Selasa, 31 Juli 2018

Malam Perahera

Sudah beberapa hari ini, lantunan sutta-sutta menggema merdu di vihara ini. Larik demi larik kalimat-kalimat suci dilantunkan dengan penuh keyakinan. Merdu suaranya membawa
kedamaian batin bagi yang mendengar. Setiap kalimat menyampaikan pesan-pesan Buddha yang menggunggah. Pesan-pesan tentang kebajikan yang akan membawa kebahagiaan bagi yang melaksanakannya.



Bila malam tiba, lampu-lampu hias menghiasi langit-langit malam. Cahayanya berwarna-warni di tengah kegelapan malam. Seluruh bangunan dan halaman vihara ini dilengkapi dengan lampu-lampu hias untuk memeriahkan acara ini. Acara Perahera masih berlangsung dan akan berpuncak minggu depan.

Para bhikkhu terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang mendapat bagian untuk menjaga Dhatu Mandira atau tempat penyimpanan relik. Ada yang bertugas membacakan sutta-sutta di dalam sebuah mandapa yang sudah dipersiapkan. Ada yang bertugas menyiapkan segala kebutuhan para bhikkhu tamu dan masih banyak tugas-tugas lainnya. Malam-malam ini memang begitu sibuk. Aku yang sebenarnya sedang mempersiapkan ujian tegah semester juga harus nimbrung dalam kesibukan semacam ini. Hingga sebagian dari waktuku tersita untuk acara-acara ini.



Aku duduk di bangunan Dhatu Mandira bersama rekan-rekan samanera yang lain malam ini. Di lantai dua persisnya. Duduk di atas kursi teras yang sesekali angin malam datang memeluk dingin. Lampu-lampu hias di halaman makin terpapang jelas di hadapanku. Cahaya kuning keemasan dipasang membentuk atap di sepanjang jalan menuju Dhammasala dan Stupa. Sementara lampu-lampu hijau dan biru bergelantungan di ranting-ranting pohon dan bangunan Devalaya. Panji-panji buddhis dikibarkan sepanjang jalan.

Suara kendang yang ditabur mengiringi para bhikkhu memasuki ruang Dhammasala. Payung-payung bercorak keemasan dipersiapkan untuk memayungi satu per satu bhikkhu yang berjalan. Anak-anak sekolah minggu dengan seragam putih-putih memegangi setiap gagang payung, mengiringi keberangkatan para bhikkhu menuju ruang Dhammasala. Semua umat yang berada di halaman berdiri serentak untuk memberikan penghormatan dengan merangkapkan kedua telapak tangan di depan dada. Sementara yang di dalam ruangan Dhammasala, mereka membungkukkan diri sambil bersikap anjali.

Malam ini jelas belum begitu ramai sebab puncak Maha Perahera akan berlangsung minggu depan. Minggu-minggu seperti ini hanya diisi dengan pembacaan sutta dan Dhammadesana. Namun tiga hari sebelum puncak Maha Perahera nanti sudah dipastikan vihara ini penuh dipadati pengunjung dari berbagai kota. Pejabat-pejabat pemerintahan biasanya hadir pada hari-hari menjelang Maha Perahera. Presiden dan para menterinya sudah menjadi tamu tahunan untuk hadir dalam acara besar seperti ini. Dan acara ini nanti akan disiarkan di stasiun-stasiun televisi secara langsung.

Senjaku Di Trincomalee


Aku bukan ahli filsafat yang mampu menguraikan makna-makna filosofis dengan bahasa akademis. Aku juga bukanlah penyair yang mampu menerjemahkan aroma kopi, rintik hujan, siluet senja ke dalam sajak-sajak puitis. Aku juga bukan penggila sastra yang bisa menerjemahkan cinta ke dalam kata-kata romantis. Makanya jangan panggil aku filsuf, penyair atau penggila sastra sebab aku masih jauh dari kriteria itu.

Sore ini, aku menengadah langit-langit senja yang menguning keemasan. Ada keindahan yang syahdu di antara mega-mega terjal di angkasa. Siluet jingga membawa kesan yang dalam sebelum sang baskara kembali ke peraduannya. Semilir anginnya mendesir bersama suara ombak pantai yang menggulung-gulung menuju daratan. Gemuruh demi gemuruh terdengar mengiringi kepergian sang hari. Jingga merekah di antara langit yang beranjak menghitam.

Aku berdiri di antara tumpukan batu karang sambil mengamati momen-momen mengesankan ini. Senja selalu mengesankan sebab senja mengajarkan perpisahan yang mengenang. Senja bahkan lebih mengerti bagaimana menyampaikan perpisahan dengan tidak meninggalkan luka kepada dunia. Dan darinya pula kita harus belajar untuk tidak membuat luka dan derita setelah kepergian kita kelak. Kita harus belajar menjadi manusia yang bisa dikenang banyak orang karena kebaikan kita.

Inilah pemandangan indah yang disuguhkan semesta kepada penduduk sini. Di ujung timur pulau Sri Lanka ini, aku menikmatinya. Trincomalee atau Trikunamalaya ini adalah tempat yang menyediakan keindahan alam yang luar biasa. Tempat ini masih sangat alami dan jauh dari kebisingan kendaraan seperti di kota metropolitan, Colombo dan kota-kota lainnya. Burung-burung merak masih bebas berkeliaran di alam terbuka tanpa seorang pun berani menangkapnya. Sebab, bagi masyarakat di wilayah ini yang mayoritas adalah Hindu, mempercayai bahwa merak adalah wahana atau kendaraanya dewa Skanda, sementara masyarakat Sinhala mempercayai bahwa merak adalah kendaraanya dewa Kataragama, maka burung merak dianggap sebagai burung sakral yang tak boleh ditangkap. Menangkapnya atau melukainya sama saja membuat dosa besar yang sulit diampunkan.

Namun bagian ujung timur dari negeri Sri Lanka ini juga adalah tempat yang menyimpan banyak kisah tragis yang menyebabkan pertumpahan darah dan kengerian yang luar biasa. Beberapa tahun silam, di sini dicap sebagai garis hitam yang tak bisa dijamah bebas. Berkunjung ke sini berarti menjemput kematian. Sebab para pendatang atau orang-orang yang berbeda dari kaum mereka adalah musuh yang mesti dibinasakan. Perang saudara antara warga Tamil dan Sinhala menyebabkan ratusan nyawa hilang, ratusan orang menderita luka-luka, ratusan orang kehilangan keluarganya, dan banyak ketakutan yang mencekam. Perang ini berimbas ke kota-kota besarnya lainnya, yang tentu tak lain karena ditunggangi politik picik dari beberapa politikus. Sri Lanka menjadi kelam dan tak aman untuk dihuni dalam beberapa tahun. Dimana-mana terdengar ledakan bom, desing peluru, tembakan-tembakan, dan ratap tangis. Sungguh, kata guru saya, waktu itu benar-banar ngeri. Dan cerita kelam itu sama seperti novel yang pernah saya baca tahun lalu, yang menyebabkan banyak warga negara elit memutuskan untuk merantau ke negeri orang. Beruntung masih banyak orang-orang berjiwa patriotisme untuk tetap tinggal di negeri sendiri dan merampungkan konflik ini. Akhirnya konflik ini selesai di bawah presiden Mahinda Rajapaksa, yang berhasil mempersatukan kembali perpecahan dan menegakkan kembali persatuan demi kebahagiaan dan kedamaian bersama.

Kini mereka telah berdamai dan sepakat untuk bersatu menjadi negarawan yang mencintai negeri Sri Lanka. Bersama senja ini aku kembali mengingat kisah-kisah itu. Harapku semoga kisah-kisah kelam seperti itu tak kan berulang lagi, sebab kedamaian jauh lebih berharga daripada sebuah kekuasaan. Perdamaian menyatukan perbedaan-perbedaan. Perdamaian adalah panji kehidupan yang mesti dijaga.

Kulihat kawan-kawan asyik bermain air. Mengambang bersama ombak-ombak kecil di tepian. Berkali-kali mereka memanggilku untuk ikut serta. Aku menolak, sebab aku menemukan keasyikan tersendiri di sini. Keasyikan menikmati semilir angin dan mengamati detik detik menjingganya langit senja.

Aku menitip pesan kepada angin tentang doa-doaku seperti yang saban hari kulakukan, ‘Semoga semua makhluk hidup berbahagia.' Kepadanya angin aku menyampaikan salam-salam kedamaian. Aku tak ingin perbedaan merenggut kedamaian dan ketentraman semua makhluk. Karena semua makhluk sama-sama mencintai kehidupan dan ingin hidup bahagia, maka sudah semestinya kita tidak menyebabkan makhluk-makhluk lain kehilangan haknya.

Jumat, 27 Juli 2018

Samsara

Pengembaraan panjang melewati lembah-lembah dan perbukitan yang penuh dengan hutan berimba telah dilaluinya. Entah sampai kapan dia akan terus berjalan sampai ia menemukan titik akhir di mana ia harus berhenti. Bahkan sudah berapa lama ia telah berjalan dan sampai kapan ia harus berjalan pun tak tahu. Baginya hidup hanyalah menikmati tiap-tiap persingahan di gubuk-gubuk kecil untuk sejenak menegak air minum.

Gubuk-gubuk kecil tegantung padanya ia menemukan. Terkadang gubuk yang ia temukan terlihat kokok dan terdapat air minum dan sisa-sisa makanan. Terkadang ia menemukan gubuk yang sungguh reot, hingga untuk duduk saja pun banyak ketakutan. Kadang pula ia menemukan gubuk yang sudah hancur berantakan saat angin dan hujan bertarung di sana, hingga ia tak ada harapan untuk singgah dan minum.

Dia adalah Naro, kumpulan dari elemen-elemen batin dan jasmani yang orang-orang menyebutnya manusia. Ia tidak jauh beda dengan manusia-manusia pada umumnya. Berkaki dua, bertangan dua, bermata dua, bertelinga dua, dan memiliki otak untuk berpikir.

Bukan hanya dia semata yang tak tau sampai kapan ia harus berjalan di hutan berimba. Ia hanya mendengar cerita bahwa di akhir sana terdapat kebahagiaan yang tak tertandingi. Namun ia sendiri juga tak tahu karena ia belum pernah melihatnya. Bahkan ia pun ragu apakah cerita itu hanyalah fiksi ataukah kebenaran sejati. Sebagian dari mereka yang berjalan bersamanya mencoba meyakinkan bahwa itu benar. Namun sebagian dari mereka juga mengingatkannya bahwa itu hanyalah khayalan belaka.

Naro masih berjalan walau keringat terus bercucuran. Terik mentari yang menyengati tubuhnya menambah penderitaanya selama perjalanan. Hembusan angin yang walaupun sementara sangatlah dinatikannya karena menurutnya angin adalah kebahagiaan meskipun itu akan berlalu lagi. Angin dan panas adalah fenomena yang datang silih berganti selama ia berjalan. Tak selamanya angin akan berhembus dan tak selamanya pula terik panas menyengat. Rimbunan pepohonan terkadang menyelamatkannya dari terikan panas. Air sungai yang mengalir menjadi penggantinya di saat angin tak berhembus kepadanya.

“Kawan. Kemana kita akan menempuh perjalanan lagi?” Ia bertanya kepada kawan sekumpulannya.

“Ke arah kiri.” Salah satu menjawabnya.

“Bukan. Kita harus berjalan menuju ke arah kanan.” Yang lain menyautnya.

“Kawan kita harus berjalan menuju arah timur karena dari arah timur matahari terbit. Mungkin kita bisa bertanya kepada makhluk agung yang mengendalikan tata surya dan seisinya.”

“Sebaiknya kita menuju arah barat karena matahari tenggelam di arah barat. Barang kali di sana terdapat akhir dari perjalanan kita.” Sebagian mencoba meyakinkannya.

Demikian berbagai pandangan ia temukan. Naro menjadi bingung entah jalan mana yang akan ia ikuti. Ia sama sekali tidak tahu arah ia mau kemana dan dari mana. Ia hanya berjalan menempuh perjalanan panjang, menyinggahi setiap gubuk-gubuk kecil menghabiskan bekal-bekalnya.

“Apakah saya benar menapak jalan ini untuk mencapai tujuan sebagaimana yang diceritakan oleh para leluhur.” Dia bergumam dalam hati karena hatinya penuh bimbang.

Para pengikut arah timur mencoba membujuknya untuk mengikutinya menuju arah timur. Sementara para pengikut barat juga mencoba membujuknya untuk mengikutinya mereka menuju arah barat. Mereka berpegang pendapat bahwa pendapatnya adalah yang paling benar karena cerita tentang keindahan akhir tercatat dalam buku kuno yang mereka anggap suci.

Naro masih bimbang. Kalau ia mengikuti arah barat ia akan dikatakan membangkang karena leluhurnya mengikuti arah timur. Tetapi kalau ia mengikuti arah timur, ia akan dianggap bodoh karena sampai kapan pun matahari akan terbit dari arah timur. Sulit memang bagi Naro untuk memutuskan arah jalan yang dilematis baginya.

Setelah singgah sejenak di dalam gubuk ini, akhirnya mereka berpisah memencar sesuai dengan perbuatannya. Bagi mereka yang mempunyai cukup bekal untuk menempuh perjalanan lagi akan menemukan gubuk yang lebih layak. Sementara mereka yang sudah mulai kehabisan bekal akan menemukan gubuk yang rapuh penuh dengan kegetiran. Perdebatan tentang penentuan arah tak lagi ditemukan karena perdebatan arah hanyalah ada di sekolompok orang yang mengaku religius di gubuk lama.

Walau sekarang Naro berada dalam dunia yang berbeda, ia rupanya masih harus berjalan karena ia belum mencapai pada titik akhir. Ia beruntung karena bekal-bekal perjalanan yang masih tersisa masih cukup untuk membawanya menuju gubuk yang lebih layak. Gubuk itu terletak di antara pepohonan rindang di dekat genangan air dan angin selalu berhembus menambah kesejukan selama ia bersinggah.

“Apakah ini yang diceritakan para leluhur sebagai surga? Apakah ini juga yang diperdebatkan oleh para penentu arah di gubuk lama di mana saya singgah sebelumnya?” Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Sejenak sambil menikmati hembusan angin, ia melihat kawan-kawannya yang sedang asyik di podok-pondok surgawi menikmati bekal perjalanannya. Naro melangkahkan kakinya menuju mereka secara perlahan.

“Kawan. Kalian datang dari arah mana hingga kalian bisa sampai di sini?”

“Kita tak tahu pasti kawan. Yang jelas sebelum kita sampai di sini kita pernah singgah di gubuk reot jauh di bawah sana.”

“Apa yang membawa kalian bisa sampai di sini?”

“Sepertinya ini berkat bekal kebajikan yang kita kumpulkan saat menempuh perjalanan.”

“Apakah ini akhir dari tujuan kalian?”

“Kata para penunjuk arah di gubuk reot bawah sana ini adalah tujuan mereka. Namun, setelah kita sampai di sini, ternyata kita masih harus berjalan lagi karena ini bukanlah akhir. Gubuk ini tak mampu menampung persinggahan kita menjadi selama-lamanya. Ketika bekal kita sudah habis, kita harus beranjak pergi meninggalkan gubuk ini dan menempuh perjalanan panjang yang melelahkan lagi.”

Naro pun juga berpikir begitu. Ia sadar bahwa ia juga harus berjalan lagi menempuh perjalanan. Setelah waktunya tiba, ia harus pergi dari gubuk itu.
Gubuk-gubuk yang akan ia singgahi bergantung pada bekal yang dipersiapkannya. Kadang kala ia harus singgah di gubuk yang menyakitkan, namun kadang ia akan menemukan gubuk yang lebih layak. Gubuk yang kokoh dan reot pernah ia singgahi semua hingga tak terhitung lagi. Keringat yang bercucuran saat ia menempuh perjalanan dari gubuk yang tak terhitung jumlahnya mungkin kalau dikumpulkan sudah melebihi samudera yang luas. Darah yang mengalir keluar dari tubuhnya di saat ia bersenggolan dengan ranting-ranting di gubuk-gubuk reot mungkin sudah melebihi dalamnya sungai terbesar di dunia. Namun tujuan akhir tersebut masih tak ia temukan karena ia tak mau menghentikan sumber utama yang membuatnya terus mengembara.

Selalu Ada Alasan


Selalu ada alasan di balik keputusan, sikap, dan cara berpikir seseorang. Seseorang akan mudah menghakimi dan mengkritik keputusan orang lain apabila tidak melihat alasan-alasan ini. Terkadang kita bisa saja mengkritik dengan menggunakan referensi yang kita anggap valid, tetapi ternyata referensi yang mereka pakai untuk mendasari sikapnya lebih valid dari apa yang kita pikir. Kita cenderung mudah menyalahkan orang lain karena kita tidak melihat kisah seutuhnya. Apa yang sering kita lihat adalah permukaannya saja. Kita bahkan enggan melihat latar belakangnya. Seperti membaca buku, kita hanya melihat sampulnya saja tanpa membaca isinya dan melihat kesimpulannya.

Bagi seseorang yang tahu, ia tidak akan mudah menarik kesimpulan pada apa yang dilihat sepihak dari dirinya saja. Kesimpulan harus diputuskan setelah melihat dari beberapa sisi. Seseorang perlu melihat gambar seutuhnya. Misalnya ketika beberapa orang buta yang mencoba mendeskripsikan gajah. Setiap dari mereka memiliki kesimpulan masing-masing. Bagi yang meraba gajah di bagian kepalanya menyimpulkan bahwa gajah seperti tong air. Yang memegang kupingnya menyimpulkan bahwa gajah seperti penampi keranjang. Orang buta yang meraba gadingnya mendeskripsikan gajah seperti mata bajak. Orang buta yang memegang belalainya mendeskripsikan gajah seperti galah bajak. Orang buta yang meraba tubuhnya mendeskripsikan gajah seperti gudang. Orang buta yang meraba kakinya berkesimpulan bahwa gajah seperti tonggak. Ia yang memegang pinggangnya mendeskripsikan gajah seperti lesung. Yang memegang buntutnya mengatakan bahwa gajah seperti penumbuk lesung. Dan orang yang memegang pucuk buntutnya berkesipulan gajah itu seperti sapu. Karena berbeda pendapat akhirnya mereka saling menyalahkan satu sama lain dan mengklaim dirinya yang benar.

Sebenarnya tidak ada yang salah dari apa yang mereka deskripsikan. Mereka mendeskripkan sesuatu dari apa yang dipegangnya. Namun karena tidak melihat seutuhnya gajah itu, mereka berkesimpulan sepihak. Yang lebih buruk lagi, mereka saling menyalahkan orang lain dan mengklaim dirinya yang paling benar. Padahal sesungguhnya ia tidak melihat seutuhnya.

Bagi orang yang bisa melihat gajah itu seutuhnya, hanya bisa tertawa melihat orang-orang buta yang berpegang pada apa yang dilihatnya sepihak. Demikian pula bagi orang yang melihat orang lain mengkritik seseorang dengan pandangan sepihak, ia hanya bisa tertawa karena orang itu melihat alasan dari orang yang dikritik itu secara utuh. Dia tahu kisah dan latar belakangnya secara menyeluruh.

Kita perlu melihat alasan-alasan di baliknya sebelum datang pada satu kesimpulan yang menyudutkan orang lain. Ada rentetan kisah panjang yang perlu diketahui sebelum seseorang berhenti pada kesimpulannya. Memang tidak mudah bersikap demikian, karena kita memiliki satu hal. Dan hal itu adalah tidak mau melihat kisah orang lain. Dengan kata lain, tidak mau melihat alasan orang lain karena kita cenderung mengedepankan gagasan kita sendiri.

Ada beribu alasan di balik perilakuku, cara berpikirku, dan keputusanku. Aku memiliki kisah panjang yang seandainya dibukukan dapat memuat ribuan halaman. Atau seandainya difilmkan akan menjadi beberapa episode. Namun itu semua tidak mampu melihatkan apa sejatinya diri saya.

Alasan mengapa saya suka membaca cerpen, novel, atau karangan fiksi adalah karena saya ingin membeli sudut pandang orang lain. Dengan beberapa paragraf yang diuntai dengan kalimat-kalimat, setidaknya aku mampu menemukan sudut pandang yang dimiliki penulis. Karena aku percaya ada makna yang mendalam di setiap larik kata yang disampaikan penulis.
Seorang penulis bukan hanya sebagai pengetik. Namun ia juga seorang pemikir. Pengetik bisa saja mengetik apapun yang ia mau, tetapi seorang penulis perlu merangkai gagasan dan menaruh makna di balik setiap kata. Sekali jari tangan menekan satu huruf di atas keyboard, pemikirannya langsung mendekorasinya di antara beberapa kata yang ia susun.
Novelis bersejarah yang paling kusuka adalah Bhante Ananda. Beliau hidup di abad ke enam sebelum masehi. Kemampuannya tidak bisa diragukan lagi, sehingga ia mampu menceritakan kembali semua kisah perjalanan guru agung Buddha dalam membabarkan ajarannya. Semua ajaran guru agung Buddha terlipat rapi diotaknya. Sehingga ketika konsili pertama diadakan, tiga bulan setelah Sang Buddha wafat, Bhante Ananda mampu mengulang semua ajaran Sang Buddha berserta kisahnya.

Pohon Bodhi di Bellanwila Rajamaha Viharaya

Pohon Bodhi di Bellanwila Rajamaha Viharaya

Pohon itu masih berdiri walau sudah terlihat renta. Di dahan utamanya terdapat tongkat berwarna keemasan yang menopangnya agar tidak membungkuk ke tanah. Tubuhnya terpahat alami keriput-keriput tua yang mengitari setiap batang. Urat-uratnya tergambar lebih jelas di lekuk-lekuk tubuhnya. Ranting-rantingnya masih lentik bagai jemari muda walau daun-daunnya sudah tidak selebat dulu. Namun semakin tua, semakin kuat pula akar-akarnya yang menancap ke dalam bumi. Semakin dalam menerobos bebatuan dan tanah-tanah terjal. Orang-orang menamakannya sebagai pohon bodhi yang artinya pohon pencerahan. Ini bermula ketika seorang petapa dari suku Sakya meninggalkan istana dan mencapai pencerahan agung di bawah pohon sejenis itu. Nama asli dari pohon itu adalah Ficus Religiosa, namun sekarang lebih dikenal sebagai pohon bodhi.



Pagi ini masih cerah seperti biasanya. Burung-burung masih menjalankan rutinitas hariannya, menyanyikan simponi-simponi pagi. Sementara orang-orang semakin memadati area sekitar pohon Bodhi. Semerbak wangi dupa semakin menusuk hidung. Orang-orang berbaris di pinggiran pagar pohon bodhi, membawa berbagai macam persembahan seperti bunga teratai, bunga kamboja, dan beberapa untaian bunga melati. Beberapa membawa kendi-kendi berisi air bersih dan kemudian ditumpahkannya di setiap sudut pagar sedikit demi sedikit sambil mengitarinya tiga kali.

Seseorang berbalut jubah merah kekuning-kuningan terlihat dari kejauhan sedang berjalan menuju pohon bodhi. Dilihat dari gaya berjalannya, orang itu pasti Bhante Vidyananda. Di Bellanwila Raja Maha Viharaya ini, beliau ditugaskan untuk mengurus pohon bodhi. Setiap pagi beliau menyapu dan membersihkannya. Kalau ada umat yang datang dan ingin mempersembahkan jubah, beliau juga yang membukakan pintu masuk ke atas bangunan yang menglilingi pohon bodhi. Ribuan orang datang setiap harinya, namun pintu untuk naik hanya dibuka untuk orang-orang yang ingin mempersembahkan jubah saja. Bagi yang ingin mempersembahkan bebungaan dan puja lainnya biasanya diletakkan di tempat yang disediakan di pinggir-pinggir pagar pembatas pohon bodhi.
Bhante Vidyananda memasuki pintu dan naik ke fondasi yang dibangun mengelilingi pohon bodhi. Diambilnya segagang sapu dan mengayunkannya kekiri dan ke kanan. Dikumpulkannya daun-daun berbentuk cinta yang tergeletak di atas butiran-butiran pasir putih. Sesekali beliau memungut dengan tangannya sendiri ketika daun-daun itu jatuh di tempat di mana patung Buddha bermodel borobudur di tempatkan.

Aku mendekatkan diri di mana Bhante Vidyananda sedang menyapu. Goresan-goresan kumpulan lidi yang diuntai, membekas jelas membentuk seperti daun kelapa. Memang menyapu di vihara seperti menggambar. Halaman yang ada di vihara umumnya adalah pasir pantai. Jadi apa yang disebut menyapu bukan hanya memunguti sampah-sampah, tetapi harus meninggalkan tilas membentuk persis seperti suwiran daun kelapa yang masih berjuntai di pelepahnya.

Setelah bertukar sapa, aku menggaruk tumpukan daun-daun cinta yang sudah layu dan memindahkannya di keranjang yang terbuat dari rotan. Aku tak peduli apakah itu daun hijau atau daun yang menguning. Yang aku tahu semua daun yang tergeletak ini telah menjadi sampah. Demikianlah hidup, terlepas apakah itu muda atau tua, kematian menjemput tanpa tebang pilih. Muda atau tua, pria atau wanita, cantik atau buruk rupa, kaya atau miskin, di mata raja kematian adalah sama. Tak seorang pun bisa mengelak. Harta pun tak mampu menyuap untuk hidup kekal. Jabatan pun tak kuasa membawahi sifat ketidakekalan dari kehidupan.

Setelah semua selesai, aku berdiri menghadap pohon bodhi. Pohon itu mengingatkanku kembali tentang sejarah masa lalu. Walau aku bukanlah pelaku atau saksi sejarah itu, tapi aku tahu kisahnya dari untaian-untaian kata yang terpatri di lembaran-lembaran kertas putih. Aku juga mendengar dari beberapa guru yang berkisah. Menurut sejarahnya, pohon bodhi ini ditanam di abad ke tiga sebelum masehi. Dia adalah saksi di balik kejayaan raja Devanampiyatissa yang memerintah negara ini dan meresmikan negara ini sebagai negara Buddhis di abad ketiga sebelum masehi. Neneknya adalah pohon bodhi yang ada di India persis di mana Buddha Gotama mencapai pencerahan agung. Ibunya adalah cangkokan dari pohon itu dan sekarang masih berdiri di Anuradhapura.

Pandangan mataku masih tertuju pada pohon itu, pohon yang disakralkan dan hormati oleh sekian banyak orang. Pohon itu tumbuh menjulang ke angkasa dan dahan-dahannya tubuh mencangkar langit. Aku teringat tentang bencana tsunami di tahun 2004 yang berpusat di Aceh di Indonesia yang mengakibatkan Sri Lanka juga kena imbasnya. Aku melihat dari layar kotak bersuara, ribuan mayat tergeletak kaku setelah digulung-gulung ombak dan tertimbun reruntuhan bangunan. Menurut beritanya tsunami itu mengakibatkan lebih dari 35.000 orang meninggal di Sri Lanka.

Aku lalu bertanya kepada Bhante Vidyananda tentang bagaimana nasib pohon ini ketika tsunami meluluh lantahkan daerah pesisir pantai di daerah Galle. Beliau kemudian menceritakan kejadian silam yang tragis. Aku merasa seakan-akan kembali di zaman itu dan melihat langsung bagaimana kondisi waktu itu. Aku terdiam membisu. Pohon bodhi yang ada dihadapanku ini masih berdiri kokoh walau hujan lebat mengguyur. Beruntungnya tsunami tidak meluluhlantahkan vihara ini. Hanya daerah pesisir pantai yang terkena imbasnya.

Aku salut akan ketegarannya. Bahkan sampai sekarang aku masih salut dan menghargainya. Mengingat dirinya adalah pohon tertinggi di desa Bellanwila, angin tak henti-hentinya menabrak-nabrak dari berbagai sisi. Kadang sendirian, dan terkadang beramai-ramai seperti masa yang berdemo menuntut keadilan di depan kantor pemerintahan. Katanya semakin tinggi pohon, semakin tinggi pula anginnya. Namun rupanya ia tetap tegar walau angin selalu mencoba merobohkannya. Dia rupanya mencoba menikmati hiruk pikuk kehidupan, baik suka maupun duka, dengan keseimbangan. Manakala angin berhembus kencang dari arah timur, ia menggeleng ke arah barat. Manakala angin berhembus kencang dari arah utara, ia menggeleng ke arah selatan. Dia tidak pernah menyalahkan angin walau angin sering kali merontokkan daun-daunya. Atau bahkan sesekali mematahkan ranting-rantingnya.

Yassa mūle nisinno va – sabbāri vijayaṃ akā
Patto sabbaññutaṃ satthā – vande taṃ bodhi pādapaṃ
Ime ete mahā bodhi – loka nāthena pūjitā
ahaṃ pi te namassāmi – bodhirājā namatthu te

Duduk di akarnya, Sang Guru mengatasi semua musuh, menjadi maha mengetahui, kepada pohon Bodhi itu aku memuja.
Pohon-pohon Bodhi itu, dipuja oleh Pelindung Dunia (Buddha), demikian saya juga akan memujamu. Semoga ada penghormatan padamu, oh Mahā Bodhi.

Kopi dan Malamku

Aku ingin menulis cerita perihal kopi dan malamku. Secangkir kopi ini adalah jamuan malamku hari ini. Tanpa ada cemilan lain. Hanya secangkir kopi hitam pekat, tanpa campuran gula sebutir pun. Pahit memang, tapi masih tak sepahit penderitaan orang-orang di bumi ini. Aku bukanlah pecandu kopi, tapi kopi telah menjadi kebutuhanku untuk melanjutkan aktivitasku di malam hari hingga tengah malam nanti. Kopi adalah sahabatku yang membantu aku memaksakan hidupku sebentar di negeri perantauan ini. Karena tanpanya, kantuk adalah musuh terberatku di mana malam juga meninabobokan setiap insan dengan caranya sendiri. Sementara masih ada tumpukan tugas dan hobi yang perlu digarap.



Malam ini adalah bulan purnama, yang masyarakat Sri Lanka menyebutnya hari Poya atau Uposatha. Ribuan orang berlalu lalang di halaman vihara. Lantunan ayat-ayat suci mengumandang merdu memecah keheningan malam hingga suaranya membumbung ke angkasa bersama kepulan-kepulan asap dupa. Semerbak harum dupa dan bunga pun seperti tak ada habisnya. Seperti tak pernah ada saja sepinya vihara ini. Selalu ramai dipadati pengunjung setiap harinya.
Bellanwila Rajamaha Viharaya ini adalah vihara bersejarah yang memiliki keagungan tersendiri, sebab pohon Bodhi yang kini usianya sudah mencapai lebih dari 2300 tahun, masih berdiri kokoh di halaman vihara ini. Ini adalah salah satu kekayaan dari negeri ini, sebab pohon ini adalah salah satu dari tiga puluh dua cangkokan dari pohon Bodhi yang ada di Anuradhapura, dibawa dari India pada waktu penyebaran agama Buddha di negeri ini di abad ke tiga sebelum masehi.

Purnama bersinar terang di antara pekat-pekat malam. Sinarnya menghiasi langit-langit malam dengan titik-titik bintang yang membentang cakrawala. Sesekali terlihat kepulan-kepulan asap yang terbawa angin melintasi lingkaran kuning dalam purnama itu. Dalam legendanya, bulan purnama adalah bulan yang keramat dan disakralkan. Ada segudang cerita-cerita mistik mengenai bulan purnama, hingga kemistikannya diadopsi oleh beberapa agama-agama di India bahwa bulan purnama adalah bulan pembawa berkah. Oleh sebab itu, setiap bulan purnama tiba, pengikut agama-agama dari negeri Jambudipa atau India, melakukan praktik-praktik keagamaan berdasarkan keyakinan mereka masing-masing. Agama Buddha menawarkan praktik atthasila atau puasa dengan mematuhi delapan aturan kemoralan.

Aku menyeruput perlahan kopi yang sudah rada mendingin. Terkadang ada sedikit penolakan dari lidah ini ketika pahitnya kopi menyetuh bagian sensitifnya. Minum kopi tapi seperti minum jamu brotowali saja. Namun ini pun sudah rada mendingan, sebab aku sudah mulai membiasakan pahitnya kopi ini. Lidahku pun sudah mulai beradaptasi ketika hati juga meyakinkan bahwa pahitnya kopi ini adalah kebutuhan yang harus dirasakan.

Aku bercengkrama dengan malam melalui keheningan. Diam namun tidak membatu. Pemikiran demi pemikiran berdialog dan mendiskusikan susuatu untuk kuramu menjadi sebuah tulisan. Di sisi lain, hati ini memprotes supaya disaring lebih dalam lagi, agar yang tertulis bukanlah kata-kata kosong yang tak mengandung makna. Seketika otak kiri dengan cepatnya membahasakan hasil dialog itu dan menyarankan beberapa diksi yang pantas untuk dipergunakan.

Jemariku mengejawantahkan input-input itu kedalam sebuah tulisan. Meski sudah disaring berkali-kali, rupanya otak kanan memprotes hasil ketikan itu sebab maknanya sulit dipahami dan bisa menimbulkan banyak interpretasi yang menyimpang. Jari pun kemudian mengambil masukan untuk mencocokkannya kembali pemikiran-pemikiran itu dengan bahasa yang bisa diterima.

Aku menyuruput kembali kopi itu berkali-kali. Dalam setiap seruputan, ketika bibir ini menyentuh bibir cangkir, aku merasakan kehangatan kopinya. Perlahan aku meneguknya, mencoba menikmati setiap pahit yang menjadi unsur utama dari kopi. Seperti manis dan pahitnya hidup yang harus diterima dengan lapang dada tanpa perlu menyisankan dendam di akhirnya.

Aku ingin bercerita kembali bahwa malam ini adalah malam-malam penyambutan festifal Perehera yang akan berpuncak pada tanggal sebelas agustus nanti. Bellanwila Rajamaha Viharaya ini adalah tuan rumah tahunan untuk melaksanakan festifal agung ini. Esala Perahera adalah salah satu festifal Buddhis di Sri Lanka, yang mana dalam acara ini diawali dengan puja di hari-hari pertama, kemudian dilanjutkan pembacaan Pirith atau sutta-sutta Buddha dalam seminggu non-stop, pembabaran Dhamma untuk beberapa hari dan tarian-tarian tradisional Sri Lanka untuk mengiringi pembawaan relik Buddha mengelilingi kampung Bellanwila.

Aku menghela nafas lebih dalam dan kembali meneguk kopi itu sedikit lebih banyak. Sebab aku tak ingin kopi ini mendingin setelah sekian lama duduk di hadapanku. Tegukan demi tegukan, kopi di hadapanku semakin mendangkal mendekati pantat cangkir dan menyisakan sedikit ampasnya. Aku ingin menutup cerita ini, seperti aku ingin menyudahi perjamuan malam dengan secangkir kopi hitam ini. Mungkin, di perjamuan kopi hitam berikutnya aku akan memberikan kelanjutan kisah ini. Atau kalau tidak, mungkin kopi berikutnya adalah inspirasiku yang berbeda untuk didiskusikan bersama malam.

Kamis, 26 Juli 2018

Negara Majemuk

Indonesia adalah negara majemuk yang terdiri dari banyak suku, budaya, kepercayaan, dan bahasa. Setiap suku dan daerah memiliki budaya, kepercayaan, dan bahasa yang berbeda-beda. Keanekaragaman yang bersatu inilah yang disebut Indonesia.
.
.
Indonesia sendiri terdiri lebih dari seribu tiga ratus suku bangsa. Dari Sabang sampai Merauke terdapat tujuh belas ribu lima ratus pulau dengan budaya dan tradisi yang berbeda-beda. Orang-orang dari berbagai macam daerah ini disatukan dengan satu bahasa, yaitu bahasa Indonesia. Meskipun begitu, terdapat sekitar lima ratus empat puluh enam bahasa daerah yang juga diakui oleh negara.
.
.
Sesungguhnya terdapat ratusan kepercayaan di Indonesia. Namun ada enam agama besar yang diakui negara, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Setiap agama memiliki kebebasan yang sama di mata negara. Oleh sebab itu, Indonesia bukanlah negara berbasis agama tertentu, tetapi berbasis Pancasila. Bhineka Tunggal Ika yang berarti meski berbeda-beda tetapi tetap satu adalah semboyan bangsa ini.
.
.
Toleransi adalah pondasi dalam membangun kerukunan di tengah-tengah perbedaan. Perbedaan suku, budaya, dan agama sesungguhnya bukanlah jurang pemisah yang mencerai beraikan Indonesia bila semboyan Bhineka Tunggal Ika masih diterapkan. Perselisihan dan ketegangan-ketegangan yang sempat terjadi belakangan ini adalah pertanda bahwa Indonesia sedang lemah toleransi. Sikap ingin menonjolkan agama sendiri dengan cara merendahkan agama yang lain mulai tampak meruncing. Bahkan kekerasan atas nama agama belakangan ini juga ditemukan. Ini sesungguhnya menjadi pengingat bagi kita semua, rakyat Indonesia, untuk menjaga persatuan dengan saling menghargai satu sama lain. Tidak ada yang lebih indah dari sebuah kerukunan. Dan saya percaya agama apapun pasti menyetujui kerukunan dan keharmonisan.
.
.
Di Pura Gua Lawah ini aku berdiri merindukan kedamaian dan keharmonisan seperti sedia kala. Pura ini adalah salah satu tempat peribadatan umat Hindu di Bali. Suasana sejuk membawa atmosfer kedamaian. Ya, memang Bali adalah salah satu pulau yang masyarakatnya masih menjaga kuat toleransi. Mari kokohkan kembali toleransi demi persatuan.
.

Air

Air adalah kebutuhan utama manusia. Air, baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia, sangat dibutuhkan bagi kehidupan. Tanpa air dan udara tak ada satu pun makhluk hidup yang benar-benar bisa bertahan hidup di bumi ini.

Air sering digunakan sebagai simbol kerendahan hati. Meskipun air berperan penting dalam kehidupan ini, air tetaplah rendah hati. Air merupakan simbolisasi dari kerendahan hati karena air memiliki fleksibelitas dalam menyesuaikan diri. Di dalam mangkuk ia akan berwujud seperti mangkuk. Di dalam gelas ia akan berwujud seperti gelas. Air selalu mengalir dari tempat yang tinggi menuju yang rendah.

Selain itu, air memiliki kemampuan untuk mentrasmisi kekuatan-kekuatan emosi. Seorang peneliti dari Jepang, Dr Masaru Emoto, mengungkapkan bahwa air memiliki kemampuan mentransmisi emosi. Ketika seseorang memiliki dua gelas berisi air bersih, dipisahkan di tempat yang berbeda, yang satu selalu mendengar ucapan-ucapan baik, dan yang satunya lagi selalu mendengar ucapan-ucapan yang buruk, maka molekul-molekul air dari dua gelas tersebut menjadi berbeda. Air di gelas yang selalu mendapat emosi-emosi yang positif akan memiliki molekul air yang berkilau seperti berlian. Sementara air yang selalu mendapat emosi-emosi negatif akan memiliki molekul air yang tak beraturan.

Oleh sebab itu air juga sering digunakan sebagai media pengobatan dan pemberkahan. Caranya hanya dengan mentransmisikan emosi-esmosi positif dengan mengucapkan hal-hal yang positif, termasuk pembacaan kata-kata dari kitab suci. Dalam konteks Buddhis, pemberkahan dengan menggunakan air yang diiringi lantunan syair-syair Pali sudah umum dilakukan.

Karena sifat air yang sangat dengan mudah menangkap emosi-emosi dari luar ini, maka kita harus menjaga diri baik-baik. Tubuh manusia sendiri terdiri unsur-unsur air yang begitu banyak. Maka, ketika kita berada dalam lingkungan yang kurang baik, ucapan-ucapan kasar dan jorok sering terdengar, tubuh kita juga akan mudah menyerap unsur-unsur negatif dari luar tersebut. Oleh karena itu kita harus menempatkan diri di dalam pergaulan yang baik.

Egois

Kebanyakan manusia adalah egois. Keegoisannya terlihat jelas ketika manusia dengan mudahnya mengkambinghitamkan orang lain atau makhluk lain atas kesalahan atau kelalaian yang dibuatnya sendiri. Manusia memiliki sifat yang sulit untuk mengalah dan menerima kekurangannya, namun suka menuduh pihak lain sebagai penyebab kesalahannya.

Ketika manusia berbuat salah, melakukan perbuatan yang berdosa, kebanyakan manusia dengan mudahnya menuduh makhluk lain sebagai penyebabnya. Manusia menuduh iblis, setan, atau mara sebagai penghasut dirinya. Manusia sulit menerima bahwa sebenarnya dirinya sendiri yang lalai. Dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol pikiran dan perbuatannya sendiri.

Padahal iblis, setan, atau mara tersebut sejatinya adalah kotoran batinnya masing-masing. Ketika seseorang diliputi dengan keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin, maka sifat-sifat iblis, setan, atau mara tersebut ada di dalam dirinya. Dia sendiri yang menciptakan semua itu.

Kebanyakan manusia juga sungguh egois, menyalahkan orang lain sebagai penyebab kebejatannya. Ada orang yang memperkosa wanita, yang disalahkan wanitanya karena caranya berpakaian. Ribuan orang beramai-ramai memprotes atribut keagamaan agama lain karena dianggap mengganggu keimanan mereka. Sifat egois yang semacam ini sangat lucu. Kita tak mungkin mengubah dunia luar sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita tak mungkin mengatur seluruh wanita untuk berpakaian seperti yang kita mau. Namun kita bisa mengendalikan indra kita dalam melihat objek luar supaya kita tidak terjebak dalam kemaksiatan. Kita juga tidak mungkin merubah dunia ini dengan satu pendirian dan satu gagasan. Apalagi satu agama. Setiap manusia memiliki pemikiran dan keyakinan yang berbeda-beda. Makanya jelas tidak mungkin menyamakan mereka atas dasar ego kita. Kalau atribut keagamaan yang mereka pakai mengganggu keimanan kita, yang salah bukan atribut itu, tapi pikiran kita sendiri yang tidak bisa menjaga diri. Ingat, kita tak bisa merubah dunia menjadi seluruhnya berwarna hijau, tapi kita cukup menggunakan kacamata berwarna hijau agar apa yang kita lihat bisa berwarna hijau. Kita juga tidak mungkin menutupi seluruh jalan dengan karpet agar kita tidak menginjak serpihan batu atau kaca. Namun kita bisa mengatasinya dengan cara membuat diri kita sendiri mengenakan sandal atau sepatu supaya tidak menginjak serpihan batu atau kaca.

Pada intinya, jangan mudah menyalahkan orang lain atas kegagalan atau kesalahan yang kita perbuat sendiri. Intropeksilah dan jangan malu untuk mengakui kesalahan. Jangan menyalahkan kerikil ketika engkau tersandung, tapi intropeksilah diri bahwa ini terjadi karena kelalaianmu. Jangan menyalahkan hujan ketika kamu sakit karena kehujanan, tapi intropeksilah bahwa ini karena kelalaianmu sendiri yang tidak memakai payung saat hujan.

Tensi politik

Tensi perpolitikan di Indonesia semakin memanas. Wajah-wajah pemain politik hitam mulai mengganas. Isu-isu untuk menjatuhkan lawan mulai dikemas. Kebencian mulai mengeras. Yang tadinya sebatas pikiran mulai bertransformasi menjadi ucapan dan tindakan yang tidak pantas. Pemirsa politik pun harus sedikit menghela napas. Melihat beberapa yang terkena imbas. Akibat kubu yang saling gilas menggilas.



Politik memang terkadang menggelitik. Isu sara masih menjadi taktik picik. Bagi yang sudah dewasa merasa jijik. Melihat permainannya yang tidak menarik. Sama sekali tidak mendidik. Bukannya bersaing dengan cara yang baik. Tapi malah bersaing secara licik. Tentu itu berujung pada konflik. Kerukunan tercabik-cabik. Persatuan diobrak-abrik.

Kasus-kasus demikian seharusnya menjadi tamparan. Kasus yang pernah terjadi sebelumnya harusnya menjadi pelajaran. Bahwa bermain politik harus tetap berdasar kebenaran. Tidak boleh menyalahi aturan. Perseteruan bukanlah hiburan. Jangan sampai politik berujung pada pertengkaran.

Pepatah mengatakan, “Menanglah tanpa menyingkirkan; Naiklah tanpa menjatuhkan; Menjadilah baik tanpa menjelekkan; dan menjadilah benar tanpa menyalahkan.” Pesan ini harus selalu diingatkan, bahwa kebenaran jangan sampai dikesampingkan. Bersainglah dengan cara yang diperbolehkan.

Jangan karena haus kekuasaan, seseorang menjadi hilang kebijaksanaan. Jangan karena haus kekayaan, seseorang menjadi lupa keadaan. Jangan karena kejayaan, seseorang menjadi tak punya perasaan.

Maaf Idul Fitri

Hari yang fitri telah tiba. Hari di mana kita semua diingatkan kembali untuk saling memaafkan. Dalam perjalanan hidup ini, kita tentu pernah melakukan kesalahan kepada orang lain, entah disengaja atau pun tidak. Oleh sebab itu, di hari ini kita semua serempak untuk saling memaafkan dan memulai hidup di lembaran yang baru tanpa menyimpan dendam kepada siapa pun.

Meminta maaf, bukan perbuatan yang rendah, meskipun terkadang kita tahu bahwa kita tak bersalah. Meminta maaf adalah cara kita untuk sedikit meluluhkan ego yang sering kali mendorong kita untuk merasa paling benar.

Memberikan maaf adalah perbuatan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan memberikan maaf, kita mengeluarkan dendam-dendam dan pikiran-pikiran negatif lainnya dari batin kita. Dan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk bebas dari rasa penyesalan terhadap kesalahan yang mereka pernah lakukan terhadap kita.

Pada intinya, maaf memaafkan adalah cara kita berdamai pada diri sendiri dan orang lain.

Selamat hari raya Idul Fitri untuk saudara-saudaraku yang Muslim dan semuanya yang turut merayakannya. Semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik lagi dengan pikiran yang terbuka, tanpa dendam, dan rukun selalu.

Panasnya kebencian

Panasnya sinar matahari tak sepanas hati yang penuh kebencian, kemarahan dan dendam. Dinginnya hujan tak sedingin hati yang kekurangan cinta kasih, kasih sayang, dan ketulusan. Gelapnya malam tak segelap batin yang dibungkus kebodohan, kefanatikan, dan keegoisan.

Kebencian, kemarahan, dan dendam menjauhkan diri kita dari kedamaian. Sebab pada saat kebencian itu menguat, kebaikan pun akan dinilai buruk dan kebenaran akan dinilai salah. Sebab pada saat kemarahan membakar, sebelum kita melampiaskan kemarahan itu pada orang lain, sesungguhnya kita sendiri telah melukai diri kita sendiri, seperti seseorang yang ingin melempar bola api kepada orang lain, maka sebelum bola api itu mengenai orang lain, bola api itu melukai kita lebih dulu. Sebab ketika dendam menguasai batin kita, kita tak akan benar-benar merasakan tenang. Hawanya ingin membuat orang yang diincar menjadi celaka dan menuai banyak penderitaan.

Dangkalnya cinta kasih, kasih sayang, dan ketulusan membuat kita menjadi manusia super individualis, hanya memikirkan kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain. Cinta kasih bermanifestasi dalam bentuk pikiran mengharapkan orang atau makhluk lain berbahagia. Kasih sayang bermanifestasi dalam bentuk tindakan membantu mengurangi penderitaan orang atau makhluk lain. Sementara ketulusan adalah keikhlasan dan keseriusan dalam melakukan sesuatu, sesuatu yang baik-baik.

Kebodohan, kefanatikan, dan keegoisan membutakan seseorang dalam melihat segala sesuatu sebagaimana mestinya. Kebodohan batin adalah lawan dari kebijaksanaan. Kebodohan batin membuat kita tak bisa memahami sifat-sifat kehidupan, yang sering kali menyebabkan kita menderita karenanya. Kefanatikan adalah lawan dari pikiran yang terbuka. Kefanatikan dapat bermanifestasi dalam bentuk keyakinan yang membabi buta. Akibatnya keyakinan ini membatasi kita untuk menerima pandangan-pandangan lain dari sudut yang berbeda. Dan keegoisan adalah sikap yang didasarkan atas dorongan untuk memenuhi kepentingan pribadi. Tidak ada ruang untuk kepentingan orang lain. Keegoisan ini menjadikan diri kita menjadi manusia egois, ingin menang sendiri, dan merasa menjadi manusia paling benar sendiri.

Maafkan Aku Janapada Kalyani

Maafkan Aku Janapada Kalyani

Cerita ini diadopsi dari Nanda Sutta dan Dhammapada Aṭṭhakathā

Sinar sang baskara kembali memberi kehangatan kepada dunia hari ini. Burung-burung menyambutnya dengan riang. Bunga-bunga bermekaran indah menghiasi kota Kapilavatthu. Langit cerah berhiaskan awan kumulus hari ini mengiringi kebahagianku yang tak dapat kubahasakan menjadi kata. Orangtuaku memang tepat menamakanku Nanda, yang berarti yang bergembira.

Aku sangat beruntung terlahir di keluarga kerajaan. Kebajikan-kebajikan yang kulakukan di kehidupan yang lampau mengantarkanku pada semua keberuntungan dan kebahagiaanku di kehidupan ini. Mengingat kakak sepupuku sekaligus kakak tiriku, Pangeran Siddhattha pergi meninggalkan istana dan sekarang telah menjadi Buddha, aku ditunjuk oleh ayahku untuk menggantikan posisinya sebagai putra mahkota. Aku dan Pangeran Siddhattha memang saudara sepupu. Ibuku dan ibunya adalah kakak beradik. Selain itu, aku dan Pangeran Siddhatta juga bersaudara, karena Raja Suddhodana adalah ayah kami berdua. Ibu pangeran Siddhattha adalah Dewi Maha Maya. Sementara ibuku adalah Maha Pajapati Gotami, adik dari Dewi Maha Maya yang juga merupakan istri kedua dari Raja Suddhodana. Sejak Dewi Maha Maya meninggal, ibuku menjadi istri utama dari raja. Dan sejak saat itu, aku dan Siddhattha mendapat susu yang sama dari ibuku. Secara umur aku hanya beberapa hari lebih muda dari Siddhattha.

Rencananya, di umurku yang ke tiga puluh lima tahun ini, aku akan dinobatkan sebagai putra mahkota sekaligus dinikahkan oleh gadis tercantik sejanapada.
Janapada Kalyani terkenal di segala penjuru karena kecantikannya. Dia adalah gadis perawan tercantik di antara gadis-gadis yang lainnya. Itulah mengapa ia disebut sebagai Janapada Kalyani atu Keanggunan Kerajaan. Banyak pangeran yang menaksirnya. Ia adalah gadis primadona bagi para lelaki. Aku sungguh beruntung bisa mendapatkannya. Bagiku tidak ada gadis yang melebihi kecantikannya. Di adalah nomer satu dan satu-satunya pujaan hatiku.

Hari ini adalah hari tunanganku dengan Putri Janapada Kalyani. Kakak sepupuku, Sang Buddha, hari ini hadir di sini menerima undangan makan. Ini adalah hari ketiga kunjungan beliau ke kerajaan Kapilavatthu setelah pencapaian penerangan sempurna.

Hari sebelumnya kedatangan beliau disambut meriah oleh penduduk kota dan keluarga kerajaan. Ayahnya, Raja Suddhodana sangat merindukannya. Apalagi, mantan istrinya, Yasodhara, sudah begitu berat merindukannya. Anaknya, Rahula, yang ditinggal pergi saat kelahirannya, akhirnya bertemu dengan ayahnya untuk yang pertama kali.

Hari ini juga sama dengan sambutan itu. Bahkan lebih meriah, sebab setelah mendengar khotbah-Nya, orang-orang di istana memperoleh keyakinan yang kokoh terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha. Apalagi hari ini adalah hari pernikahanku dengan Janapada Kalyani. Di momen yang spesial ini, kita semua sangat bahagia menyambut kedatangan Buddha bersama murid-muridnya.

Kami melayaninya dengan penuh hormat dan menjamunya dengan makanan-makanan yang disajikan dengan apik. Ada makanan keras dan makanan lunak yang sengaja kami persiapkan dengan kualitas yang terbaik. Setelah perjamuan dirasa cukup, Sang Buddha memberikan mangkuknya kepadaku untuk kubersihkan. Aku membersihkannya dengan tanganku sendiri. Tapi aku tak mengerti, mengapa Sang Buddha tidak mengambil mangkuknya lagi dan bergegas meninggalkan kerajaaan. Mangkuk itu masih berada di genggaman tanganku.

“Ah mungkin Sang Buddha akan mengambil mangkuk-nya di pintu gerbang istana,” pikirku.

Dan aku masih tetap berjalan mengikuti-Nya sambil membawakan mangkuk-Nya di tanganku. Aku berjalan perlahan, dengan penuh hormat, menuju pintu gerbang istana.

Melihatku berjalan mengkuti Sang Buddha, terlihat samar-samar Putri Janapada Kalyani berlari mengejarku. Tangannya melambai-lambai dan berteriak “Sayangku. Jangan kau pergi terlalu lama. Kembalilah dengan segera.”

Aku menoleh sebentar dan menganggukkan kepala, sebab kalau aku membalasnya dengan teriakan aku takut suaraku mengganggu Sang Buddha. Aku hanya tersenyum kecil, karena aku juga menghargai Sang Buddha dan murid-muridnya yang berjalan dengan ketenangan.

Aku masih berjalan mengikuti-Nya. Kita sudah melewati gerbang istana, namun rupanya Sang Buddha tidak mengambil mangkuknya dari tanganku. Beliau tetap berjalan. Aku takut dan sungkan untuk memberikannya di pertengahan jalan. Akhirnya kuputuskan untuk terus mengikuti-Nya hingga akhirnya kita sampai di vihara. Sesampainya di vihara, aku persembahkan kembali mangkuk itu kepada-Nya.

“Sang Buddha, ini mangkuk Sang Buddha,” ucapku lembut dengan penuh hormat sambil menyodorkan kedua tangan ini di hadapan-Nya.

Saat menerima mangkuk itu, Sang Buddha bertanya kepadaku “Nanda. Apakah kamu mau jadi bhikkhu?”

Aku pun terkejut dan terdiam kaku. Namun karena rasa hormat ini, aku sungkan untuk menolak. Berat sekali untuk mengatakan ‘Maaf Bhante, aku tidak bisa, karena Janapada Kalyani menungguku.” Mulutku pun akhirnya mengatakan “Iya Bhante.”

Hari ini juga aku ditahbis menjadi bhikkhu. Aku kini telah memakai panji suciwan yang membuatku dihormati oleh banyak orang. Tapi bukannya malah senang bisa menjadi bhikkhu dan ditahbis oleh Sang Buddha sendiri, aku malah merasa menyesal karena aku telah meninggalkan tunanganku sendirian, menantiku untuk pulang segera. Wajah cantiknya terngiang-ngiang dalam hatiku.

Malam demi malam kulalui. Namun aku tak bisa menggenggam rindu yang begitu hebat ini. Aku ingin meleburkan rindu ini dengan temu. Rindu ini hanya untuk Janapada Kalyani. Aku rindu dengan senyumannya. Aku rindu tuk membelai rambut ikalnya. Aku ingin mencubit pipinya. Aku tak mampu melepaskannya. Dalam setiap diamku, rindu ini selalu muncul dan menggerogoti ketenanganku.

Aku memang bukanlah bhikkhu sebagaimana bhikkhu dengan arti yang sebenarnya. Saṃsāre bhayaṃ ikkhatīti bhikkhu. Bhikkhu adalah dia yang melihat ketakutan akan lingkaran tumimbal lahir. Tujuannya menjadi bhikkhu adalah untuk terbebas dari lingkaran samsara. Sementara aku masih terlalu duniawi. Meskipun aku memiliki keyakinan yang kuat terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha, namun aku masih terikat pada kesenangan duniawi. Hanya dia yang memenuhi seluruh isi otakku. Dia, Janapada Kalyani.

Belum lama menjadi bhikkhu, aku sungguh tersiksa dengan pikiranku sendiri yang merindukan Janapada Kalyani. Aku ingin kembali ke kehidupan semula. Aku ingin lepas jubah dan kembali membangun kehidupan rumah tangga dengan gadis pujaanku. Aku tak pantas mengenakan panji suciwan sementara batinku merindukan keelokan Janapada Kalyani.

Aku yakin Janapada Kalyani juga merasakan hal yang sama seperti yang kualami. Aku tak mau menanggung kerinduan ini sendirian. Aku cemas, resah, dan galau memikirkan ini. Hari-hariku menjadi murung dan tak bersemangat.

“Avuso. Ada apa dengan dirimu? Kau tampak gundah gulana memikirkan sesuatu.” Para bhikkhu bertanya kepadaku setelah melihatku murung belakangan ini.

“Tidak apa-apa Bhante,” jawabku lesuh.

“Beneran? Tapi kamu tampak memikirkan sesuatu?”

“Iya Bhante. Sebenarnya aku selalu terngiang-ngiang dengan pesan tunanganku untuk pulang segera. Aku ingin menepati janjiku. Aku ingin kembali ke kehidupan seperti semula.”

Sang Buddha ternyata telah membaca pikiranku. Di samping itu, para bhikkhu akhirnya juga melaporkan kegelisahanku ini. Maka dari itu, Beliau tahu bahwa aku sudah tidak betah menjalankan praktik suci ini.
Beliau hari ini memanggilku karena ada sesuatu yang ingin beliau tunjukkan. Aku menemuinya dengan penuh hormat, berusaha mungkin menutupi kegelisahan ini.

“Nanda. Apakah kamu terngiang-ngiang dengan tunanganmu?” tanya Sang Buddha kepadaku.

Aku terkejut. Padahal aku belum memberitahukan hal ini kepada-Nya.

“Iya Bhante. Aku selalu teringat dengan tunanganku yang memanggilku untuk segera pulang,” jawabku dengan muka menunduk, sebab sekarang aku tak bisa menyembunyikan kegelisahan ini lagi. Ini mungkin saatnya, aku harus terang-terangan supaya diizinkan lepas jubah dan kembali ke istana.

Tiba-tiba beliau memegang tanganku dan sesaat aku bak tak sadarkan diri. Perlahan aku membukakan mata dan ternyata kusadari bahwa Sang Buddha mengajakku ke dunia lain. Beliau membawaku menuju alam devata Tavatimsa. Dalam perjalanan, Sang Buddha menunjukkanku hutan yang terbakar di mana terdapat seekor monyet rakus yang sedang duduk di atas dahan yang terbakar. Telinga, hidung, dan ekornya juga terbakar pula. Jelek dan tak enak dipandang.

Secepat kilat bagaikan satu kali kedipan mata, aku dan beliau kini sampai di surga Tavatimsa. Luar biasa indahnya surga Tavatimsa. Dari sini kulihat Deva Sakka, raja para dewa, sedang dikerumuni oleh ratusan bidadari cantik. Beberapa kali aku mengucek kedua mataku dan mencubit diriku sendiri, ternyata ini bukanlah mimpi. Aku benar-benar melihat bidadari-bidadari cantik. Kecantikan para penari istana hanyalah olesan kosmetik, sementara mereka terlihat seperti alami. Luar biasa cantiknya. Kulitnya bercahaya cemerlang.

“Nanda. Tidakkah kau lihat lima ratus bidadari cantik yang mengerumuni Dewa Sakka itu?” tanya Sang Buddha kepadaku.

“Saya melihatnya Bhante,” aku menjawabnya dengan penuh kekaguman dan sedikit gugup sebab aku belum pernah melihat kecantikan seperti itu.

“Lebih cantik mana tunanganmu dengan para bidadari itu?”

“Tentu cantikan para bidadari itu Bhante. Janapada Kalyani tidaklah sebanding dengan mereka. Ia hanya seperti monyet malang yang terbakar hidung dan ekornya yang kita lihat sewaktu perjalanan.”

“Kamu mau para bidadari itu menjadi milikmu?”

“Tentu saja Bhante. Satu bidadari saja bagiku luar biasa, apalagi kalau bisa mendapatkan lima ratus bidadari itu.”

“Beruntunglah kau Nanda. Kau bisa mendapatkan mereka semua apabila kamu mau berjuang keras dan bertahan menjadi bhikkhu.”

“Sungguh? Semua? Kalau begitu saya mau tetap menjadi bhikkhu.”

Setelah pulang dari alam dewa itu, aku kini semakin lebih giat menjalani praktik sebagai bhikkhu. Aku ingin tetap menjadi bhikkhu. Bagiku Japada Kalyani tidaklah seberapa dengan para bidadari itu. Aku berharap semoga aku bisa mendapatkan bidadari-bidadari itu, seperti dewa Sakka, raja para dewa, yang memiliki keberuntungan itu. Aku ingin tetap menjadi bhikkhu supaya tujuan itu tercapai.

Berita bahwa aku menjadi bhikkhu dengan tujuan mendapatkan bidadari-bidadari cantik telah menyebar ke para bhikkhu yang lain. Bukannya tanggapan baik, tapi malah tanggapan buruk yang kuterima. Banyak celaan dan hiaan dilontarkan kepadaku.

“Selamat pagi bhikkhu sewaan, rendahan,” para bhikkhu muda itu meledekku.

“Apa kau bilang? Bhikkhu buruh harian, rendahan?” Kemarahanku sudah di batas ubun-ubun. Aku marah.

“Iya. Kamu kan menjadi bhikkhu hanya untuk mendapatkan bidadari-bidadari cantik. Ha ha ha.” Sambil tertawa mereka pergi meninggalkanku.

Aku terpukuk malu. Kusadari memang demikian. Aku malu dengan ejekan mereka. Sungguh malu. Aku tak tahu di mana aku harus meletakkan mukaku. Aku putuskan untuk menyendiri. Aku pergi ke tempat terpencil dan kupusatkan perhatianku pada objek meditasi yang kupilih. Aku ingin melepas semua keinginan konyol itu. Aku akan berjuang untuk menjadi bhikkhu yang sesungguhnya.

Setelah aku berjuang dengan sunguh-sungguh, akhirnya aku pun dapat menembus kebenaran ini. Aku berhasil membabat tuntas kilesa hingga akar-akarnya dan menjadi arahat. Kelahiran telah kuhancurkan. Kehidupan suci telah kujalani. Apa yang harus kulakukan telah kulakukan. Aku tidak akan dilahirkan kembali di tempat mana pun juga.

Pada malam ini pula, aku pergi menuju kuti Sang Buddha untuk memberitahu kabar gembira ini. Rupanya Sang Buddha sudah tahu, karena sesosok dewata telah memberitahukannya.
Setelah melakukan penghormatan kepadanya, aku duduk bersimpuh dan menceritakan semua ini.

“Bhante. Saya telah membebaskan Sang Tathagata dari janji yang menggaransikan aku untuk mendapatkan lima ratus bidadari apabila aku tetap menjadi bhikkhu.”

“Nanda. Aku pun sudah tahu. Aku mengetahui pikiranmu dan melihat bahwa kau telah melenyapkan kekotoran batin dalam kehidupan ini, menembus, merealisasikan, mencapai tujuan tertinggi, seimbang, dan bijaksana. Begitu kau terbebas dari ikatan-ikatan keinginan duniawi, dan telah merealisasi tujuanmu, pada saat itu pula aku terbebas dari janjiku.”

Sang Buddha berkata bahwa aku bagaikan atap bocor yang sudah diperbaiki. Sejak aku menjadi bhikkhu dengan berkeinginan untuk mendapatkan lima ratus bidadari, kini aku telah terbebas darinya dan telah mencapai apa yang harus kucapai sebagai bhikkhu. Tentu, tujuan itu bukanlah Janapada Kalyani ataupun lima ratus bidadari itu, tetapi Nibbāna yang telah kurealisasi saat ini. Janapada Kalyani memang cantik. Begitu juga para bidadari itu. Tapi Nibbana melebihi semua itu. Maafkan aku Janapada Kalyani. Semoga kau memahamiku dan mampu menjadi sepeti aku.

Note: Pada akhirnya Janapada Kalyani juga menjadi bhikkhuni dan mencapai arahat.

Memilih Tertawa

Bagi sebagian orang, tertawa kadang menjadi pilihan untuk menyembunyikan derita yang tak perlu diumbar dan dibesar-besarkan. Tujuannya supaya kelihatan bahagia padahal sesungguhnya ia hanya tak ingin membuat orang lain menderita karena dirinya. Ia hanya tak ingin mengajak orang lain menderita. Makanya, dengan semampu mungkin ia tetap tertawa meski sesungguhnya ia sedang menahan derita. Derita yang tak tega untuk disebarluaskan.

Beberapa orang memilih tetap tertawa meski sesungguhnya terluka, hanya karena berpikir dengan tertawa mereka bisa menutupi luka, meski hanya sebentar. Memilih tertawa sebagai pengalihan suasana.

Sebagian lagi memilih tertawa karena mereka sadar bahwa mengeluh pun tak ada gunanya. Menangis dan meratap pun bukanlah solusi untuk mengakhiri permasalahannya.

Dan pada umumnya orang-orang tertawa karena kebahagiaan.

Tertawa ketika diri sendiri menderita lebih baik daripada tertawa di atas penderitaan orang lain. Meskipun tawa itu palsu, setidaknya ia tak membuat orang lain khawatir dengan dirinya. Seperti seorang ibu yang selalu berkata 'baik-baik saja' ketika ditanya anaknya, hanya karena tak ingin membuat anaknya turut menderita. Ia bersikap seolah baik-baik saja, meskipun dalam hatinya mengeluh tak kuasa. Namun seorang ibu tak mengumbar keluhannya supaya tidak membebani orang-orang di sekitarnya.

Semua orang sama, sama-sama tak ingin menderita, tak ingin dihina dan direndahkan. Tapi kenyataannya, dalam perjalanan hidup, akan ditemui berbagai macam penderitaan, hinaan, dan celaan. Terkadang bukan karena ia hebat, saat dicela dan dihina ia tetap tegar. Tetapi karena dia tahu bahwa dengan marah juga tak membantu menyelesaikan persoalan. Kemarahan bukanlah solusi, tapi malah memperkeruh permasalahan. Makanya beberapa orang yang sedang dalam situasi demikian, memilih tertawa semata-mata tak ingin menambah derita. Semata-mata ingin mengabaikan omongan orang lain karena ia sadar bahwa hidup bukan untuk menuruti semua omongan orang-orang yang begitu banyak. Hidup juga butuh prinsip yang kokoh dari hinaan yang bisa datang dari berbagai sisi.

Dalam gambar ini, tampak dua orang sedang tertawa saat dihina orang lain, 'Botak..botak..botak'.
Mereka tertawa karena sesungguhnya mereka tidak botak, tapi hanya gundul. Botak dan gundul itu berbeda loh. Dibuat enjoy saja. Jangan dipersulit hidup ini.

Kita berada di zaman di mana kita dan banyak orang lainnya lebih suka menutupi keburukan dengan bungkus yang indah supaya tidak kelihatan buruknya. Kita membungkus keburukan itu dan menghiasnya sedemikian rupa. Kita juga membungkus penderitaan dengan kesenangan-kesenangan sesaat supaya penderitaan itu tertutupi. Dan kita tidak sadar bahwa bungkus yang kita gunakan untuk menutupi itu adalah penyebab penderitaan-penderitaan baru yang kelak akan menyebabkan penderitaan yang berlipat-lipat. Akibatnya bukannya melenyapkan penderitaan itu, kita malah menumpuk penderitaan lama dengan penyebab-penyebab penderitaan yang baru.

Sampah yang menumpuk dan tergenang oleh air sungai menyebabkan air sungai itu menjadi keruh dan berbau tidak sedap. Kebijakan yang mesti diambil adalah menghilangkan penyebab-penyebabnya, yakni dengan membersihkan sampah-sampah yang tergenang oleh air dan menjaga kebersihan di sekitar sungai itu. Dengan begitu air sungai menjadi tidak tercemar dan tidak menimbulkan bau yang tidak sedap.



Keinginan yang menumpuk dapat memperbudak kita untuk menuruti keinginannya. Akhirnya kita menderita sebab tidak semua keinginan pasti akan terpenuhi. Tidak tercapai apa yang kita inginkan adalah penderitaan. Makanya kunci untuk mengurangi penderitaan adalah dengan mengurangi keinginan hingga sedikit mungkin, sebab sedikit keinginan adalah kunci kebahagiaan.

Namun sebagian dari kita lebih senang menutupi sebab-sebab sungai-sungai keruh dan bau tak sedap itu dengan cara membungkusnya sedemikian rupa supaya tidak terlihat begitu menjijikkan. Bukannya membersihkan sampah-sampah yang menyebabkan air keruh dan bau, sebagian dari kita malah memilih menutupi sungai itu dengan bungkus yang indah supaya keruh air dan bau tak sedapnya tidak kelihatan. Sebagian dari kita memilih kebjikan tak bernalar ini. Padahal, sampai kapan pun, keburukan meskipun dibungkus atau ditutupi dengan apapun tetaplah keburukan. Bungkus itu tak akan mengubah sifat alami keburukan. Lambat laun keburukan itu akan terbongkar dengan sendirinya. Sama halnya, air yang keruh dan bau tak sedap itu, sekalipun dibungkus dengan cara apapun, dikasih pengharum sekali pun, tak akan mengubah sifat alami dari air yang keruh dan berbau itu. Lama kelamaan keburukan itu juga akan terbongkar dan bahkan bisa menyebabkan keburukan yang berlipat-lipat.

Sebagian dari kita juga memilih menutupi penderitaan-penderitaan dengan melibatkan diri pada kesenangan-kesenangan indera. Padahal, penderitaan yang kita biarkan atau kita tutupi tak akan lenyap dengan sendirinya. Kesenangan-kesengan indera yang kita coba lakukan bukanlah solusi menghakhiri penderitaan. Itu hanya menutupi penderitaan-penderitaan lama dengan penyebab-penyebab penderitaan baru yang belum bermanifestasi menjadi penderitaan. Akibatnya kita malah menumpuk penderitaan itu lagi dan lagi.

Ada empat cara untuk memahami penderitaan hingga melenyapkannya:
Pahami penderitaan sebagaimana adanya
Pahami sebab-sebab penderitaan itu
Ketahui akhir atau lenyapnya penderitaan itu
Dan terapkanlah jalan menuju lenyapnya penderitaan itu

Tidak menyediakan keabadian

Fenomena alam yang sering kita jumpai;
Fenomena di mana seseorang sudah pacaran bertahun-tahun tapi pada akhirnya menikah dengan orang lain. Sementara yang sudah menikah dan memakan banyak biaya pada saat resepsi akhirnya kandas di tengah jalan.

Fenomena di mana seseorang sudah menjadi samanera bertahun-tahun, tapi pada akhirnya terseleksi alam dan kembali ke kehidupan awam. Sementara yang sudah menjadi bhikkhu bertahun-tahun akhirnya juga terseleksi oleh alam dan kembali menjadi umat awam.



Sifat kehidupan tentang ketidakkekalan memang tak bisa ditawar. Hukum ketidakekalan menggilas ketetapan atau keajekan. Jadi, tak ada yang abadi.

Sesungguhnya tidak ada cinta yang abadi. Karena dalam perjalanannya, kekuatan cinta itu akan mengalami pasang surut. Orang-orang bisa mempertahankan hubungan mereka hingga kakek nenek bukan karena cinta mereka abadi dan ajek tak berubah. Tapi karena pasangan itu saling mengisi kekurangan, menguatkan di saat yang satu lemah, dan saling memahami ketidaksetujuan. Makanya mereka bisa bertahan menghadapi gelombang ketidakajekan dan mampu bertahan dalam setiap keadaan.

Sesungguhnya tidak ada semangat yang ajek dan kekal. Dalam perjalanannya, kadar semangat itu kadang menurun. Seperti itu juga semangat seseorang dalam menjalani kehidupan pabajita. Mungkin saja ada saat di mana kadar semangat itu menurun dan akhirnya enggan untuk melanjutkan kehidupannya. Ada banyak bhikkhu-bhikkhu (puthujjana) yang mampu bertahan hingga mereka menutup usia. Mereka bisa begitu bukan karena semangat mereka kekal dan abadi, tapi karena mereka bisa mengatasi gelombang kehidupan yang terkadang pasang dan surut. Sahabat-sahabat mereka saling menyemangati satu sama lain ketika semangat itu mengendur hingga akhirnya mereka mampu bertahan dan mampu melewati setiap rintangan yang mereka hadapi.

Pepatah mengatakan ‘badai pasti berlalu.’ Artinya segala rintangan yang menghadang pun pada akhirnya juga akan berlalu. Seperti pula hujan. Hujan pasti akan mereda kalau sudah waktunya. Tak mungkin hujan akan selamanya hujan dan tak mungkin panas akan selamanya panas. Demikian pula dengan cinta dan semangat. Ada saat di mana mereka akan menguat, namun juga akan ada saat di mana mereka melemah.

''Cintaku padamu tak akan pernah berubah'' adalah frasa kosong karena di dunia yang serba tidak kekal tak mungkin menyediakan keabadian cinta. Apalagi perasaan, sangat riskan sekali dengan perubahan.

''Semangatmu tak pernah mengendur'' adalah frasa dengan majas yang terlalu berlebihan, sebab dunia yang berisi pasang dan surut ada kemungkinan bagi semangat untuk mengendur, meskipun kadarnya tak bisa dipastikan.

Marah

Marah itu seperti memegang bola api dengan harap melukai orang lain. Jauh sebelum bola api itu dilemparkan, bola api itu telah lebih dulu melukai yang memegang. Sama halnya kemarahan, jauh sebelum seseorang melontarkan kata-kata kasar kepada orang lain, ia sesungguhnya sudah terlukai lebih dulu oleh kemarahannya sendiri.



Ketika orang lain menghina kita, mereka tidak sedang membuat kita menjadi hina. Makanya jangan sekali-sekali meresponnya dengan kemarahan. Sebab, ketika kita marah, mereka telah membuktikan bahwa kita memang hina. Kemarahan kita yang menyebabkan kita menjadi hina, bukan omongan mereka.

Hinaan, celaan, dan segala keburukan lainnya yang dilemparkan kepada kita jangan diterima. Namun menolaknya bukan dengan kemarahan. Cukup jangan diterima dan biarkan hinaan, celaan, dan apa pun itu kembali diambil si pemilik atau si pelempar. Seperti ketika seorang tamu tidak mengambil atau memakan hidangan yang disajikan oleh tuan rumah, maka semua hidangan itu akan kembali menjadi milik tuan rumah. Seperti itu pula cacian, hinaan, dan hal-hal buruk lainnya yang tidak kita terima akan kembali menjadi milik pemberi.

Jangan balas orang yang membenci kita dengan benci juga. Karena ketika kita membalasnya dengan benci, mereka tak akan butuh, sama seperti ketika mereka membeci kita, kita sama sekali tak butuh benci itu. Lagi pula, jalan mengakhiri kebencian bukanlah dengan cara membenci balik. Kebencian hanya akan berakhir bila dibalas dengan cinta kasih. Itu sudah hukumnya. Seperti api yang akan padam kalau disiram air, bukan dengan bensin. Kebencian juga akan padam kalau disiram dengan cinta kasih.

Senja

Senja pun menghitam bercampur aura keemasan yang memberikan keindahan yang syahdu. Di antara mega-mega, siluet jingga menyampaikan selamat tinggal kepada bumi melalui diamnya. Perlahan malam pun beranjak menghitamkan langit-langiṭ dan menggantikan surya dengan bintik-bintik cahaya bergemintang.
Senja adalah memorabilia sebab ia menginspirasi para pujangga untuk melengkapi sajak-sajak yang kurang, serta mengekspresikan gagasan dengan cara yang berbeda, menggambarkan suasana dengan kata-kata yang tak biasa. Kekaguman, kebahagiaan, kecemasan, kekhawatiran pun diolahnya menjadi karya yang menginspirasi.

Ingin bahagia

'Aku akan bahagia kalau aku ...' adalah penyataan klise yang sudah kerap kali kudengar, berulang-berulang dengan nada yang sama.

Kebanyakan dari kita memang begitu, suka menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang kita inginkan. Akibatnya kita tak benar-benar bahagia, sebab kita meletakkan kebahagiaan kita pada sesuatu yang diluar. Kita tak benar-benar bahagia sebab kita menaruh kebahagiaan sebagai sebuah tujuan. Padahal, kebahagiaan bukanlah tujuan, melainkan bagaimana kita menerima dan menikmati prosesnya. Jadi kalau seandainya tujuan kita tak tercapai, setidaknya kita pernah bahagia dengan prosesnya.

Senja sore ini mengajarkanku menerima proses. Sebab, kebahagiaan tak selalu di titik akhir dari sebuah usaha. Dalam prosesnya, kita bisa menikmatinya, menerimanya, dan berbahagia.

Seperti aku yang berbahagia di sudut kota ini, meski pun aku sadar bahwa 'membumikan langit' adalah tujuan yang sulit. Namun aku bahagia, sebab kalaupun aku tak mampu membumikan langit, setidaknya aku pernah menikmati prosesnya. Membumikan langit adalah bahasaku dalam memungkinkan ketidakmungkinan.

Dibungkus dengan kelapukan

Kehidupan ini dibungkus dengan kelapukan dan kesementaraan. Tak ada yang abadi, karena setiap momen segalanya mengalami proses perubahan. Perubahan demi perubahan ini menyebabkan kelapukan yang tak bisa kita tolak. Jasmani ini berproses setiap saat menuju ketuaan dan akhirnya kematian pun tak bisa dihindarkan.

Sering kali kita membanggakan kekuatan fisik, namun ketika ketuaan telah tiba, bahkan untuk menggerakkan tangan pun terasa berat. Seluruh tubuh gemetaran menanggung beban yang tak seimbang dengan tenaga. Sering kali kita membaggakan kecantikan fisik, namun ketika usia sudah tak lagi muda, kulit yang kencang pun berangsur-angsur mengkerut hingga paras yang tadinya cantik pun berubah menjadi penuh kerutan yang tak merata.

Inilah sifat kehidupan yang mesti dipahami bahwa hidup ini sementara dan terjerat kelapukan. Sebagaimana bunga yang terlihat cantik dan memesona ini, yang tak lama kemudian akan hancur menggugurkan satu persatu lembaran bunganya, demikian kehidupan ini juga akan lapuk dimakan usia dan ketuaan yang tak bisa kita hindari.

Jangan bersedih

Mengapa harus bersedih di saat angin permasalahan bertiup kencang menggoyang-goyangkan hidup kita? Bukankah kita tahu bahwa semakin tinggi pohon semakin besar pula anginnya? Iya, memang hidup juga begitu. Semakin hidup kita tumbuh tinggi, semakin besar pula tantangan yang harus kita hadapi. .
.
Bila ada yang tidak suka itu wajar. Karena suka atau tidak suka adalah pilihan. Tapi jangan karena orang lain tak menyukai kita, lantas kita malah membecinya. Tidak suka tidak boleh dibalas dengan membenci. Sampai kapanpun membenci itu akan merusak - menyiksa batin sendiri dan orang lain. Biarkan saja yang tidak suka biar tidak suka, yang tidak setuju biar tidak setuju. Karena hidup tidak selamanya harus menyetujui pendapat semua orang yang begitu banyak. .
.
Kenapa harus bersedih di saat begitu banyak permasalahan yang sengaja dilemparkan ke kita? Bukankah kita juga tahu bahwa pohon yang berbuah lebat lebih sering menjadi sasaran anak-anak untuk melempari batu? Iya, hidup kita juga begitu. Semakin kita bermutu, semakin banyak pula yang menggerutu. Selalu akan ada saja yang tak setuju. Menunjukkan iri hatinya karena memang tak mampu.
.
.
Ketika permasalahan-permasalahan datang bertubi-tubi, jangan bersedih serasa tak berdaya. Ingatlah bahwa hidup ini memang tidak kekal. Permasalahan-permasalahan itu pun juga tidak kekal. Semuanya pasti akan berlalu seiring berjalannya waktu.

Berisi penderitaan

Hidup ini memang penuh penderitaan. Berisi banyak perubahan yang sering kali menyebabkan ketidaknyamanan dan ketidakpuasan. Tapi menderita atau tidak sebenarnya adalah pilihan. Kita memang tak bisa merubah dunia yang memang sifatnya mengandung banyak perubahan. Tapi kita bisa mengendalikan diri kita untuk tidak menderita karena perubahan. .
.
Setiap perubahan harus dipahami sebagai perubahan. Cukup memahami perubahan tanpa harus menyesali dan terbebani olehnya.
.
.
Yang membuat kita menderita sebenarnya bukan karena perubahan itu, tapi karena ketidakterimaan kita dalam menyikapi perubahan. Kita menderita karena kita menginginkan apa yang sudah nyaman tidak boleh berubah, apa yang kita senangi tak boleh berubah, dll. Tapi faktanya kenyataan menggilas semua keinginan kita itu. Faktanya tak ada yang abadi dalam hidup ini. Semuanya harus berproses menuju perubahan. .

Jangan mengedepankan protes

Yang tidak memahami bahwa hidup ini adalah proses, sering kali mengedepankan protes. Proses itu berarti berubah, berjalan, dan maju sedikit demi sedikit. Tidak instan atau tiba-tiba. Sementara protes adalah tindakan tidak menyetujui pada kenyataan yang ada. Sikapnya memberontak.
.
.
Pendewasaan seseorang juga proses. Memang benar, usia tidak menjamin seseorang berpikir dewasa. Namun pemikiran dewasa memerlukan waktu untuk proses. Seperti pemikiran anak-anak dengan orang dewasa tentu berbeda. Kebutuhan mereka berbeda dan cara berpikir mereka juga berbeda. .
.
Lingkungan dan pengetahuan seseorang memengaruhi pendewasaan seseorang. Usia saja tak cukup membuat orang menjadi dewasa. Lingkungan dan pengetahuan memiliki peran penting dalam membentuk kedewasaan seseorang. Orang yang tinggal di lingkungan orang-orang dewasa akan mudah terbentuk menjadi dewasa dalam cara berpikirnya. Orang yang berpengetahuan luas, juga akan mudah menyesuaikan dirinya pada posisi yang selayaknya. .
.
Maka lihatlah proses terlebih dahulu sebelum mendahulukan protes. .

Jangan berlarut2 dalam kesedihan

Air mata adalah cara seseorang membahasakan luka yang tak bisa dimengerti dengan kata. Mulut sering kali bisa berbohong, dan bibir dengan segera menutupinya dengan senyuman seolah-olah tak ada apa-apa. Namun hati tak bisa membohongi. Luka itu menyebabkan bendungan di sudut matanya menyerah tak mampu menahan air mata kesedihan.
.
.
 Menangislah sebentar tak apa. Tapi jangan berlarut-larut dalam kesedihan itu. Percayalah waktu akan memulihkannya hingga semuanya akan baik-baik saja. Yang harus kamu ingat adalah bahwa hidup adalah tidak kekal. Perpisahan adalah pasti. Entah berpisah karena kematian atau berpisah karena ketidakcocokan. .
.
Kalau enggak sekarang, suatu hari nanti kamu kan mengerti sifat kehidupan ini. Kehidupan yang berisi ketidakkekalan, ketidakpuasan, dan kekosongan dari entitas abadi. Kamu kan mengerti bahwa ketidakkekalan mengajarkan kesementaraan. Bahagia dan derita sifatnya juga sementara, datang silih berganti. Bahkan hidup ini pun sementara. Hanya singgah di kehidupan sebagai manusia yang sangat singkat, rata-rata tidak lebih dari seratus tahun. Ketidakpuasan mengajarkan bahwa hidup berisi banyak keinginan yang menyebabkan penderitaan. Tidak tercapai apa yang diinginkan, berpisah dengan orang yang cintai dan berkumpul dengan orang yang tidak disukai adalah derita. Maka dengan mengurangi keinginan, penderitaan juga berkurang. Suatu saat kamu kan menyadari bahwa hidup ini tidak ada entitas yang abadi. Dalam tubuh ini pun tak ada yang abadi. Semua hanya perpaduan unsur jasmani dan batin. .

Jangan menyalahkan siapapun

Jangan menyalahkan siapapun atas ketidaknyamanan yang kau dapat. Atau  sekali-sekali menuduh orang lain atas permasalahan yang menimpamu. Kau bukanlah korban ketidakadilan hidup ini. Tapi kau harus menerima konsekuensi ini.
.
.
Hidup ini memang penuh resiko. Resiko dari adanya kelahiran adalah kematian. Resiko dari adanya pertemuan adalah perpisahan. Siapapun juga, yang telah dilahirkan pasti akan mati dan yang telah bertemu pasti akan berpisah. Setiap engkau membuat sebabnya, maka akan kau terima akibatnya. .
.
Hidup bukanlah hukuman dan kutukan. Jalanilah dengan lapang dada, tanpa menyalahlan siapapun. Daun saja tak menyalahkan angin yang menggugurkannya. Tumbuhan tak menyalahkan matahari yang mengeringkannya. Dan rumput tak menyalahkan air yang menenggelamkannya. .
.
Pada intinya, hidup berisi ketidakkekalan. Semua yang muncul pasti akan lenyap.

Kamu kan mengerti

Akhirnya kamu kan mengerti bahwa berbahagia di atas kebahagiaan orang lain adalah keharusan bagimu. Sesakit apapun yang kau derita, sesedih apapun yang kau rasakan, dan selemah apapun engkau tanpanya, pastikan engkau bahagia melihat kebahagiaannya. .
.
Jangan merusak kebahagiaan orang lain hanya karena sakit hatimu. Jangan pula merusak kebahagiaanmu sendiri karena  sikapmu terhadap masa lalu.
.
.
Apapun yang terjadi, kehidupan harus tetap berlanjut. Karena waktu tak bisa dihentikan meski hanya sekejap. Tak mungkin bisa diulang kembali. Waktu terus berjalan. Kau tak akan mungkin menginjakkan air yang sama di sungai yang mengalir. Seperti itu pula, engkau tak akan mungkin mendapatkan waktu yang sama di dunia ini, di mana waktu terus berjalan tak bisa dihentikan.
.
.
Kehidupan ini tidak menyediakan kesempatan yang sama untuk yang kedua kalinya. Tapi tenang, masih ada kesempatan lain untuk melakukan lagi atau meningkatkan hal-hal baik yang pernah kamu lakukan. Masih ada kesempatan lain untuk memperbaiki kesalahan yang pernah kau perbuat dan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Perlu perjuangan

Pada intinya masa depan yang cerah, kesuksesan, atau keberhasilan memerlukan perjuangan. Tidak ada yang muncul tiba-tiba begitu saja. Segala sesuatu adalah sebab dan akibat. .
.
Jangan hanya mengandalkan pepatah semua akan indah pada waktunya. Karena ternyata waktu saja tak pernah cukup. Diperlukan usaha. Seperti kalau kita menanam bunga, waktu memang dibutuhkan, tapi perawatan juga lebih penting. Tanpa adanya perawatan, tanaman itu bisa saja mati jauh sebelum waktunya. Keberhasilan juga begitu. Perlu usaha dan perjuangan. Kalau tidak, tak akan pernah berhasil. .
.
Ribuan orang telah membuktikannya. Mereka berkerja keras dengan susah payah untuk membangun impian yang telah mereka rencanakan. Jatuh dan bangun telah dialami. Keringat diperah sampai muka memerah. Itu karena mereka sadar, keberhasilan bukanlah rancangan atau desain, tapi hasil dari rancangan itu.

Dinilai dari perbuatannya

Baik dan buruknya seseorang dinilai dari perbuatannya. Orang yang sering berbuat baik disebut orang baik. Orang yang gemar melakukan kejahatan disebut orang jahat.
.
.
Yang disebut perbuatan meliputi tiga pintu, yaitu perbuatan melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Ketika seseorang senantiasa bertindak, berucap, dan berpikir yang baik, maka ia pantas disebut orang baik. Sebaliknya, ketika seseorang bertindak, berucap, dan berpikir yang buruk maka ia pantas disebut orang yang tidak baik. .
.
Kriteria baik dan tidaknya perbuatan bisa dilihat dengan tiga faktor. Perbuatan disebut baik jika itu tidak merugikan diri sendiri, orang lain, dan keduanya. Sebaliknya, perbuatan disebut buruk jika itu merugikan diri sendiri, orang lain dan keduanya. .
.
Satu-satunya cara menjadi orang baik adalah dengan berbuat baik. Yang bisa merubah diri kita menjadi orang baik hanyalah kita sendiri. Orang lain tak mampu merubah kita menjadi baik. Mereka hanya bisa menunjukkan dan mendukung, sementara kita sendiri yang harus berbuat.

Jangan perdebatkan keyakinan

Masihkah kita akan memperdebatkan keyakinan? Kita seharusnya tak membuang-buang waktu untuk memperdebatkan hal yang sama sekali tidak penting. Iya, sangat tidak penting karena keyakinan adalah hak masing-masing individu. Kita tak bisa memaksakan orang lain untuk setuju dengan apa yang kita yakini. Sebab apa yang kita yakini belum tentu benar di mata orang lain. Apa yang kita anggap cocok, belum tentu cocok di mata orang lain.
.
.
Apa yang kita yakini benar bisa jadi adalah salah. Mengetahui lebih kuat daripada meyakini. Seumpama seorang anak bertanya kepada ayahnya, di mana ibu berada? Bagi yang masih ragu pasti akan menjawab 'saya yakin ibu di dapur'. Sementara yang sudah tahu, ia akan dengan tegas menjawab 'Ibu di dapur.' Dan kenyataannya ibu memang di dapur. Bisa dibuktikan. Makanya yakin saja masih kurang. Harus mengetahui.
.
.
Dalam beragama, keyakinan memang dibutuhkan. Bisa dikatakan keyakinan adalah unsur dasar dalam beragama. Namun perlu diingat, mengetahui ajaran agama lebih penting daripada sekadar meyakini ajaran agama. Oleh karena itu, pengikut agama yang benar adalah berusaha mengetahui dan memahami ajaran agama. Tidak boleh hanya berhenti pada meyakini. Apalagi yang masih katanya.

Melangkah di masa kini

Percayalah, melangkah itu bukan di masa lalu dan bukan di masa depan. Tapi sekarang ini juga. Setiap langkah yang kita lakukan saat ini, bisa berguna untuk memperbaiki masa lalu dan bisa berguna untuk mempersiapkan diri di masa depan. Namun tetap, melangkah adalah sekarang dan saat ini pula. .
.
Melangkah di masa lalu berarti mengingat kenangan yang telah berlalu. Melangkah di masa depan berarti membayangkan sesuatu yang belum terjadi atau mungkin tak akan terjadi. Maka melangkah adalah tetap saat ini.
.
.
Masa lalu kita mungkin begitu mengesankan, hingga menjadi kenangan yang tak dapat dilupakan. Namun kita harus ingat, kita tak bisa memutar kembali masa lalu itu. Yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki masa lalu dan meningkatkan semua yang baik-baik di saat ini juga. Mungkin rancangan masa depan kita juga begitu indah. Namun kita juga harus ingat, itu semua tak bisa terwujud tiba-tiba. Kita perlu persiapan dan perjuangan yang hanya bisa kita lakukan saat ini juga. Maka melangkah adalah saat ini - melangkah memperbaiki kekurangan dan mempersiapkan diri.

Kematian

Kehidupan tidaklah abadi. Berisi banyak sesuatu yang tak pasti. Yang sudah terencana, belum pasti terlaksana. Yang terlaksana belum tentu sempurna sesuai dengan rencana. .
.
Kematian bisa datang kapan saja meski tak direncana. Bisa jemput kapan saja meski belum dipersiapkan. Tak ada ampun. Tak bisa dinegosiasi. Tak seorang pun mampu melarikan diri dari kematian. Tidak ada gunung, samudra, atau angkasa yang bisa dijadikan tempat persembunyian untuk menghindar dari kematian. Para penguasa besar akan jatuh ditangan raja kematian beserta bala tentaranya. Semua orang akan jatuh di tangan kematian, termasuk kita.
.
.
Apa yang pantas disombongkan jika ternyata semuanya sama-sama akan mati? Tak ada yang sama sekali patut disombongkan, karena kesombongan sendiri sangat tidak patut dan perlu dibasmi. Kecantikan, keanggunan, dan kekuatan masa muda suatu saat akan memudar. Yang sekarang rambutnya hitam mengkilap, suatu hari nanti akan beruban. Yang sekarang kulitnya kencang dan berseri, suatu saat akan mengkeriput dimakan usia. Yang sekarang kuat dan perkasa, suatu saat akan lemah tak berdaya.

Tak perlu marah

Berbuat salah memang lumrah, asal tidak diperparah dan mau dirubah. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Entah disadari atau tidak. Yang kita anggap benar, terkadang salah di mata orang lain. Maka kita butuh orang lain untuk mengingatkan kesalahan kita di saat kita tak menyadarinya.
.
.
Tak perlu marah kalau ada orang lain yang mengingatkan kesalahan kita. Harusnya kita berterima kasih, karena dia telah menyempatkan waktunya untuk mengoreksi kesalahan kita. Kita saja sering tak sempat mengoreksi kesalahan kita sendiri. Maka kita harus berterima kasih kepada mereka yang bersedia mengingatkan kita.
.
.
Kalau itu memang benar kita yang salah, hal yang perlu kita lakukan adalah memperbaiki kesalahan kita. Kita tak perlu memperbaiki cara mereka menilai kita. Cukup perbaiki kesalahan kita sendiri, dan mereka akan mengganti penilaian mereka ketika kita sudah memperbaiki kesalahan kita.

Jadilah pribadi yang tangguh

Secara teori kau tahu bahwa semua yang kau inginkan tak akan tercapai semuanya. Ada begitu banyak keinginan sehingga kau tak sempat mewujudkan semuanya. Bukan hanya karena waktu yang terbatas, tetapi kemampuan yang terbatas pula. .
.
Nafsu keinginan manusia begitu besar, berkobar-kobar seperti api yang membakar. Setelah satu keinganan tercapai, keinginan yang lain datang bertubi-tubi. Bukannya selesai, tetapi keinginan malah semakin menjadi-jadi.
.
.
Kau mengeluh dan mengadu lewat doa-doa. Tak ingatkah engkau bahwa, terkadang kita perlu merobohkan satu impian untuk mendirikan impian yang lebih besar. Maka tetaplah jadi pribadi yang tangguh. Berbentilah mengeluh. Mulailah berjuang dengan sungguh-sungguh. Berjuang untuk mewujudkannya dan berjuang untuk merelakannya. Perjuangkanlah apa yang perlu diperjuangkan dan  relakanlah apa yang perlu direlakan. Karena memperjuangkan apa yang perlu direlakan akan membuatmu sia-sia.

Perpisahan

Selagi masih ada pertemuan di sana pasti akan ada perpisahan. Pertemuan dan perpisahan adalah satu paket yang tidak dapat pisahkan. Berani bertemu, berarti harus berani berpisah pula. Mau atau tidak mau.
.
.
Berpisah dengan orang yang dicintai dan berkumpul dengan orang yang tidak disukai memang derita. Namun tak usah sedih atau resah. Ingat, semua punya kisah dan alasan. Berpikirlah positif bahwa ada alasan kebahagiaan di balik perpisahan. Hanya saja kebahagiaan yang tak harus disatukan. Kebahagiaan sendiri-sendiri dengan jalan masing-masing.
.
.
Suatu saat kau akan sadar bahwa perpisahan bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Bisa berpisah karena waktu dan jarak, bisa juga berpisah karena dunia yang berbeda, kematian. Kerelaan pada akhirnya menjadi keharusan yang mesti dipilih. Kalau tidak, menderita. Pada dasarnya yang menyebabkan penderitaan bukanlah perpisahannya, tapi ketidakrelaan di balik perpisahan. Maka relakanlah. Karena ketika keduanya sudah saling rela dan mengerti satu sama lain, tak ada yang ditinggalkan dan meninggalkan, tak ada yang disakiti dan menyakiti. Perpisahan itu ditempuh demi kebahagiaan sendiri-sendiri dengan jalan masing-masing.

Teman

Pertemanan membentuk kepribadian seseorang. Bila seseorang berteman dengan orang-orang yang baik, ia bisa tumbuh menjadi baik. Namun bila seseorang berteman dengan orang-orang yang buruk, ia bisa ikut menjadi buruk.
.
.
Sering kali pertemanan diibaratkan seperti bungkus makanan. Kalau bungkus itu bau amis dan kotor, maka makanan di dalamnya juga ikut menjadi amis dan kotor. Pertemanan juga begitu. Kalau seseorang bergaul dengan teman-teman yang buruk, sering berbuat kejahatan, sering membuat resah masyarakat, maka ia bisa tumbuh seperti mereka.
.
.
Maka jadilah teman yang baik, biar orang-orang yang baik bisa mendekat. Kalau anda merasa belum baik, carilah teman-teman yang baik. Kalau anda merasa sudah baik, ajarkan kepada teman-temanmu. Ajak teman-temanmu menjadi baik. Teman yang sejati adalah teman yang tidak takut menganjurkanmu berbuat baik, dan berani melarangmu berbuat jahat.

Kematian adalah kepastian

Kematian adalah kepastian dalam hidup ini. Semua yang dilahirkan bergerak menuju kematian. Tak ada yang abadi dalam hidup ini. Semua akhirnya pun akan mati.
.
.
Umur manusia rata-rata hanya sampai seratus tahun. Terkadang bisa kurang dan terkadang bisa lebih. Tapi tetaplah pasti akan mati juga. .
.
Kematian bisa datang kapan saja. Tak memandang usia, apakah tua atau muda. Karena syarat kematian tidaklah harus tua, yang muda pun bisa mati. Seperti daun yang rontok, tidak harus yang tua, bisa saja yang masih menguning, bisa saja yang masih hijau, atau bahkan yang baru saja tumbuh. .
.
Kematian tidak memandang harta dan tahta. Sekaya apapun orang itu, ia juga akan mati. Sekuat apapun orang itu, ia juga akan mati. Kematian tak bisa dibeli dengan harta dan tahta. Setelah kematian tiba, harta dan tahta pun tidak bisa dibawa. Semuanya harus ditinggalkan dan pergi ke alam selanjutnya berbekal hanya kebajikan.

Doa

Dalam perjalanan hidup ini, kita pasti akan menjumpai yang namanya untung dan rugi, dihormati dan dihina, bahagia dan derita, dipuji dan dicela. .
.
Ketika untung jangan bertinggi hati, karena ada rugi yang barang kali sudah siap menghampiri. Ketika dihormati jangan berbangga diri, karena ada hinaan yang selalu siap merobohkannya. Ketika bahagia jangan sesuka hati, karena siapa tahu derita tiba-tiba datang tak diundang. Ketika dipuji jangan lupa diri, karena di luar sana selalu ada celaan yang siap mematahkan semua yang telah kau usahakan. .
.
Ada banyak orang yang tahu apresasi. Namun ada banyak juga yang tidak suka mengapresiasi. Ada saja celaan yang sengaja didatangkan  untukmu. Namun jangan engkau menyerah hanya karena cacian. Selagi engkau masih benar, teruslah melangkah. Abaikan cacian seperti engkau mengabaikan angin yang berlalu. Cacian itu juga akan berlalu dengan sendirinya. .

Saat dicela

Dalam perjalanan hidup ini, kita pasti akan menjumpai yang namanya untung dan rugi, dihormati dan dihina, bahagia dan derita, dipuji dan dicela. .
.
Ketika untung jangan bertinggi hati, karena ada rugi yang barang kali sudah siap menghampiri. Ketika dihormati jangan berbangga diri, karena ada hinaan yang selalu siap merobohkannya. Ketika bahagia jangan sesuka hati, karena siapa tahu derita tiba-tiba datang tak diundang. Ketika dipuji jangan lupa diri, karena di luar sana selalu ada celaan yang siap mematahkan semua yang telah kau usahakan. .
.
Ada banyak orang yang tahu apresasi. Namun ada banyak juga yang tidak suka mengapresiasi. Ada saja celaan yang sengaja didatangkan  untukmu. Namun jangan engkau menyerah hanya karena cacian. Selagi engkau masih benar, teruslah melangkah. Abaikan cacian seperti engkau mengabaikan angin yang berlalu. Cacian itu juga akan berlalu dengan sendirinya. .

Tahun Baru

Waktu terus berputar hingga tak seorang pun mampu menghentikannya. Menggilas seluruh dunia dan seisinya hingga semua mengalami perubahan. Tidak ada yang tetap dan abadi dalam hidup ini. Semuanya bergerak menuju perubahan. Waktu yang mempertemukan, tapi waktu pula yang memisahkan. Semua pertemuan berakhir pada perpisahan. Setiap kehidupan berakhir pada kematian.
.
.
Berlalunya waktu meninggalkan sejarah dan kisah. Ada banyak cerita yang kita lalui. Ada banyak pengalaman yang kita temui. Ada banyak rintangan yang kita hadapi. Ada banyak pelajaran penting di balik kegagalan dan kesalahan yang kita pelajari.
.
.
Kejadian-kejadian itu menjadi masa lalu. Kita harus berlalu demi kehidupan yang kita jalani saat ini. Hidup dengan bayang-bayang masa lalu tak akan membuat kita tenang dalam kehidupan kita saat ini. Tak perlu menghapus masa lalu, cukup jadikan sebagai sejarah. Jadikan pelajaran berharga untuk memperbaikinya.
.
.
Menghapus masa lalu terkadang tak membantu kita untuk menjadi bersih dalam menghadapi kehidupan ini. Seperti kalau kita menghapus coretan-coretan yang begitu tebal di lembaran kertas lama, meskipun tulisan itu hilang, masih ada yang membekas. Kalau kita menulis di sana, tulisan kita menjadi tidak jelas. Kita perlu mengambil kertas yang baru dan menulisnya di lembaran yang baru. Seperti itu pula, kita seharusnya menjadikan tahun baru ini menjadi lembaran baru yang akan kita isi. Kita akan menulis cerita yang baru dan memperbaiki semua yang keliru di masa lalu.

Hidup

Sudah banyak orang menggambarkan kehidupan dengan pemikiran yang berbeda-beda. Seorang penulis menggambarkan hidup seperti kertas kosong yang harus diisi. Para pembaca menggambarkan hidup seperti buku yang berisi banyak bab dan cerita. Para pengelana menggambarkan hidup seperti perjalanan yang harus ditempuh sampai tempat tujuannya. Pecinta kopi menggambarkan hidup seperti secangkir kopi yang harus dinikmati pahitnya.

Apapun itu. Kehidupan tetaplah kehidupan, berisi banyak cerita seperti yang dibilang para penulis, banyak pengalaman-pengalaman pahit dan manis yang harus dinikmati seperti yang dikatakan pecinta kopi, berisi banyak perjuangan untuk mencapai tujuan seperti yang bilang para pengelana.
Kalau hidup ini seperti perjalanan
Tetaplah berjalan
Engkau boleh berhenti sebentar saat merasa lelah
Tapi jangan pernah berhenti karena nyerah

Dalam perjalanan hidup memang banyak rintangan yang harus dihadapi. Perlu semangat dalam menghadapinya. Kuncinya adalah hadapilah
dan jangan menyerah.

Kemiskinan

Salah satu permasalahan sosial yang dihadapi setiap negara adalah kemiskinan. Kemiskinan memicu maraknya tindakan kriminalitas. .
.
Bukan hanya Indonesia, Sri Lanka juga mengalami permasalahan yang pelik ini. Terdapat kesenjangan sosial di masyarakat. Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin tetap saja miskin. .


.
Sebenarnya tak ada yang ditakdirkan kaya atau miskin. Nasib itu bisa berubah dan dirubah. Yang penting ada kemauan dan kemampuan untuk merubah. Kemauan harus disertai keyakinan dan kemampuan harus disertai perjuangan. Mau tapi tak yakin akhirnya tak jadi. Mampu tapi tak berusaha sama saja, seperti lampu yang tidak dinyalakan, akan tetap gelap.
.
.
Kemiskinan yang terparah dalam hidup ini bukan karena tak punya uang. Tapi karena tak punya impian untuk diwujudkan. Mungkin akan ada yang menyanggah bahwa dengan uang seseorang bisa membeli impian, namun ternyata faktanya seperti supir yang punya bensin tapi tak tahu kemana ia akan pergi. Bisa saja muter-muter hingga bensinnya habis. Tapi selama seseorang punya impian, ia menekuninya dan berusaha menggapainya, ia tak akan pernah miskin. Karena impian itu sendiri adalah harta yang berharga dalam hidup ini. .
.

Christmas

Merry Christmas
Natal identik dengan penggambaran kakek tua berjenggot putih dan bertopi merah mengendarai kereta, membagikan hadiah-hadiah; lampu-lampu berkilauan, pohon natal, warna merah, dan diskon akhir tahun. .


.
Perayaan Natal menjadi perayaan yang universal, dirayakan di mana saja dan siapa saja. Di Sri Lanka, meskipun negara Buddhis, Natal dirayakan secara meriah oleh umat Kristiani. Umat luar juga ikut merayakannya. Pohon-pohon natal didirikan di perempatan jalan dan di pusat keramaian. Hampir semua supermarket dan mall ikut menawarkan diskon di hari Natal dan menyambut tahun baru. Para penjaga toko juga mengenakan topi Natal. Pusat-pusat perbelanjaan dihiasi dengan atribut-atribut Natal. Semuanya terlihat meriah. .
.
Namun makna dari perayaan Natal bukan itu. Bukan diskon di hari raya, bukan pohon natal, atau topi merah. Natal dirayakan untuk memperingati hari lahirnya Yesus Kristus. Yesus dilahirkan di bumi untuk memberi manfaat orang banyak. Ada banyak hal bisa kita pelajari dari Yesus, yaitu tentang pengorbanan, welas asih, kepedulian, keteguhan hati, dll. Dengan perayaan Natal, seharusnya kita bisa mencontoh perilaku Yesus. Kita harus belajar tentang pengorbanan, welas asih, kepedulian, dan keteguhan hati. Kita harus belajar menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi orang banyak. Bukan hanya untuk umat Kristiani saja, tapi untuk kita semua. Karena kebenaran dan kebaikan bukan milik agama tertentu, apalagi milik umatnya. Kebenaran dan kebaikan adalah ajaran universal. Siapapun bisa belajar untuk memahami kebenaran dan mempraktikkan kebaikan dari ajaran agama manapun. .
.
Selamat merayakan natal untuk para saudara-saudaraku dan semuanya yang merayakannya. Dan juga selamat merayakan tahun baru untuk semuanya. Semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya.

Mewujudkan Harapan

Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...