap karena pepohonan yang rindang sekarang terlihat lebih padang.
Awalnya ini mematahkan anggapan-anggapan para leluhur tentang ketakutannya memotong pohon-pohon besar. Sudah berbulan-bulan sejak program penebangan seluruh pohon besar itu terjadi di desa itu, tidak ada tanda-tanda buruk yang terjadi. Orang-orang menertawakan cerita leluhur tentang adanya Sing Mbahu Rekso. Buktinya, sampai sekarang tidak ada kabar Sing Mbahu Rekso itu pindah kemana setelah rumah-rumah mereka ditumbangkan. Para orang tua yang tadinya sempat berprotes, menjadi kaku tak mampu memberikan alasan. Akhinya mereka dengan terpaksa merubah pandangan mereka dan menganggap Sing Mbahu Rekso hanyalah cerita dongeng belaka.
Musim kemarau kali ini disebut-sebut sebagai waktu di mana Sing Mbahu Rekso bangun dari kesedihannya sejak mereka kehilangan rumah. Masyarakat desa Gombloh hanya bisa turut prihatin melihat bencana-bencana yang melanda di desa sebelahnya. Setelah berbulan-bulan dirundung kesulitan air, sekarang tiba waktunya musim hujan. Masyarakat desa itu kembali merasakan tetesan air hujan yang bejatuhan secara langsung dari langit. Mereka sudah lama merindukan turunnya hujan. Mereka tampak gembira dan tak henti-hentinya mengucap syukur pada Tuhan yang mereka yakini.
Namun, keceriaan mereka melihat turunnya hujan hanya berlangsung sesaat. Hujan ternyata mengguyur desa mereka berhari-hari. Akibatnya genangan air di mana-mana bahkan sampai menyerobot masuk rumah. Banjir menjarah seluruh rumah-rumah di desa itu. Banyak barang-barang mengapung di mana-mana. Sebagian barang-barang berhasil dirampas oleh arus sungai yang deras. Sementara para pemilik rumah untuk sementara dievakuasi dan dibawa ke tempat yang lebih tinggi.
Setelah beberapa hari kemudian, hujan menjadi reda. Genangan air yang tadinya setinggi dada sekarang telah menyusut menyisakan setinggi mata kaki. Orang-orang desa yang sempat diungsikan, kembali ke desa mereka untuk melihat kondisi rumah mereka. Di daerah yang agak tinggi umumnya sudah kering dari genangan air. Sementara di daerah tanah yang berlembah masih tergenang air. Diperkirakan akan sepenuhnya kering di esok hari apabila hujan tidak mengguyur desa itu lagi.
Seorang nenek tua tak bisa berbicara banyak kata melihat rumahnya hancur diporak-porandakan banjir. Mulutnya terkunci dan tubuhnya mendadak kaku melihat rumah sederhana yang terbuat dari anyaman bambu sekarang rata dengan tanah. Air matanya mengalir bercampur dengan isak tangis, namun tetap tak bersuara. Tidak hanya itu, warga desa yang tinggal di dekat lereng-lereng tak kuasa melihat rumah mereka terpendam oleh tanah longsor. Hujan deras juga menyebabkan tanah longsor karena tanah tak kuat lagi menahan derasnya air hujan. Di tambah lagi, tanah tak memiliki cukup pegangan karena akar-akar pohon sudah dihabisi.
Bencana semacam ini baru kali ini terjadi di desa ini. Sebelumnya, desa ini masih terlihat makmur dan rindang pepohonan hijau. Namun sejak adanya program pemberantasan pohon-pohon yang dianggap sumber kesesatan, bencana ini terjadi. Di tengah-tengah kondisi ini, terdengar teriakan menyebut-nyebut nama Sing Mbahu Rekso.
“Ampun! Ampun! Sing Mbahu Rekso! Cukuplah engkau murka karena tingkah kami! Maafkan kami yang tidak mematuhi nasihat-nasihat para leluhur!”
Teriakan itu mengingatkan orang-orang tentang sebuah pesan para leluhur untuk selalu menghormati pohon-pohon besar. Apa yang ditakutkan para leluhur ternyata memang terjadi. Apakah ini karena Sing Mbahu Rekso, atau karena faktor lain tentang pohon-pohon besar, ini masih menjadi misteri. Keberadaan Sing Mbahu Rekso sendiri masih simpang siur karena untuk sementara ini mereka tidak bisa membuktikan seperti apa wujud Sing Mbahu Rekso. Namun kekuatan pohon-pohon besar masih bisa dibuktikan secara ilmu pengetahuan. Menurutnya, pohon-pohon besar mampu menyimpan serapan air yang nantinya bisa berguna ketika masa sulit air. Akar-akarnya pun sangat memberikan kontribusi penting bagi tanah untuk pegangan mereka ketika mereka mendapatkan air yang berlebihan. Akar-akar itu berfungsi mencegah erosi tanah. Selain itu, pohon-pohon berfungsi sebagai penghasil oksigen dan mampu mengurangi karbondioksida. Oksigen sendiri adalah gas yang paling dibutuhkan manusia dan hewan untuk bernafas. Tanpa itu manusia dan hewan tidak bisa bertahan hidup. Sementara karbondioksida adalah gas yang dihasilkan dari sisa-sisa pembakaran yang apabila berlebihan dapat menyebabkan menipisnya lapisan ozon. Kondisi bumi yang semakin panas ini tidak lain karena berkurangnya pohon-pohon di bumi ini.