Kamis, 30 Agustus 2018

Kedewasaan

Hari ini aku mencoba membuka ulang semua kenangan yang tersimpan dalam facebook. Larik-larik foto dan tulisan singkat itu mengajakku kembali menyelami masa lalu yang kini tinggal cerita. Persis seperti menonton ulang video masa lalu. Memang itulah salah satu fungsi foto dan tulisan, yaitu untuk mengabadikan momen dan menceritakan kembali peristiwa itu dikemudian hari. Foto-foto itu membawaku bernostalgia. Sesekali aku tertawa melihat kelucuan yang pernah aku lakukan di waktu itu. Terselip juga sedih tatkala ada benturan kenyataan dan kenangan yang tak lagi sejalan. Namun, juga ada bingung karena tak paham maksud status yang pernah kubuat waktu itu. 

Bukan itu yang ingin kuungkit kembali menjadi sebuah tulisan yang baru. Aku hanya ingin mengambil topik kedewasaan kuambil dari sebuah pengalaman pribadi. Tulisan-tulisan dan foto-foto tadi membuatku sadar tentang proses pendewasaan yang terjadi pada diriku. Meskipun kedewasaan itu pilihan, ternyata umur juga menentukan isi kedewasaan itu. 

Aku mungkin beranggapan waktu itu aku sudah cukup bijak dan dewasa, namun ternyata apa yang kupahami kedewasaan waktu itu berbeda dengan pemahaman kedewasaan yang kumiliki saat ini. Apa yang dimaksud kedewasaan bagi anak umur belasan tahun memang berbeda dengan kedewasaan yang dipahami oleh orang-orang yang sudah menginjiak di atas dua puluh tahun. Dan pemahaman ini juga akan berbeda ketika umur sudah semakin bertambah, ketika pengalaman dan pengetahuan sudah semakin bertambah. Oleh karena itu, kita tidak bisa menilai kedewasaan orang lain dengan penilaian kedewasaan yang kita miliki saat ini. Kedewasaan juga butuh waktu untuk tumbuh. Dan suatu saat, saya juga pasti akan menertawakan kedewasaanku saat ini ketika umur, pengalaman, dan pengetahuanku sudah bertambah. 

Kedewasaan bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan. Kedewasaan akan tumbuh dengan sendirinya seiring usia dan pengalaman yang bertambah. Kita tak bisa memaksakan anak-anak untuk bersikap dan bersepemikiran dengan orang-orang dewasa. Dan kita juga tak bisa memaksakan anak-anak remaja untuk bersepemikiran dan bersikap seperti orang tua. Anak-anak remaja memiliki sifat alami yang tak bisa dipaksakan. Oleh karena itu, kita semua harus melihat orang-orang sebagaimana levelnya. Kita harus melihat anak-anak sebagai anak-anak dengan sifat alaminya. Kita melihat para remaja sebagai para remaja dengan sifat alaminya. Kita melihat orang tua sebagai orang tua dengan sifat alaminya. Dengan begitu, kita tak akan mudah menghakimi orang lain, sebab setiap orang sedang tumbuh dengan caranya masing-masing. 

Ada beberapa faktor yang mendorong seseorang untuk tumbuh. Ada faktor usia yang membuat seseorang bersikap alami sesuai dengan umurnya. Ada faktor pergaulan yang membuat seseorang terpengaruh oleh lingkungan dan teman-temannya. Ada faktor pendidikan atau pengalaman yang bisa ia dapat dari membaca buku atau mengikuti kegiatan-kegiatan lainnya. 

Bunuhlah kejahatan, tapi jangan penjahatnya

“Bunuhlah kejahatan, tapi jangan penjahatnya.” Kalimat ini mungkin terlihat sepele, namun sejatinya mengandung makna yang dalam. Ada pesan kemanusiaan yang ingin disampaikan melalui sepenggal kalimat tersebut.

Dalam bentuk apapun, kejahatan memiliki karakteristik yang merugikan, baik bagi si pelaku sendiri maupun orang-orang yang menjadi korban kasus kejahatan. Karena kejahatan adalah perbuatan yang merugikan, maka semua agama mengajarkan untuk tidak berbuat kejahatan. Semua agama melarang umatnya untuk berbuat kejahatan dan mendorong umatnya untuk senantiasa berbuat kebaikan. 

Meski kejahatan adalah perbuatan tercela dan dilarang oleh semua agama, kejahatan tetap dilakukan oleh sebagian orang. Makanya selain larangan, hukuman juga ditegakkan untuk memberikan sanksi kepada mereka yang melakukan kejahatan. Selain memberikan ancaman supaya orang-orang tidak melakukan kejahatan, hukum juga berfungsi sebagai badan yang bertugas memberikan hukuman dengan tujuan memberikan efek jera kepada si pelanggar hukum. 

Namun sebagian negara menetapkan bahwa setiap pelanggaran hukum yang berat akan memperoleh sanksi yang berat, bahkan hukuman mati bisa dijatuhkan kepada pelanggarnya. Kalimat “Bunuhlah kejahatan, tapi jangan penjahatnya” sepertinya cocok untuk direnungkan kembali sebelum hukuman mati dijatuhkan. Kalimat ini mengajak kita untuk senantiasa memanusiakan manusia dengan cara yang manusiawi. 

Hukuman mati bukanlah cara yang manusiawi sebab manusia seburuk dan sebejat apapun dia masih memiliki hak untuk hidup di muka bumi ini. Hukuman mati juga dinilai sebagai hukuman di luar perikemanusiaan. Sesungguhnya tidak ada yang ditakdirkan untuk menjadi penjahat kelas kakap. Maka dalam diri setiap orang juga memiliki potensi untuk memperbaiki diri dan bertaubat untuk tidak mengulang kejahatan yang serupa. Dengan alasan ini, hukuman mati bukanlah keputusan yang sesuai sebab siapa tahu orang yang dulu dianggap buruk bisa saja merubah perilakunya dan bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Hukuman yang baik adalah hukuman yang mengedukasi dan merehabilitasi mental para penjahat. Jadi, selain memberikan efek jera kepada para pelanggar supaya tidak melakukan kejahatan yang serupa di masa depan, hukuman juga memberikan bekal pengetahuan yang baik untuk bisa diterapkan di dalam masyarakat setelah selesai menjalani masa hukuman.

Tidak semua kejahatan adalah murni karena kehendak sendiri. Beberapa orang melakukan kejahatan karena terdesak oleh paksaan orang lain maupun ekonomi. Kita harus melihat motif apa yang mendasarinya melakukan kejahatan. Kalau memang seseorang melakukan kejahatan karena faktor ekonomi, solusi terbaik untuk menuntaskan dan mencegah masalah yang serupa adalah dengan melibatkan pemerintah setempat untuk menyediakan lapangan pekerjaan dengan penghasilan yang layak untuk masyarakat. Ketika kesejahteraan masyarakat stabil, maka tingkat kejahatan pun akan menurun dengan sendirinya. 

Masih ada kemungkinan bagi orang yang melakukan kejahatan untuk memperbaiki diri. Yang jahat tidak akan selamanya menjadi jahat. Dunia masih memberikan kesempatan untuknya supaya bisa memperbaiki kesalahan dan tidak mengulang kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya. Makanya jangan putus kesempatan itu dengan hukuman mati. Berilah ia kesempatan untuk melakukan kebajikan demi menutup kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan sebelumnya. Hukuman mati bukanlah solusi yang manusiawi. 

Yang terpenting dalam memberantas kejahatan bukanlah dengan menghabisi para penjahatnya, melainkan bagaimana supaya orang-orang tidak melakukan kejahatan dan berhenti melakukan kejahatan. Hukuman tak akan diberlakukan kalau orang-orang patuh pada hukum dan tidak melanggar hukum. Tak akan ada yang disebut penjahat kalau orang-orang tidak melakukan kejahatan. Jadi ‘Bunuhlah kejahatan’ dengan cara memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat. ‘Jangan bunuh penjahatnya’ karena penjahat sekalipun masih memiliki kemungkinan untuk bertaubat dan berubah menjadi orang yang baik di masa depan. 

Rabu, 29 Agustus 2018

Rekam Jejak Perjalanan ke Kalutara


Kejenuhan yang membelukar ini mengantarkanku pada sebuah pilihan untuk mengunjungi ke sebuah tempat di daerah Kalutara. Ketegangan pikiran itu belum paripurna pasca ujian yang sempat menggilakan sesaat. Aksara-aksara dewanagari dan bahasa Sansekerta masih berkecamuk di dalam pikiran, mengobrak-abrik seisi otak demi mencari celah untuk bersandar. Selaput otak ini seperti semakin ruwet akibat benang-benang hafalan rumus yang semprawut. Kosakata bahasa Prakrit menambah keruh ingatan yang sudah dibangun. Berkali-kali bahasa Sansekerta dan Pali berbenturan hingga menyebabkan pusing di bagian belakang kepala. Ditambah bahasa Sinhala yang turut ikut campur. Bahasa Inggris pun akhirnya mengalah dan mengalami degradasi pasca ditelantarkannya oleh sang pemilik. Dan sekarang-sekarang ini bahasa Indonesia mendapat perioritas lebih banyak meski bukan dalam bentuk suara. 

Destinasi perjalananku kali ini adalah Kalutara. Tempat di mana aku pernah menyaksikan keagungan sebuah stupa dari sudut stasiun kereta. Ceritanya beberapa tahun yang lalu aku ketiduran pada waktu pulang dari kampus saat naik kereta. Tanpa kusadari, kereta yang kutumpangi menurunkanku di sebuah daerah yang amat asing bagiku. Tiga puluh delapan kilometer dari tempat di mana aku harus berhenti. Ngantuk dan lelah itu tak bisa ditawar hingga aku terbawa sebegitu jauh. Kurang lebih satu jam dari tempat di mana aku harus turun, di Dehiwala. Namun beruntungnya, aku menjadi mengenal tempat itu dan rasa penasaran itu mendorongku untuk mengunjungi tempat itu kembali. 

Aku mengajak salah satu temanku untuk mewujudkan rencana itu. Ketika rencana ini kusampaikan, ia langsung saja mengiyakan sebab ia sendiri juga tak sibuk. Sebelumnya aku sempat memohon salah satu lagi dari teman sekelas kita, namun ia menolak sebab ia sudah memutuskan untuk pergi ke suatu tempat dengan temannya. Akhirnya kita berangkat berdua saja.
Perjalanan dimulai dengan naik bus dari Peliyagoda menuju Bambalapitiya. Kita sengaja mampir ke sini untuk sejenak menikmati menu makan siang. Tempat ini namanya Majesty City, salah satu pusat perbelajaan di kota Colombo. Hanya di tempat inilah kita bisa menemukan berbagai jenis makanan dari berbagai negera. Di warung beratasnamakan Malaysia, aku menyantap nasi goreng khas Malaysia yang tak jauh berbeda dengan Indonesia. 

Kita kemudian melesat menuju Kalutara dengan menggunakan kereta api. Sepanjang perjalanan, lautan biru menjadi pemandangan yang memukau untuk dinikmati. Angin laut bersemilir membawa sejuk tersendiri. Gemuruhnya seperti terdengar mengalunkan melodi. Terdengar pula merdu suara ombak yang berdebur menabrak bebatu karang. Kita menikmati perjalanan ini. temanku berkali-kali menyampaikan kekagumannya dan kegembiraanya. Katanya perjalanan menggunakan kereta api sungguh menyenangkan. Dan ia jarang sekali menggunakan kereta api.

Aku sempat berdialog dengan penumpang lain menanyakan perihal tempat pemberhentian kita. Peta yang terpampang dihadapanku lumayan membantuku menemukan informasi nama-nama tempat yang kita lintasi. Sudah lebih dari satu jam kita melaju, ternyata tempat yang kita tuju masihlah jauh. Aku akhirnya sadar betapa nyenyaknya diriku waktu itu, hingga aku pernah terbawa sebuah kereta sampai sebegitu jauh.  

Kereta yang kita tumpangi berhenti di stasiun Kalutara Selatan. Kita semua turun dari kereta dan beranjak menuju lokasi tujuan yang tak jauh dari sini. Puncak bangunan stupa yang cukup besar itu terlihat dari kejauhan sini. Aku dan temanku pun bergegas menuju ke sana dengan jalan kaki.

Panas matahari di belahan bumi sini begitu menyengat. Sepertinya di sini lebih panas daripada kota Colombo. Itu mungkin karena dini sini adalah daerah pesisir pantai. Alasan yang lain adalah tingkat ketinggian daerah. Ketinggian suatu tempat mempengaruhi suhu atau panas dinginnya suatu tempat. 

Akhirnya kita tiba di depan bangunan stupa itu. Tempat ini disebut Kalutara Chaitya. Namun kita tak langsung menuju bangunan itu, kita memilih untuk melakukan puja terlebih dahulu di sebuah pohon Bodhi yang dipercaya telah berumur ribuan tahun. Merupakan salah satu dari tiga puluh dua cangkokan pohon Bodhi dari Jaya Sri Mahabodhi yang berada di Anuradhapura. 

Di sekeliling vihara ini kita bisa menjumpai kedai-kedai yang menawarkan bunga teratai sebagai sarana puja. Aku pun mendekati seorang laki-laki tua yang menawarkan bunga teratai dan mengambilnya empat biji bunga teratai. Kita bersama-sama melakukan puja di hadapan pohon Bodhi. 
Setelah itu, kita beranjak menuju bangunan stupa. Sebelumnya aku sudah mendapat informasi dari seorang petugas yang berjaga di sini bahwa di tempat ini tidak ada bhikkhu yang tinggal. Segala kepengurusan di sini ditangani oleh petugas. Awalnya saya sempat ragu, masa vihara semegah ini tak ada seorang pun bhikkhu yang tinggal. Keraguanku tercerahkan saat aku memasuki bangunan ini dan berbincang-bincang dengan petugas yang lain. Petugas itu mengatakan bahwa vihara ini dibangun oleh pemerintah, jadi segala kepengurusannya ditangani oleh pemerintah. Namun kalau vihara ini mengadakan sebuah acara, didatangkanlah bhikkhu dari vihara lain. 

Aku dan kawanku berjalan perlahan menuju sebuah bangunan dan berjalan naik melalui sebuah tangga. Sampailah kita di halaman stupa yang ukurannya cukup besar itu. Kubah stupa ini berdiameter 30.5 meter, mulai dibangun pada tahun 1964 dan selesai pada tahun 1974. Di sekeliling stupa ini terdapat tembok-tembok raksasa yang mengelilingi area ini. Jadi ketika tiba di pelataran ini pemandangan agung terpampang di hadapan kita. 

Bangunan stupa ini berbeda dengan stupa-stupa di vihara-vihara lain. Selain ukurannya yang raksasa, di dalam stupa ini ternyata masih terdapat ruangan yang cukup luas. Kita pun memasuki ruangan itu. Persis di tengah-tengah ruangan ini, terdapat sebuah stupa yang berukuran lebih kecil. Boleh dikatakan ini adalah stupa di dalam stupa. Di sekeliling ruangan ini terdapat lukisan-lukisan cantik yang mengisahkan riwayat hidup Buddha Gotama. Beberapa kisah-kisah Jataka dilukiskan di panel-panel mengelilingi bangunan ini. Ini sungguh menakjubkan dan sangat luar biasa. Aku merangkapkan kedua tangan di hadapan stupa itu dan melakukan puja dengan bernamaskara dan melantunkan syair-syair pujian. 

Senin, 27 Agustus 2018

Pendakian Menuju Puncak Siripada

Hawa pegunungan mulai terasa sejak mobil yang kita tumpangi masuk ke sebuah wilayah Hatton. Di malam yang pekat, mobil kita berjalan merambat menyusuri tikungan-tikungan tajam yang membawa ngeri tersendiri. Di luar sana sangat pekat, hanya beberapa titik lampu yang berpendar lindap. Jauh sekali dari ingar-bingar suasana kota. Aku yang sempat terlelap dalam tidur yang panjang selama perjalanan dari Colombo, akhirnya terbangun karena riuh teman-teman yang semakin semangat bernyanyi. Entah apa yang dinyanyikan, yang jelas suara yang melengking itu seperti menyayat dan membawa bising yang amat sangat, hingga aku harus menyudahi drama mimpi yang sudah diputar meski belum paripurna. Aku terbangun dan mencoba mengintip di sisi kanan dan kiri yang hanya berhias gelap gulita. 

Setelah memakan berjam-jam untuk perjalanan dengan mobil, akhirnya kita tiba di sebuah titik di mana kita harus memulai pendakian dengan jalan kaki. Kita turun dari mobil dan mempersiapkan barang-barang yang mesti dibawa untuk bekal perjalanan menuju puncak Siripada. Saat kita turun dari mobil, kita disambut dengan ribuan bintang yang membentang cakrawala. Malam telah membukakan tirainya dengan sejuta pesona. Titik-titik bercahaya bertahta di antara jelaga malam. Gemuruh angin mengoyak kesunyian malam. Membuatku aku harus berkali-kali memeluk diri dengan kain-kain yang sengaja kulilitkan ke seluruh tubuh. 

Dingin pegunungan masih bisa menemukan celah dan menusuk-nusuk sampai bagian tulang yang paling dalam. Ada dingin yang becampur ngilu. Ditambah lagi angin yang berkali-kali menghantam membawa gigil berbagai sisi. Sungguh, aku benar-benar kedinginan di sini. Suasana di sini sangat jauh sekali berbeda dengan kota Colombo yang panasnya minta ampun. 

Sebelum perjalanan dimulai, kita memutuskan untuk mampir sebentar di sebuah kedai untuk sejenak menyeruput kopi panas. Lumayan, setiap seruputan kopi mampu mengurangi dingin yang sempat membekukan tubuh. Meskipun di sini daerah gunung, di sini dan di sepanjang jalan nanti bakal kita temui kedai-kedai yang menyediakan makanan ringan dan minuman. Jadi, tak perlu khawatir, lagi pula jalur pendakian tak sebegitu rumit. Jalan menuju puncak Siripada bukan lagi jalanan becek ataupun jalan bebatuan terjal, sebab ribuan anak tangga sudah dibangun untuk keperluan ini. Dan di sepanjang jalan, lampu-lampu sudah menerangi dalam setiap tikungan gelap.  

Perjalanan dipimpin oleh Bhante Pemaratana. Kita berhenti pada satu titik untuk melakukan penghormatan di hadapan altar Buddha dengan membacakan syair-syair pujian. Dan Bhante Ratanasiri memberikan tuntunan tisarana dan pancasila kepada umat yang mendampingi perjalanan kita. 

Perjalanan pun dimulai dengan gembira. Kita memencar sesuai dengan kemampuan masing-masing. Namun aku masih tetap bersatu dengan rombongan, sebab aku sadar bahwa aku adalah orang yang paling ringkih, apalagi perihal perjalanan jauh. Tak terasa kita sudah melangkah jauh meninggalkan dasar. Hawa dingin pun mulai berubah menjadi biasa tatkala keringat dan hawa tubuh saling beradu. Wajah pun seketika menyungai dengan keringat yang membajiri sekujur tubuh. Temanku sudah jauh dari tatapan mata. Sementara aku masih santai dengan kawan-kawan. Berkali-kali kita berhenti untuk mengabadikan perjalanan ke dalam sebuah potret. 

Kita tak sendiri, sebab ada ratusan orang yang juga berkeinginan sampai di puncak. Menurut informasi yang saya dengar, ada kepercayaan bahwa setiap orang Sinhala wajib menginjakkan kakinya di puncak Siripada ini, minimal sekali dalam sehidup. Dan puncak Siripada juga menyimpan banyak cerita dan kisah. Seperti yang tertera dalam kitab kuno Mahavamsa, Buddha dikatakan telah meninggalkan jejak kakinya di puncak ini di kunjungannya yang ketiga di tanah Sri Lanka. Jadi memuncak ke gunung ini adalah salah satu bentuk peribadatan yang lazim bagi seorang umat Buddha. Di sisi lain, puncak gunung ini juga diakui oleh umat Hindu sebagai peninggalan jejak dewa Siva. Sementara umat Muslim dan Kristen mengaku puncak ini sebagai puncak di mana Adam pertama kali turun ke Bumi. Makanya, selain dikenal sebagai Samanakuta atau Samanagiri, tempat ini juga dikenal dengan sebutan Adam’s Peak atau Puncak Adam setelah Inggris menjajah Sri Lanka.



Aku berjuang melawan lelah dan dingin yang berkali-kali menyerang. Meskipun berkeringat, dingin masih begitu terasa, apalagi di hari menjelang esok. Beberapa kali aku pun harus menahan sesak dengan nafas yang tergopoh-gopoh. Aku terbujur lunglai. Kakiku legam dan kedua mataku mengantung menyiratkan kantuk dan letih yang luar biasa. Aku benar-benar lelah pada sebuah titik hingga aku sempat berkeinginan untuk mengurungkan niatku menuju puncak. Jalanannya cukup terjal dan sempit. Apalagi jalanan yang bertangga membuat kakiku berkali-kali ingin undur diri tak sanggup. Setiap langkah menimbulkan gemetar yang tak kokoh. Namun, puncak tinggal sedikit lagi. Akhirnya kuteguhkan tekadku kembali untuk tetap melangkah sampai ke puncak.

Setelah melewati berjam-jam perjalanan, akhirnya kita sampai di puncak Siripada. Bagiku ini tidak seperti puncak gunung yang biasa dikunjungi para petualang, di mana puncaknya terdapat sabana luas untuk mendirikan tenda-tenda dan bersuka ria. Puncak ini tidak sebegitu luas. Ada banguan vihara di mana konon telapak kaki Buddha ditilaskan. Namun petilasan itu sekarang sudah ditutup rapat-rapat sehingga tak ada satu pun yang bisa melihatnya. Hanya ada tempat puja di mana umat-umat melakukan penghormatan terhadap Siripada atau telapak kaki Buddha. Agak ke bawah sedikit, di pinggir jurang-jurang yang curam terdapat bangunan untuk bersemayamnya pada bhikkhu tamu maupun bhikkhu yang bertugas menjaga tempat itu. 

Aku mengistirahatkan kakiku sambil duduk di teras ditemani angin malam yang masih tak henti-hentinya menerpa dari berbagai sisi. Di sini aku bertemu kembali dengan kawan-kawan yang sudah sampai lebih awal. Kita masih menunggu Bhante Pemaratana dan kelompoknya. Mungkin saja mereka juga mengalami hal sama seperti yang kualami tadi, lelah berkecamuk putus asa untuk melanjutkan pendakian. Namun nyatanya aku berhasil melewati rintangan itu.

Temanku memberikan minuman jahe yang tinggal sedikit. Selama perjalanan, minuman jahe itu juga yang menjadi penghangat di sela-sela dingin yang membekukan suasana. Aku meneguknya beberapa kali hingga tetes terakhir. 

Setelah rombongan kita sudah terkumpul, kita bersama-sama menuju tempat pemujaan. Aku dan kawan-kawanku berajak naik ke tempat itu. Ruangan yang kecil itu cukup padat pengunjung yang juga ingin melakukan puja. Kita bergiliran satu persatu untuk bisa naik sampai di tempat yang disakralkan itu. 

Waktu terus berputar mengiringi pergantian hari. Masih ada sekitar tiga jaman bagi kita untuk sejenak membaringkan tubuh. Aku pun yang sangat lelah sekali, tanpa pikir panjang menggunakan waktu itu untuk tidur. Aku beranjak menuju bangunan yang disediakan untuk para bhikkhu. Bangunan itu terdiri dari dua lantai, yang lantai bawah untuk umat awam dan yang lantai atas untuk para bhikkhu. Meskipun terkesan seperti tempat pengungsian, tapi apa boleh buat, yang penting bisa membaringkan tubuh dan menghindar dari terpaan angin yang samakin membawa dingin. Singkatnya, aku tidur pulas dan bangun sesuai dengan rencana.

Setelah membersihkan diri, aku sengaja keluar menantang dingin hanya sekadar untuk menikmati pesona pagi di puncak gunung. Langit yang tadinya gelap gulita beranjak menguning. Sang baskara mengintip di antara gundukan-gundukan awan yang tak rata. Pohon-pohon mulai memperlihatkan bentuknya, meskipun hijau daunnya belum ketara. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya aku menyaksikan keindahan semesta alam yang luar biasa. Alam memang begitu cantik, dan sangat sayang apabila kita merusaknya. Dari sini aku menikmati merekahnya sang baskara yang beteger di antara awan-awan putih.



Semesta alam yang maha indah terpampang di hadapan orang-orang yang sudah dari tadi menunggu momen ini. Pemandangan ini memberikan kepuasan tersendiri yang tak bisa didapat di perkotaan. Sungguh indah bumi ini dan sangat disayangkan apabila manusia-manusia serakah merusaknya. Dari sini, hamparan hijau terlihat begitu menakjubkan. Terbing-tebing curam menambah keindahan semesta alam. 

Di puncak ini aku ingin menyampaikan terima kasih kepada semesta alam. Perjalanan ini sungguh mengesankan. Aku harap, ada kesempatan lain untuk bersua kembali di puncak sakral ini. Aku tak peduli, apakah yang tertilas di puncak ini adalah telapak kaki Buddha, dewa Siva, atau Adam. Sungguh aku sama sekali tak mau memperdebatkan keyakinan, karena bagiku keyakinan adalah hal yang sangat pribadi sekali. Siapapun itu, yang jelas puncak ini adalah puncak terdekat dengan surga. Kalau dari sini saja begitu dingin, bagaimana dengan surga yang dipercayai lebih tinggi dari puncak ini. Makanya aku lebih bersyukur terlahir di alam manusia. 

Sabtu, 25 Agustus 2018

Konspirasi Alam Semesta

Meskipun harus berkali-kali mengelap ingus yang beberapa kali meleler karena kondisi fisik yang tak lagi bersahabat, bacaan Konsipirasi Alam Semesta karya Fiersa Besari ini tak menyurutkan semangatku untuk merampungkannya di hari ini juga. Selalu ada greget tersendiri yang sengaja ia bungkus dengan bahasa yang dalam. Penulis yang juga merupakan seorang vokalis itu telah mengajakku berpetualang menyurusuri alam raya Indonesia dengan berbagai tantangan yang cukup menengangkan. Bedanya dengan penulis lain, Fiersa Besari lebih pandai dalam menerjemahkan perasaan dan situasi yang dihadapinya ke dalam tulisannya. Apalagi ia seorang petualang, yang tentu karya Konspirasi Alam Semesta ini bukan hanya cerita fiktif yang di luar nalar. Ada beberapa fakta tersembunyi tentang alam raya Indonesia. Ceritanya juga tak garing, sebab ada drama percintaan yang akhirnya berakhir pada satu perpisahan yang mengenang tatkala alam semesta memisahkan dua sepasang kekasih bersama meletusnya gunung Sinabung.

Buku itu menceritakan kisah seorang petualang dan juga jurnalis yang kukuh dengan keinginannya menjelajahi negeri Indonesia. Lelaki itu bernama Juang, lebih lengkapnya Juang Astrajingga. Pertemuan yang cukup singkat dengan seorang gadis bernama Ana Tidae itu mampu merubah hidup Juang. Perjumpaan yang sekejap mata itu membuat sepasang hati melebur menjadi satu atas nama kebahagiaan. Namun usaha Juang tak semudah itu, pasalnya Ana Tidae sudah dimiliki oleh Deri. Semesta alam berkonsipasi mempertemukan mereka dengan berbagai cara yang unik. Ana akhirnya jatuh pada hati Juang Astrajingga dan kukuh pada satu ikatan di puncak gunung Slamet dengan semesta sebagai saksi awal kehidupan percintaan mereka.

Sebagai seorang petualang yang suka menjalajah alam raya Indonesia, Juang menunjukkan kecintaannya pada semesta alam. Katanya cintanya terhadap semesta setara dengan cintanya pada Ana. Kisah romantis mereka pun tergambar dalam setiap percapakan yang dalam. Keduanya sama-sama memiliki keunggulan dalam merangkai kata, entah itu sekadar untuk menyampaikan rindu, sakit, atau sebuah perasaan lainnya. Catatan-catatan Juang saat berkelana menyusuri negeri Indonesia, terutama di negeri bagian timur, memuat kisah yang menengangkan ketika ia dan kelompoknya ditahan sekelompok orang yang ingin memisahkan diri dari negara Indonesia untuk mendirikan negara sendiri.

Hubungan Juang dengan Ana pun berkali-kali terhantam ujian. Di samping itu, hubungan Juang sendiri dengan keluarganya, terutama ayahnya, yang kurang harmonis membuat kisahnya dibumbui beberapa drama nestapa. Kisah-kisah sedih kembali terekam dalam perjalanannya tatkala ia harus kehilangan ibu tercintanya. Ditambah lagi kesalahpahaman antara Juang dan Ana, yang berakhir Ana harus dioperasi karena penyakit ganas yang menyerangnya.

Ceritanya kemudian menjadi penuh haru dan banyak guratan kebahagiaan dalam setiap larik katanya. Mereka berdua menikah dan tinggal di rumah idaman seperti yang Ana inginkan. Belum lama hari pernikahannya, kemanusiaan Juang tergerak untuk membantu para korban pasca erupsi gunung Sinabung. Ia harus berkali-kali ngotot untuk mendapat izin dari istrinya. Singkat ceritanya, Juang pergi ke lokasi dan membantu para relawan untuk melakukan evakuasi. Namun sayang, semesta alam yang juga mempertemukannya dengan orang-orang yang dicintai, juga membuatnya harus kembali berpisah dengan mereka. Juang kembali kepelukan alam semesta yang mengganas bersama meletusnya kembali gunung Sinabung. Juang telah mengabdikan dirinya untuk alam semesta dan juga untuk orang-orang yang dicintainya.

Jumat, 24 Agustus 2018

Gapura Hening Karta

Pagi itu sang baskara merangkak naik dari ufuk timur. Sinarnya menyebar memberikan kehangatan kepada dunia. Bulir-bulir embun pagi beranjak pergi dari persembunyiannya. Bertemunya dua partikel panas dan dingin itu menyebabkan basah rerumputan menguap. Ada hawa sejuk yang tertinggal.

Aku berjalan pelan menuju kamar sehabis menyantap sarapan pagi. Kutanggalkan jubah yang melilit tubuhku di balik pintu kamar. Belum sempat pintu kututup, terdengar panggilan lembut menyebut namaku.

“Samanera, coba ke sini sebentar!” Kurang lebih seperti itulah yang kudengar. Aku langsung beranjak menuju tempat di mana Bhante Pannyavaro berdiri. Persisnya di depan bangunan Gapura Hening Karta. Bangunan yang baru diresmikan tahun lalu. Bangunan itu belum berdiri gagah ketika aku masih tinggal di vihara itu.

Terlihat Bhante Pannyavaro berjalan mondar-mandir seperti mencari sesuatu. Namun tatapannya tertuju pada puncak bangunan itu. Beliau berdiri sejenak dan menerawang, namun kembali mencari titik yang pas. Aku berjalan semakin mendekat dan berdiri di samping beliau.

“Samanera coba lihat dari sini!” tuturnya dengan lembut.

Aku manut dan mencoba mengamati dengan serius.

“Ada titik tai lalat di atas bibir seperti milik samanera!” tambahnya sambil tersenyum dan menelunjukkan jari kearah itu.

Sekarang tatapanku semakin serius, namun tak juga kutemukan titik itu.

“Agak sedikit ke sini Samanera! Tunggu sebentar sampai sinar matahari menyorotkan sinarnya pada titik itu,” jelasnya. Aku pun mengangguk menuruti petunjuknya.

“Oh itu,” secara reflek aku mengucapkannya. Bhante Pannyavaro tersenyum lebar tanpa menjelaskan panjang lebar apa itu dan apa filosofinya.

Seketika pikiranku kembali mengingat filosofi di balik titik di atas bibir. Ingatanku mempertemukanku kembali pada sebuah penjelasan di buku Primbon Jawa. Dalam bahasa primbon Jawa, titik tai lalat di atas bibir dikenal dengan nama Gunasakti. Ini adalah pertanda baik karena tai lalat di atas bibir dipercaya memiliki makna kecerdasan, keberuntungan, dan mudah berkawan.

Namun itu tak sebegitu penting dibanding dengan pesan yang disampaikan oleh bangunan gapura itu. Bangunan gapura itu berdiri gagah dengan wajah muka empat di atapnya. Ketika melihat bangunan itu, kita seperti diajak berpetualang menuju negera Kamboja yang terkenal dengan bangunan Angkor Wat.

Iya, Gapura Hening Karta ini adalah replika dari bangunan Angkor Wat dalam ukuran yang lebih kecil. Dibangun di halaman vihara Mendut, sebagai gerbang kedamaian. Hening berarti kesunyian dan Karta berarti pekerjaan yang telah tercapai. Gapura adalah nama lain dari pintu gerbang. Jadi bangunan Gapura Hening Karta ini adalah pintu gerbang menuju tercapainya keheningan. Keheningan di sini adalah kedamaian batin yang bebas dari keserakahan, kebencian dan kebodohan yang berkecamuk dalam batin seseorang. Baik ketika masuk atau keluar dari vihara ini, bangunan ini mengingatkan kembali kepada para pengujung untuk menyingkirkan keserakahan, kebencian dan kebodohan batin.

Wajah muka empat sangat tak asing sekali dengan penggambaran dewa Brahma dalam agama Hindu. Dalam Buddhis, empat muka adalah empat sifat-sifat luhur yang mesti dikembangkan oleh umat Buddha. Empat sifat luhur tersebut antara lain: cinta kasih (Metta), welas asih (Karuna), simpati (Mudita), dan keseimbangan batin (Upekkha). Cinta kasih adalah mengharapkan semua makhluk hidup berbahagia. Welas asih adalah tindakan untuk mengurangi penderitaan makhluk lain. Simpati adalah turut berbahagia atas kebahagiaan orang lain. Keseimbangan batin adalah sikap batin yang tenang dan netral dalam menghadapi kejadian-kejadian, baik itu menyenangkan atau tidak.

Jadi di balik gagahnya bangunan Gapura Hening Karta yang berdiri di Vihara Mendut ini, ada filosofi yang mendalam yang disampaikannya. Bangunan ini bukan hanya pajangan yang memberikan nilai estetis semata, namun juga pertanda dan pengingat untuk memahami filsafat hidup yang menuntun pada kedamaian. Empat sifat-sifat luhur itulah pesan yang ingin ditunjukan dari adanya bangunan Gapura Hening Karta.

Bangsa Yang Cidera

Bangsa kita akhir-akhir ini benar-benar kuawalahan menghadapi pertikaian yang tak kunjung usai. Selalu saja ada isu yang dimunculkan untuk merusak ketentraman dan kesatuan bangsa. Di samping isu-isu politik, isu-isu ras dan agama masih menjadi senjata untuk saling menghujat. Akibatnya, bukan hanya kedamaian yang terancam, waktu kita juga terkuras banyak untuk menghadapi masalah-masalah yang seharusnya sama sekali tak perlu. Waktu kita tersita banyak untuk menyelesaikan kasus-kasus seperti itu. Kalau hal semacam ini terus dibiarkan, bangsa kita tak akan pernah maju.

Perbedaan adalah hal yang lumrah dan merupakan anugrah karena perbedaan membuat kita memiliki keanekaragaman. Masing-masing orang memiliki selera yang berbeda-beda dan pemikiran yang berbeda-beda. Sungguh tidaklah etis kalau kita memaksakan mereka untuk berselera dan bersepemikiran dengan yang kita miliki.
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keragaman. Dari Sabang sampai Merauke, ada beribu-ribu perbedaan – perbedaan agama, ras, suku, budaya, bahasa, dll. Perbedaan itulah yang membuat negeri kita menjadi kaya akan budaya, seni, bahasa, dll. Negara-negara lain takjub dengan Indonesia yang seperti itu. Selain itu Indonesia juga memiliki kekayaan alam yang melimpah. Makanya Indonesia pernah berkali-kali menjadi incaran negara lain untuk dijajah.

Kini Indonesia telah merdeka. Para pahlawan kita telah mengusir penjajah dari tanah ini. Sekarang adalah tugas kita untuk mengembangkan potensi yang ada, membangun negeri kita menjadi negara yang maju. Jangan mau kalah dengan negara-negara lain. Kita memiliki segalanya di negeri kita. Bahkan konon tongkat pun bisa disulap menjadi tanaman. Kita memiliki semua kelebihan itu. Sekarang saatnya kita bangun negeri ini. Kokohkan jiwa-jiwa pejuang untuk membuat negeri kita ini maju dalam segala bidang.

Namun sayang, di saat kita memiliki kesempatan itu, kita malah masih meributkan hal-hal yang tak penting. Kita masih ribut dengan pertikaian-pertikaian politik dan agama. Politik yang seharusnya mempersatukan negeri malah menceraiberaikan persatuan. Para pemainnya malah saling menghujat satu sama lain. Seolah-olah negeri kita diaduk-aduk dengan drama politik yang menjijikkan. Kita tak boleh diam. Kita harus bangkit dari keterpurukan ini. Kita harus bersatu padu, bahu membahu untuk membangun negeri ini.

Di saat ada kesempatan emas untuk mengubah negeri ini, persatuan kita malah semakin ringkih akibat pertikaian atas nama agama. Lagi lagi masalah agama. Seperti tak pernah usai masalah ini di negeri kita. Orang-orang berjubah agama, mengatasnamakan agama telah membuat kerusuhan di negeri kita, Ini berdampak pada memburuknya citra agama itu sendiri. Agama yang seharusnya menciptakan kedamaian antar umat beragama, telah disalahgunakan oknum-oknum tertentu untuk menciptakan ketidakharmonisan di masyarakat. Ayat-ayat suci yang mendamaikan terlah diganti dengan ujaran-ujaran kebencian yang menyudutkan agama lain. Bahkan kekerasan fisik pun juga terjadi. Akibatnya kita benar-benar jauh dari kedamaian hidup. Kegunaan agama dipelintir menjadi penyebab ketidakdamaian hidup. Seperti yang R A Kartini pernah katakan, kehadiran agama membebaskan kita dari dosa, tetapi banyak juga dosa yang kita buat karena agama.

Kita harus keluar dari kekerdilan seperti ini. Kita harus memiliki kebijaksanaan dan wawasan yang luas. Beragama bukan hanya perihal keimanan, tetapi juga perihal pengetahuan. Bahkan beragama pun juga perlu kebijaksanaan dan welas asih. Kebijaksanaan adalah akar toleransi untuk saling menghargai satu sama lain. Dan welas asih adalah akar untuk saling menyayangi dan mencintai satu sama lain. Bijaksanawan mengatakan, “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.” Perbedaan keyakinan tak pernah menjadi penghalang untuk berperikemanusiaan.

Jumat, 17 Agustus 2018

Sri Kalyani Dhamma School

Hari ini hari minggu. Anak-anak berpakain putih-putih memenuhi komplek Kelaniya Rajamaha Viharaya. Mereka semua sangaṭ antusias mengikuti Sekolah Minggu. Sudah menjadi aturan di Sri Lanka, bahwa anak-anak pergi ke Sekolah Minggu dengan berseragam putih. Yang perempuan, memakai baju putih khas Sri Lanka - bawahan sarung putih dan atasan baju putih dengan tetap memperlihatkan bagian pinggang. Dan tentu rambut yang harus dikepang dua. Yang laki-laki mengenakan bawahan sarung dan atasan baju putih polos.

Di Kelaniya Rajamaha Viharaya ini terdapat murid sekolah minggu dengan jumlah kurang lebih 470. Dalam proses pembelajarannya, ada yang mengambil kelas dengan medium bahasa Sinhala dan ada yang memilih medium bahasa Inggris.

Kebetulan hari ini saya mengajar dengan medium bahasa Inggris. Metode pembelajaran Sekolah Minggu di sini sangat berbeda sekali dengan yang di Indonesia. Di sini anak-anak sekolah minggu dibagi menjadi beberapa kelas sesuai dengan tingkatannya. Ada materi khusus yang harus diajarkan. Tidak ada permainan. Sepenuhnya diisi pelajaran seperti di sekolah pada umumnya.

Yang begitu mengejutkan, terutama bagi saya pribadi, materi pelajaran yang diberikan bukanlah materi yang mudah. Tadi saya sempat kaget, karena hari ini saya berkewajiban menjelaskan ajaran Kelahiran Kembali kepada anak-anak berusia lima belas tahunan. Jujur saja, saya gak punya banyak materi untuk ngomong tentang Kelahiran Kembali dalam durasi dua setengah jam. Untung ada buku panduan untuk mengajar. Jadi sewaktu saya mengajar mereka, sesungguhnya saya juga sedang belajar.

Aku tak habis pikir, anak-anak seusia itu sudah dijejali dengan materi yang menurutku sangat berat. Tapi bagi mereka mungkin sudah terbiasa karena sejak kecil pun sudah diperkenalkan ajaran Buddha. Makanya tidak heran, dulu ada orang Indonesia yang juga belajar di Sri Lanka, bilang bahwa materi yang diberikan di sini setara dengan materi perkuliahan di STAB di Indonesia. Saya pribadi mengakui bahwa materinya memang tidak gampang. Makanya saya tidak menganggap diri saya sebagai guru di sini, saya hanya fasilitator dan juga teman yang sama-sama masih belajar. Tapi ini sungguh luar biasa.

***

Seperti biasa, saya mengawali kelas dengan mengabsen satu persatu murid yang hadir. Tidak begitu banyak murid yang mengikuti kelas dengan medium bahasa Inggris sebagai pengantarnya. Cuma ada sekitar lima belas murid di kelas 10 ini.

Ketika saya memanggil nama mereka satu per satu, mereka pasti senyum-senyum sendiri sebab logat Jawaku ini begitu ketara dan sering kali terdengar aneh kalau menyebut nama-nama orang Sinhala.



Awalnya mereka mengira kalau saya tidak tahu sama sekali bahasa Sinhala. Makanya mereka membicarakan saya di belakang. Namun seketika saya tanya balik dengan bahasa Sinhala, dan mereka terkejut, bertanya "Bhante bisa bahasa Sinhala." Saya tidak menjawab iya atau tidak, tapi kulanjutkan dengan percakapan dengan bahasa Sinhala. Setelah itu akhirnya mereka tak berani lagi membicarakan saya di belakang, sebab mereka tahu bahwa saya memahami apa yang mereka omongkan.

Saya pikir, anak-anak di negara Buddhis itu pendiam, pemalu, polos, lugu, dll, sebab saya tak pernah mendengar ada tawuran antar sekolah seperti sekolah2 di Indonesia. Pikir ku mereka orang2 yg polos, ternyata setelah mencemplung di dunia mereka, mereka ternyata tak jauh beda dengan anak-anak pada umumnya - usil, urakan, cerewet. Tapi masih dalam batas normal usia anak-anak.

Mereka mengajari saya bahwa pendewasaan bukan untuk dipaksakan. Tingkah dan pemikiran usia anak-anak tidak bisa dan tidak boleh dipaksakan menjadi tingkah dan pemikiran orang dewasa. Kita yang sudah dewasa secara umur seharusnya memandang mereka sebagai anak-anak dengan sifat alaminya. Dan barangkali, orang yang lebih tua daripada kita, juga harus melihat kita di usia ini dengan sifat alaminya. Meskipun pendewasaan tidak ditentukan oleh umur, namun umur memiliki sifat alaminya yang tidak boleh dipaksakan.

Bekas kesedihan

Tempat ini masih membekaskan kesedihan di balik kepergian sosok yang dihormati dan dituakan. Suasana duka masih terasa menyelimuti pasca upacara kremasi agung yang dihadiri ribuan orang lokal dan mancanegara.

Sebuah kepergian yang tak diduga-duga dan tentu tak mungkin dipersiapkan. Namun apa daya, kematian memang bisa datang kapan saja dan siapa saja harus siap tatkala waktunya telah usai.

Bellanwila Rajamaha Viharaya ini menjadi saksi perjalanan panjang Ven. Prof. Wimalarathana Thero. Aku hanyalah sebagian, mungkin hanya sekata atau dua kata yang apabila dituliskan dalam seluruh perjalanan hidupnya.

Ternyata sudah dua tahun lebih aku menginjakkan di negara ini. Dan Bellanwila Rajamaha Viharaya ini juga akan menjadi saksi bisu perjalanan hidupku nanti. Ku pun tak tahu entah sampai kapan aku menuntup catatan terakhirku. Namun kusadar, usia yang semakin bertambah, kekuatan yang semakin melemah, tubuh yang mulai menunjukkan kelapukan, semuanya ini akan berakhir pada kematian juga. Entah kapan. Siapa yang tahu.

Kehidupan selalu berakhir dengan kematian. Pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Dualitas ini tak dapat dipisahkan. Kematian dan perpisahan serasa menjadi momok yang menakutkan dan terasa tabu untuk didengar. Tak seorang pun menginginkan kematian dan perpisahan. Namun inilah realitas kehidupan, yang tak bisa ditolak oleh siapa saja.

Siapa yang hidup pasti akan mati. Dan siapa yang bertemu, pasti akan berpisah. Menolaknya adalah penderitaan. Menerimanya adalah cara membebaskan diri dari penderitaan. Terimalah kematian sebagai kematian tanpa mengikutsertakan kesedihan.

Jayalah Indonesiaku

Hari ini dinding media sosialku dipenuhi dengan ungkapan-ungkapan bahagia di hari Kemerdekaan Indonesia. Banyak yang memekikkan kata MERDEKA di bawah gambar sang saka, merah putih, yang berkibar. Namun ada beberapa yang juga mengajak kita untuk mengevaluasi kembali tentang makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Rasanya tidak lengkap, kalau aku tidak ikut andil dalam memeriahkan momen ini. Makanya di sini aku juga ingin sedikit monorehkan tulisan tentang kemerdekaan.



Sejarah mencatat Indonesia telah merdeka. Tujuh puluh tiga tahun kita telah merdeka, terbebas dari penjajahan bangsa lain. 17 Agustus 1945 yang lalu, Bung Karno dengan lantang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Bendera merah putih dikibarkan untuk menandakan kemerdekaan negeri tercinta ini.

Hari ini, 17 Agustus 2018, kita seluruh rakyat Indonesia memperingati momen penting itu. Bendera merah putih dikibarkan di seluruh wilayah Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, sang saka berkibar dan lagu Indonesia Raya berkumandang. Di pelosok-pelosok desa bahkan di puncak-puncak gunung sang saka berkibar dengan bebas bersama angin. Kemerdekaan Indonesia adalah milik kita semua. Seperti yang dituturkan Bung Karno, “Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu suku, bukan milik suatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke.”

Kini kita menikmati kemerdekaan yang diperjuangkan para pahlawan kita. Kemerdekaan ini adalah perjuangan dan pengorbanan mereka. Nyawa pun dipertaruhkan mereka demi tanah air tercinta ini. Darah berceceran dan mayat-mayat bergelimpangan saat mereka merebut kembali negeri ini dari tangan penjajah. Makanya kita harus menjaga dan mencintai negeri ini dengan sebaik-baiknya.

Meski tujuh puluh tiga tahun kita telah merdeka, hanya di tahun ini kita benar-benar merdeka. Kelompok pemberontak di negeri bagian timur, sekarang mau bersatu kembali. Rasanya benar-benar merdeka, terlebih ketika mereka sepakat menyatakan diri akan mencintai kembali negeri tercinta ini. Mereka kembali mengibarkan sang merah putih.

Bagi mereka yang di negeri bagian timur, kemerdekaan yang mereka terima memang belum utuh. Sebab, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, masih sebatas slogan. Sementara praktiknya belum menyentuh di negeri mereka. Harga pangan dan BBM mahal bertahun-tahun. Kebutuhan hidup sulit dan terasa tersisih dari bangsa Indonesia. Berpuluh-puluh tahun katanya Indonesia sudah merdeka, namun mereka belum merasakan kemerdekaan yang utuh. Namun kali ini, mereka benar-benar merdeka. Akhirnya mereka mengurungkan niatnya untuk mendirikan negara sendiri. Tahun ini, kita dari Sabang sampai Merauke serempak mengumandangkan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan sang merah putih. Kita merdeka.

Namun perjuangan kita tak boleh berhenti sampai di sini. Ada ribuan mimpi-mimpi yang perlu digenapi dan diwujudkan. Najwa Shihab mengatakan, “Proklamasi harusnya tak berhenti sekadar deklarasi, sebab mereka mestinya bukan alat propaganda. Indonesia adalah kata kerja, mimpi-mimpi yang harus digubah menjadi nyata.”

Merdeka untuk Indonesiaku tercinta. Rasanya pengen nyanyi lirik ini,
"Tanah air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidakkan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai"

Dari negeri seberang ini, aku menyampaikan hormatku pada negeriku. Sejauh manapun aku pergi, Indonesia adalah negeriku, di mana aku akan kembali pulang. Jayalah Indonesiaku.


Kamis, 16 Agustus 2018

Gigil Pohon

Secangkir kopi malam ini menemaniku bercengkrama dengan malam. Berdialog dengan alam sekitar. Hujan baru saja reda, namun rintik-rintiknya masih sesekali tempias terbawa angin malam. Setidaknya kopi ini meredakan gigil malam yang bercampur dengan semprawutnya keheningan.

Bukan aku yang kedinginan dan kesepian. Tapi yang di luar sana. Di balik jendela terpampang ketabahan sebuah pohon yang merelakan kehilangan dan perpisahan. Angin mengobat-abitkan setiap ranting-rantingnya. Sekuat apapun ia mempertahankan daunya, pada akhirnya dedaunannya pun rontok juga. Bukan hanya yang tua, yang baru menguning dan yang masih bertunas pun dilalap juga.

Pohon itu menunjukkan betapa tabahnya ia yang sedang kehilangan, meskipun ranting-rantingnya menggigil harus melewati malam sendirian tanpa dedaunan yang sudah terbiasa menemaninya. Aku memberanikan diri tuk bertanya “Apakah engkau dendam kepada yang merenggut milikmu dan kebahagiaanmu?” Pohon itu bergeming tak memberikan jawaban iya atau tidak.

Di balik diamnya aku mengerti bahwa memang pohon tak akan berbicara dengan bahasa manusia. Dan aku juga tak menanyainya dengan bahasa manusia. Pohon itu memberikan isyarat bahwa ia sama sekali tak dendam dengan siapa pun, termasuk angin yang telah berkali-kali memisahkan dirinya dengan dedaunannya. Ia tak menyalahkan hujan yang membawa gigil di saat-saat kehilangan.

Aku akhirnya mengerti pesan yang disampaikannya. Pohon itu mengajarkan ketabahan dan siap menerima apapun yang terjadi dalam hidup ini. Berpisah dengan orang-orang yang kita cintai adalah sebuah kewajaran yang juga harus diterima secara wajar. Memang pasti akan ada kesedihan di balik perpisahan, namun itu pun juga akan berlalu seiring waktu yang menyembuhkan. Daun yang rontok memang tak mungkin kembali ke ranting semula, namun ranting itu masih memiliki kemungkinan untuk menumbuhkan daun-daun yang baru. Waktu akan membuktikannya.

Pohon saja lebih mengerti perihal merelakan. Kenapa kita manusia sulit untuk merelakan perpisahan? Pohon saja lebih mengerti perihal tidak menyimpan dendam dan menyalahkan pihak lain sebagai penyebab kesedihannya. Lalu kenapa kita manusia malah suka mengambing hitamkan orang lain sebagai penyebab kesedihan kita? Kenapa kita begitu sulit mengampuni orang lain dan terus menyulut dendam kepada orang lain? Malam ini pohon itu mengajarkan pembelajaran yang berarti kepadaku. Khususnya perihal menerima kenyataan dan menyikapinya dengan kebijaksanaan.

Aku kembali teringat dengan kasus yang menimpa Lombok. Gempa bumi telah meluluhlantahkan Lombok. Bangunan-bangunan rata dengan tanah. Penderitaan dan kesedihan belum rampung dan masih terbayang-bayang suasana yang mencekam. Mereka kehilangan segalanya. Rumah mereka ambruk dan rata dengan tanah. Sebagian sanak keluarga mereka meninggal dan bahkan beberapa masih tertimbun di reruntuhan bangunan. Pekerjaan lumpuh sehingga tak ada pemasukan lagi. Bahkan untuk makan pun susah. Mereka sudah tak punya apa-apa. Mereka hidup mengadalkan uluran tangan dari para dermawan. Mereka menyambung hidupunya seadanya di tenda-tenda darurat sampai nanti suasana memulih kembali.

Kalau mau menyalahkan, bisa saja mereka menyalahkan alam semesta atau Tuhan. Kalau mau memprotes, bisa saja mereka memprotes alam semesta atau Tuhan. Pikiran mereka masih runyam dengan pertanyaan kenapa bencana harus terjadi di tanah mereka; kenapa alam semesta merenggut kebersamaan mereka dengan keluarganya.

Aku harap mereka mampu menjadi seperti pohon yang bersedia menerima kenyataan dengan bijaksana. Meskipun kehilangan orang yang dicintai itu memang berat, semoga mereka mau merelakan kepergian mereka dengan lapang dada. Meskipun sungguh sulit untuk menerima kenyataan pahit ini, semoga mereka tak menyimpan dendam kepada siapapun dan tak menaruh dendam kepada alam semesta ini. Alam semesta hanya menjalankan tugasnya. Gempa bumi adalah fenomena alam yang merupakan bagian dari kerja alam semesta.

Rabu, 15 Agustus 2018

Di sudut stasiun Kelaniya

Senja kali ini menyuguhkan cerita yang sedikit berbeda. Senja kali ini bukan lagi cerita tentang kehilangan seperti yang sering diaksarakan para penulis muda. Namun ini adalah cerita tentang seorang anak kecil di sudut stasiun yang mengangkasakan mimpi-mimpinya bersama semilir angin senja.

Di stasiun kereta api Kelaniya ini, beridirilah seorang anak kecil yang baru saja pulang dari sekolah. Wajahnya begitu ceria meskipun seragam yang ia pakai sudah terlihat kumal dan tak rapi. Bercak-bercak keringat membekas di seragam putihnya. Penampilan bocah itu terlihat masih polos dan jauh dari definisi gengsi. Dia tampil apa adanya dan bersikap seperti anak-anak pada umumnya.



Gemuruh suara kereta terdengar semakin mengeras. Terdengar pula bunyi klakson yang dibunyikan tiga kali. Kereta api dari Colombo melewati stasiun ini dengan kecepatan tinggi. Gesekan roda-rodanya dengan ril membuat suasana sempat lumpuh tak bisa mendengar suara lain selain desing roda kereta. Seketika kepulan debu mengiringi kepergian kereta yang semakin menjauh dari tatapan mata.

Bocah tadi akhirnya tampak kembali oleh tatapan mataku. Dia mengamati kepergian kereta yang semakin menjauh. Dan kembali menengadah langit-langit yang sedikit mulai menjingga. Pandangannya tertuju pada awan yang berarak-arakan melintasi langit yang bercorak keemasan. Ia terlihat seperti takjub dengan peristiwa alam yang disuguhkannya. Ia bergumam ‘Ku ingin mengangkasakan mimpi-mimpi bersama angin senja ini.”

Mimpi seorang anak kecil tak bermuluk-muluk. Biasanya anak kecil memperolehnya dari pengaruh lingkungan setempat. Bisa dari dorongan keluarga, pergaulan, bacaan atau orang lain. Mimpi bocah itu juga tak bermuluk-muluk. Boleh dikatakan mimpinya sederhana. Ia ingin menjadi dosen suatu hari nanti. Ia hanya ingin mengajar dan membagikan ilmunya kepada banyak orang. Karena ia berpikir, menjadi pengajar itu seperti orang yang menabur benih-benih di ladang. Satu benih yang ditabur akan menghasilkan banyak buah. Seperti itu pula, pengetahuan yang diberikan kepada orang lain juga akan memberikan manfaat yang berlipat-lipat.

Senin, 13 Agustus 2018

Gempita Politik

Saat gegap gempita politik semakin riuh, kedamaian dan persatuan bangsa terancam dengan adanya kemungkinan perang politik. Kubu satu dengan para pendukungnya ingin memenangkan pertarungan. Kubu kedua juga menginginkan hal yang sama. Pertarungan politik yang licik akan berdampak pada tercerai berainya persatuan bangsa. Dan isu sara adalah senjata ampuh yang mungkin akan digunakan para politikus busuk untuk menjatuhkan lawan.

Agama akan dipolitisasi demi kepentingan politik. Tempat-tempat ibadah yang sejatinya untuk menyiarkan ajaran agama akan berubah menjadi tempat menyiarkan visi dan misi politik. Ujaran kebencian yang menyudutkan lawan politik tak bisa dihindari. Bahkan ancaman, seperti tidak mengijinkan umat pendukung kelompok lain untuk melakukan ibadah di tempat itu, bisa saja terjadi. Hoak bisa menjadi ledakan yang meruntuhkan pertahanan lawan politik. Persekongkolan partai dengan lembaga agama sangat memungkinkan sekali terjadi. Kalau ini dibiarkan, kecurangan bisa saja terjadi dengan tameng agama dan para pemukanya.

Indonesia tak bisa dikatakan sedang baik-baik saja. Hukum dan perdamaian digadaikan oleh orang-orang yang mengaku agamis. Kita bisa belajar dari kasus-kasus yang pernah terjadi sebelumnya. Isu agama telah digoreng untuk menjatuhkan lawan politik, dan ironisnya yang menggoreng isu itu sendiri adalah para pemukanya sendiri.

Dan kita tahu, sesuatu yang berawal dari kecurangan pasti juga akan berujung pada ketidakberesan. Kasus-kasus korupsi yang marak terjadi di kalangan para pejabat adalah produk politik yang berawal dari kecurangan. Dari pengalaman seperti itu seharusnya kita belajar untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.

Jangan mudah terpancing dengan rayuan politik yang menggiurkan. Belum tentu janji-janji itu akan ditepati kalau sudah terpilih. Mereka hanya memanfaatkan kesempatan untuk memenangkan suara. Setelah itu biasanya mereka mendadak amnesia dan tak mau bertanggung jawab dengan dalih yang dibuat-buat.

Kita harus lebih cerdas dalam memilih pemimpin negeri kita tercinta ini. Masa depan negeri tergantung pada pilihan kita. Jangan biarkan negeri ini dijarah oleh mereka yang bernafsu mengumpulkan kekayaan sendiri. Jangan biarkan tikus-tikus berdasi memperoleh ladang basah untuk berkembang biak. Para koruptor dan calon koruptor tak boleh diberi kebebasan untuk menguasai negeri ini. Kita butuh pemimpin yang merakyat, mementingkan kepentingan bersama, jujur, dan mau mengabdi kepada negera.

Sengketa politik tentu akan bedampak pada persatuan bangsa itu sendiri. Negara akan selalu dibuat ribut dengan isu-isu politik yang berkedok agama. Energi kita menjadi terkuras banyak untuk menyelesai sengkata politik dan agama daripada mengembangkan potensi negeri ini. Bagaimana tidak, ketika negara-negara lain sudah semakin maju dengan modernisasi, teknologi yang canggih, kita malah masih meributkan permasalahan agama yang tak kunjung usai. Akibatnya kita malah semakin tertinggal jauh dengan negara-negara maju lainnya.

Perubahan

Sesuatu yang pasti dalam hidup ini adalah perubahan. Kita bisa menjumpainya dalam setiap detik dalam kehidupan kita. Mulai dari yang terlihat dan bahkan yang tak terlihat pun bergerak menuju perubahan. Perasaan yang begitu senang, namun dalam hitungan detik pun bisa berubah dengan cepatnya. Kita dan orang-orang di sekitar kita pun tunduk pada perubahan menuju ketuaan yang tak bisa dihindari.

Perubahan adalah keniscayaan hidup ini. Semuanya tunduk pada perubahan. Waktu merenggut setiap detik kehidupan kita. Setiap detik yang telah kita lewati tak bisa ditarik ulang. Yang telah terlewati berarti sudah menjadi masa lalu. Bahkan lima menit yang lalu adalah masa lalu kita yang juga harus dilihat sebagai masa lalu tanpa perlu menyesalinya.

Kita hanya memiliki kesempatan hidup saat ini. Yang telah berlalu disebut masa lalu dan yang akan datang belumlah pasti. Maka hidup yang susungguhnya adalah saat ini di detik ini juga. Satu menit kemudian ini pun akan menjadi masa lalu juga. Makanya waktu itu begitu berharga karena waktu yang telah berlalu tak mungkin diputar balik. Mau tidak mau masa lalu harus diikhlaskan untuk menyadari kehidupan saat ini.

Hidup ini berisi banyak perubahan dan tidak menyediakan keabadian. Kehidupan ini tidak menyediakan kesempatan yang sama sebab setiap detik perubahan terjadi. Jadi kesempatan di menit yang lalu tidaklah sama dengan kesempatan di menit sekarang ini.

Hidup ini seperti air sungai yang mengalir. Air yang sudah lewat tak mungkin kembali. Waktu dalam hidup ini juga seperti itu. Setiap detik yang telah lewat tak bisa didapatkan kembali. Kita tak mungkin menginjakkan kaki di air sungai yang sama sebab airnya selalu mengalir. Seperti itu pula kita tak mungkin mendapatkan kesempatan yang sama dalam hidup ini karena segala sesuatu bergerak menuju perubahan.

Perubahan sendiri masih sangat subjektif karena memiliki dua kemungkinan sebagai hasilnya. Terkadang perubahan itu membawa kebaikan namun terkadang juga membawa ketidakbaikan. Perubahan terkadang membantu orang keluar dari permasalahan-permasalahan yang menjeratnya. Namun perubahan juga sering kali membuat orang-orang terjerat dalam permasalahan-permasalahan yang baru.

Setiap perubahan harus dihadapi dengan kebijaksanaan. Kebijaksanaan berarti melihatnya sebagaimana adanya. Artinya perubahan harus dilihat sebagai perubahan. Kalau itu diterapkan, maka tak ada alasan lagi bagi kita untuk mengeluhkan perubahan. Biarkanlah perubahan berjalan sesuai dengan hukumnya.

Kesalahan Berulang adalah Sebab Pembenaran

Kesalahan yang dilakukan berulang-ulang adalah asal mula pembenaran yang mungkin akan terjadi di kemudian hari. Kesalahan yang sering kita lakukan akan menjadi kebiasaan yang bahkan akan sulit untuk diluruskan kembali. Ketika ada orang lain yang ingin meluruskannya kembali, kita akan berargumen dan menentang dengan dalih yang kita miliki sebab kita telah membudayakan kesalahan itu. Kesalahan yang sudah membudaya akan terasa berat untuk diluruskan kembali. Seperti karat besi yang menebal akan menjadi sulit untuk dipulihkan kembali. Oleh sebab itu, kita harus mampu membiasakan melihat kesalahan sebagai kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.

Tak bisa dipungkiri, manusia memang tempatnya salah. Entah disengaja atau tidak, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Berbuat kesalahan sekali mungkin bisa dianggap lumrah, dan bahkan kesalahan adalah salah satu risiko yang mesti ditanggung untuk memulai sesuatu yang baru. Seperti kata Albert Einstein bahwa siapapun yang tidak pernah melakukan kesalahan berarti tidak pernah mencoba sesuatu yang baru. Namun mengulang kesalahan yang sama berulang-ulang tak bisa dikatakan lumrah. Itu namanya kebablasan. Tak bisa ditoleransi lagi.

Kesalahan sekecil apapun harus dilihat sebagai kesalahan dan harus diperbaiki. Sesuatu yang kecil jangan sekali-sekali diremehkan sebab sesuatu yang besar juga berawal dari sesuatu yang kecil. Seperti itu pula kesalahan. Kesalahan kecil yang terus diulang lagi dan lagi akan menyebabkan kesalahan yang besar di kemudian hari.

Seperti dua batang lidi yang disejajarkan, kalau di awalnya saja sudah ada regang makan regang diujungnya akan semakin besar. Seperti itu pula kesalahan kecil yang diremehkan akan menyebabkan kesalahan yang semakin besar. Dan itu sangat merugikan baik diri sendiri maupun orang lain.

Kesalahan kecil yang dibiarkan saja akan menenggelamkan seseorang suatu hari nanti. Seperti perahu yang bocor, kalau tidak segera ditambal maka airnya akan masuk sedikit demi sedikit yang lama-lama bisa menenggalamkan perahu itu. Hidup kita juga seperti kapal yang menempuh perjalanan jauh di lautan yang berombak. Ombak ibarat permasalahan hidup yang sering kita alami di kehidupan ini. Seperti halnya ombak yang menghantam perahu dari berbagai sudut, permasalahan hidup yang kita alami juga sering mengantam kita dari berbagai sudut. Sementara kapal adalah diri kita sendiri. Kalau kita tak bisa menyikapi permasalahan hidup yang kita hadapi, kita akan terkalahkan oleh permasalahan hidup kita sendiri.

Kita juga seperti kapal yang ketika bocor didiamkan akan tenggelam perlahan. Kalau kita membiarkan diri kita melakukan kesalahan yang berulang-ulang, kita akan tenggelam karena kesalahan kita sendiri. Makanya kita harus bisa memperkokoh diri dengan keyakinan dan usaha. Sebagaiamana kita harus yakin mampu melewati ombak di lautan, kita juga harus yakin mampu melewati setiap permasalahan hidup yang kita hadapi. Sebagaimana perahu yang sebisa mungkin tidak bocor saat di lautan, kita juga harus berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat kesalahan-kesalahan yang bisa membuat kita gagal mencapai tujuan.

Kamis, 09 Agustus 2018

Menjelang Perahera

Festifal Perahera sudah mendekati hari puncaknya. Penari-penari berserta penabuhnya sudah berkumpul di vihara. Gajah-gajah sudah mulai didatangkan dari berbagai vihara. Termasuk raja gajah yang bernama Nedun Gamuwa baru saja didatangkan dan disambut meriah oleh umat setempat.

Nedun Gamuwa adalah gajah berukuran besar dari India yang lahir pada tahun 1953 di Myshore. Gajah ini diberikan oleh Maharaja Myshore kepada seorang bhikkhu Sri Lanka yang juga ahli dalam ilmu kedokteran yang tinggal di Nilammahara Temple Piliyandala setelah berhasil menyembuhkan keluarganya dari penyakit yang sudah lama diidapnya. Kini gajah itu tinggal di Pilliyandala dan sekarang adalah gajah utama yang digunakan untuk mengangkut relik dalam acara festifal Esala Perahera di Sri Lanka.

Mantan presiden Sri Lanka, Mahinda Rajapaksa, baru saja meninggalkan lokasi sebelum Nedun Gamuwa datang. Umat memadati vihara untuk menyaksikan festifal Perahera ini.


Seperti biasa, sebagai tamu, raja gajah itu dibawa menghadap bhikkhu kepala vihara untuk melakukan penghormatan. Dalam kesempatan ini, saya mendapat kesempatan emas untuk mengabadikan gambar bersama dengan raja gajah itu.

Informasi terkini yang baru saya dapat, baru ada sepuluh gajah yang sudah di tempat untuk melakukan prosesi. Saya kurang tahu persis berapa gajah yang akan datang. Pengalaman tahun kemarin, ada sekitar 40 gajah turut serta memeriahkan acara Perahera. Tahun ini diperkirakan bisa lebih atau kurang.

Semoga acara ini berjalan lancar sampai paripurna.

Loc. Bellanwila Rajamaha Viharaya.

Makna Toleransi

Toleransi yang sesungguhnya bukanlah mengaduk-aduk pandangan yang berbeda dengan pandangan yang kita miliki. Tak ada keharusan untuk bertoleransi dalam pengertian itu. Karena kita tahu, setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda yang terkadang sulit untuk kita terima dan kita terapkan. Dalam konteks seperti ini, toleransi tak mengharuskan kita mencampuradukkan pandangan mereka dengan pandangan kita. Kita bertoleransi dalam pengertian menerima dan mengizinkan orang lain memegang pandangannya masing-masing tanpa harus memaksakan mereka untuk menerapakan pandangan kita atau sebaliknya. Artinya, toleransi adalah menghargai orang lain untuk memegang pandangan yang berbeda.

Toleransi sama sekali tak menuntut pandangan-pandangan beragam untuk menjadi sama. Namun toleransi menuntut orang-orang yang memiliki pandangan yang berbeda untuk tetap bersama tanpa merugikan satu sama lain. Toleransi tak mengharuskan pandangan-pandangan yang berbeda untuk dicampuradukkan menjadi satu. Namun toleransi menuntut orang-orang yang memegang pandangan berbeda untuk tetap bersatu dan saling menghormati satu sama lain.

Ketidaksamaan dalam hal pandangan adalah sesuatu yang lumrah seperti selera masing-masing orang yang juga berbeda-beda. Namun perbedaan itu tak memaksa orang lain untuk menjadi sama. Orang-orang yang memegang pandangan yang berbeda bisa saja duduk bersama seperti sekelompok teman yang duduk bersama dalam satu meja namun memesan menu makanan yang berbeda. Meski makanan mereka berbeda-beda, mereka tetap bersama dan bersatu dalam satu meja dengan damainya. Seperti itu pula kita seharusnya beragama. Kita diperkenankan menganut salah satu agama tertentu, namun masih bisa hidup bersama dalam satu negera tanpa merugikan satu sama lain. Seperti itulah makna toleransi yang sesungguhnya.


Toleransi mengajak kita untuk tidak menyalahkan orang lain yang memiliki sudut pandang yang berbeda. Toleransi mengajak kita menghargai sudut pandang yang berbeda, memberi kebebasan kepada mereka untuk tetap menganut keyakinannya masing-masing. Jadi toleransi meleburkan pandangan 'Hanya ini yang paling benar, yang lain salah,' karena toleransi mengajak kita melihat sesuatu dengan perspektif yang berbeda.

Perbedaan bukanlah kesalahan. Bagi pecinta kopi, minum secangkir kopi hangat adalah kenikmatan. Namun nikmatnya kopi belum tentu sama bagi orang-orang yang tidak suka minum kopi. Ada banyak orang yang bahkan tak suka minum kopi. Namun bukan berarti orang yang tidak suka kopi tersebut adalah orang-orang yang sesat. Sama halnya dengan agama. Ketika sekelompok orang tertentu menganut salah satu agama, bukan berarti agama-agama yang lain adalah salah. Mereka menganut agama itu karena mereka cocok dan sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Sementara yang tidak cocok, boleh saja menganut agama yang lain sesuai dengan kecocokan dan kebutuhan masing-masing.

Loc. Pura Besakih, Bali

Ayah

Dialah sosok ayahku. Pahlawan keluargaku. Mungkin ia tak sepandai anak-anaknya dalam menyusun kata-kata untuk mengutarakan kasih dan sayangnya. Namun, ia lebih tahu bagaimana membuktikan kasih dan sayangnya kepada anak-anaknya. Ia membuktikannya bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata.

Mungkin ia juga tak sekuat anak-anaknya dalam melakukan sesuatu, namun ia lebih hebat karena telah mendidik anak-anaknya menjadi seperti ini. Keberhasilan anak tak lepas dari dukungan orangtua yang selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Di balik sikap tegasnya, ada kelembutan hati yang ingin ia tunjukkan. Ada kepedulian dan kasih sayang yang ia sampaikan. Di balik sikap otoriternya ada harapan yang ia sematkan kepada anak-anaknya. Bukannya sok ngatur, tapi menunjukkan arah yang menurutnya lebih tepat untuk diterapkan.

Kini usianya sudah tak lagi muda. Sudah tak sekuat dulu yang sigap melakukan ini dan itu tanpa minta bantuan. Saya pikir semua ayah memang pandai dalam hal menyembunyikan letih. Termasuk dia. Dalam letih yang amat sangat pun, ia tak ingin menunjukkan letihnya di depan anak-anaknya. Semata-mata tak ingin mengemis belas kasih kepada anak-anaknya.


Keriput pipinya adalah gambaran perjuangan yang hebat. Membanting tulang untuk menghidupi keluarga kecilnya, demi masa depan anak-anaknya.

Setiap tetes keringatnya adalah sumber kehidupan anak-anaknya.
Setiap aku mendengar lagu 'Titip Rindu Buat Ayah' karya Ebiet G Ade, seketika sedih dan rindu menghampiriku tak diundang. Namun lirik lagu itu tak membuatku bosan tuk memutar lagi dan lagi. Mungkin karena isinya sama seperti apa yang kualami. Ebiet menyanyikannya;
"Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban" (Ebiet G Ade)


Senin, 06 Agustus 2018

Pura Besakih

Pura Besakih dibangun di lereng Gunung Agung, Karangasem, Bali. Ini adalah pura terbesar dan terpenting untuk melakukan peribadatan bagi umat Hindu di Bali. .
.


Setiap tempat pasti punya ciri khas tersendiri. Kearifan lokal mempengaruhi bentuk bangunan tempat peribadatan. Sama, di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang tak bisa ditinggalkan atau diganti dengan kebudayaan luar negeri. Kalau dibandingkan dengan kuil-kuil Hindu di Sri Lanka dan India, pura-pura di Bali adalah bukti nyata ciri khas Indonesia. Sangat menarik dan tidak begitu seram meskipun banyak patung-patung dewa yang tak terbiasa dengan pengalaman kita.
.
.
Aku bilang Indonesia punya ciri khas sendiri. Makanya bangunan-bangunan kuno yang digunakan sebagai tempat ibadah umumnya adalah bangunan dengan konsep dan bentuk sesuai dengan keadaan sekitar. Bangunan ibadah dari apapun agamanya, di Indonesia, selalu menonjolkan ciri khas Indonesia. Meskipun keenam agama yang diakui negara Indonesia semuanya adalah agama impor, atau agama yang lahir bukan di negeri sendiri, tempat-tempat ibadahnya umumnya disesuaikan dengan keadaan sekitar. Memang agama-agama seharusnya masuk tanpa merusak budaya lokal. .
.
Budaya Bali tetap terjaga saat agama Hindu diperkenalkan. Dari segi berpakaian bisa kita lihat. Agama Hindu yang berasal dari India, diperkanalkan masuk ke Indonesia tanpa merusak pakaian adat Bali. Kalau di India umumnya masyarakatnya memakai pakaian bersari dengan pinggang yang terbuka sehingga pusarnya kelihatan, di Bali pakaian semacam itu tak ditemukan. Masyarakat Hindu Bali tetap mempertahankan pakaian adat mereka. .
.
Sama halnya meskipun agama Buddha juga berasal dari India, pakaian adat India tak merusak pakaian adat dari daerah-daerah Indonesia (kecuali bhikkhu yang harus berjubah dan gundul).
.
.
Kita boleh saja mengikuti ajaran-ajaran agama-agama impor. Namun kalau bisa jangan sampai hanya karena kita menganut agama itu lantas kita meninggalkan budaya dan adat kita sendiri. Pepatah mengatakan 'Jangan sampai kita menjadi kacang yang lupa pada tanahnya.' .
.
Kita Indonesia. Jadilah Muslim, Umat Kristen, umat Katolik, Buddhis, Umat Hindu, dan Umat Konghucu Indonesia.

Vihara Buddha Sakyamuni

Welcome to Bali Island.
Vihara Buddha Sakyamuni ini berdiri gagah dan megah di kota Depansar, Bali. Pulau dengan julukan Pulau Dewata ini menjadi primadona pariwisata Indonesia yang terkenal di seluruh dunia. Vihara ini menjadi bagian dari keindahan pulau dewata ini. .


.
Vihara Buddha Sakyamuni berdiri dengan bangunan khas Bali yang selalu menonjolkan keindahan seninya. Dari ukiran-ukiran yang terpahat, desain, dan ornamen-ornamen bangunan, semuanya  menyampaikan pesan keindahan yang mengagumkan. Seni-seni bangunan ini menyampaikan pesan-pesan tersendiri. Ada pesan-pesan moral dan spiritual yang sengaja disampaikan melalui seni.
.
.
Berbicara seni berarti juga berbicara tentang cinta. Seni dan cinta memiliki karakteristik yang sama. Terkadang sama-sama sulit dideskripsikan dengan banyak kata, namun bisa diekspresikan. Tidaklah gampang untuk mendeskripsikan seni bangunan vihara ini dengan kata. Namun bagi yang melihatnya pasti akan mengerti ekspresi yang disampaikan melalui seni ini. Ada ekspresi kedamaian, keteduhan, keharmonisan, dan kebahagiaan. Maka siapapun yang memasuki lokasi viharaini, dengan sendirinya akan merasa damai, teduh, harmonis, dan bahagia. .
.
Sungguh Vihara yang mengesankan di zaman sekarang ini. Jadinya umat merasa betah dan semakin rajin berangkat ke Vihara. Memang seharusnya demikian. Vihara tidak boleh disalahmengerti sebagai tempat mistis dan seram dengan patung-patung dan asap dupa yang tebal seperti di film-film horor. Buktinya vihara-vihara zaman sekarang adalah tempat yang sejuk, asri, damai, dan tenang, sehingga memudahkan umat untuk melakukan peribadatan - melakukan pujabakti, berlatih meditasi, dan memperdalam pengetahuan Dhamma. .
.

Minggu, 05 Agustus 2018

Ijinkan aku menjadi akar

Mulai sekarang aku ingin menjadi seperti akar pohon yang menguatkan pohon dari gucangan angin yang mengobrak-abriknya. Ternyata aku belum sanggup menjadi batang pohon yang semakin meninggi malah semakin berat risikonya. Memang benar, semakin tinggi pohon semakin besar juga yang angin yang menghantamnya.

Dan aku belum siap menjadi itu. Dikenal banyak orang, dipuji-puji, malah membuat aku lupa diri. Dicela, dikecam, membuat aku rendah diri. Dan sepertinya menjadi akar lebih baik, karena bisa menguatkan pohon dari berbagai rintangan, tanpa seorang pun memberikan penilaian terhadapku. Kalau pohon itu tumbuh tinggi dan indah, biar orang lain memuji pohon itu, tapi bukan aku sebagai akarnya. Kalau orang-orang merasakan manfaatnya, karena daun-daunnya meneduhkan, biar mereka memuji daunnya, bukan aku sebagai akarnya. Kalau memang orang-orang merasa terganggu dengan keberadaan pohon itu, biar mereka mengecam pohon itu, bukan aku sebagai akarnya.



Tugasku adalah menguatkan dan memberikan asupan supaya pohon itu tumbuh menjadi kuat dan menjulang tinggi. Tentu aku sangat senang apabila pohon itu bisa memberikan manfaat bagi binatang-binatang atau orang-orang di sekitarnya. Seperti itu pula, aku ingin menjadi penulis, yang berkiprah dalam dunia tulis menulis, dengan harapan tulisanku memberikan banyak manfaat. Tugasku adalah menulis dan membagikan pengalaman dan gagasan ke dalam bentuk tulisan. Orang-orang boleh memuji tulisanku, tapi jangan aku. Orang-orang boleh menghina tulisanku, tapi jangan aku. Aku hanyalah seperti akar pohon yang kuceritakan di atas.

Kalau memang pohon itu menghasilkan buah, biar orang-orang menamakan buah dari nama pohon itu, jangan akarnya. Kalau memang tulisan-tulisan ini memberikan manfaat, biar orang-orang menamakan manfaat itu dari tulisan itu, jangan penulisnya.

Loc. Bellanwila Park

Elegi Lombok

Elegi menggema bersama angin pasca gempa meluluhlantahkan pulau Lombok beberapa hari yang lalu. Lagu klasik karya Ebiet G. Ade yang berjudul ‘Berita Kepada Kawan’ kembali mengiringi setiap potret kesedihan. Lirik-lirik sedihnya mengajak kita menanyakan kenapa bencana ini harus terjadi. Ratap tangis dan air mata tak bisa dibendung melihat kenyataan yang sama sekali tak direncanakan ini.

Gempa kembali mengguncang Lombok dengan dasyatnya. Gempa pertama telah menelan banyak korban jiwa dan menyapu rata bangunan-bangunan. Gempa susulan berskala separuh dari gempa utama juga menyebabkan banyak bangunan runtuh karenanya. Dikabarkan gempa susulan ini juga menelan korban jiwa akibat tertimbun reruntuhan. Getaran dasyatnya bahkan sampai di pulau Bali dan menyebabkan kerusakan ringan pada beberapa bangunan.

Doa-doa melantun dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Bantuan materi pun mulai digalang sejak gempa utama terjadi beberapa hari yang lalu. Pemerintah daerah turut serta membantu meringankan beban korban, mengevakuasi para korban, dan menyediakan tenda-tenda darurat untuk para korban gempa di Lombok.

Sungguh bencana bukanlah sesuatu yang direncanakan atau diinginkan. Tak ada satu pun orang yang menghendaki bencana terjadi di tanahnya. Namun tetap saja bencana terjadi. Di sela-sela kesedihan yang belum rampung ini, ada banyak pertanyaan mengapa bencana seperti ini harus terjadi. Dalam lagunya, Ebiet G Ade, juga menanyakan pertanyaan yang serupa. Akhirnya ia menawarkan beberapa kemungkinan yaitu apakah ini terjadi karena sikap Tuhan yang sedang murka melihat tingkah manusia yang bangga dengan dosa-dosa. Alternatif lain adalah ataukah alam yang mulai enggan bersahabat dengan manusia-manusianya. Namun, bencana masih tetap saja menjadi misteri sebab kedua pertanyaan Ebiet tak bisa memberikan jawaban yang akurat. Dan akhirnya Ebiet G Ade mengajak kita untuk bertanya pada rumput yang bergoyang.



Kekuatan alam memang lebih dasyat daripada manusia-manusia. Namun manusia-manusia sombong merasa lebih kuat dan bersikap seenaknya terhadap alam. Padahal sekali hentakan saja, kekuatan alam mampu meluluhlantahkan dan membinasakan manusia.

Masihkah kita sombong kalau bencana seperti ini terjadi? Jawabannya, tak ada yang patut disombongkan oleh makhluk-makhluk lemah seperti manusia ini. Kekuatan manusia tak sebanding dengan kekuatan alam. Maka, sebagai manusia, kita hendaknya tak bersombong diri.

Pray For Lombok
Loc. Uluwatu, Batu

Kamis, 02 Agustus 2018

Lakukan Yang Terbaik Saat Ini

Ada hal yang lebih perlu dilakukan daripada menyesali masa lalu yang telah usai dan tak mungkin bisa diputar kembali kecuali sebatas kenangan. Hal itu adalah memperbaiki diri dan memperjuangkan cita-cita yang belum tercapai saat ini.

Setiap orang punya masa lalu dan punya masa depan. Keadaan seseorang saat ini tidak lepas dari sumbangsih masa lalu yang telah seseorang lakukan. Masa depan seseorang juga tidak akan lepas dari sumbangsih yang saat ini seseorang lakukan.
Kita tak perlu kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahan di waktu itu. Dan kita juga tak perlu pergi ke masa depan untuk merencanakan sesuatu. Cukup jalani dan lakukan sebaik-baiknya apa yang sudah menjadi tugas dan kewajiban kita saat ini. Karena melakukan sesuatu yang terbaik saat ini adalah cara memperbaiki kesalahan masa lalu dan juga mempersiapkan masa depan yang lebih tertata.

Maka jalanilah hidup ini dengan sewajarnya. Gunakan waktu saat ini dengan sebaik-baiknya, karena waktu yang sudah lewat tak mungkin bisa ditarik  balik. Jangan sia-siakan hidup ini dengan menyesali masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan yang belum pasti. Yakinlah pasti bisa.

Barang kali dalam perjalanannya, kita akan menemui banyak rintangan yang menghadang, belokan tajam, atau lorong-lorong gelap yang bisa saja membuat kita merasa lelah dan ingin menyerah. Namun, kita harus ingat bahwa hidup memang tak semulus angan-angan. Jalanan terjal, belokan, atau gelap pun merupakan bagian dari perjalanan hidup yang mesti dilewati dengan keteguhan hati.

Rintangan-rintangan itu adalah tempaan yang mengajarkan kita menjadi lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih mengerti bagaimana menyikapi masalah yang semacamnya. Jangan menyalahkan rintangan yang menghadang atau mengkambinghitamkan orang lain sebagai penyebab kegagalan kita. Kita harus belajar dari nelayan yang tak pernah menyalahkan ombak meskipun ombak sering menghantam kapalnya berkali-kali.

Rabu, 01 Agustus 2018

Hujan Badai

Geluduk menggelegar bersama deras hujan yang berjatuhan. Angin menyambar-nyambar apapun yang menghalanginya. Mengamuk mengobat-abitkan dengan sesukanya. Pepohonan dihantam dengan keras hingga jatuh ranting-ranting rapuh berserta daun-daunnya. Kabut tebal turut serta menyeramkan suasana dengan hawa dingin yang tak menentu.



Kota Colombo diguncang angin besar-besaran hari ini. Hujan badai mengguyur kota metropolitan sejak tadi malam. Amukan angin yang tak bisa diredakan menyebabkan beberapa bangunan runtuh dan pepohonan tumbang. Khususnya di bagian pesisir pantai, angin laut bertiup kencang hingga meluluhlantahkan beberapa rumah warga yang tinggal di pesisir pantai.

Musim hujan kali ini dianggap tak membawa berkah sebab hujan yang berlebihan menyebabkan beberapa bencana terjadi. Selain hujan badai, banjir juga menenggelamkan rumah-rumah warga di dataran rendah di sekitar sungai Kelaniya. Tanah longsor yang terjadi di daerah Kandy menyebabkan beberapa rumah warga terkubur.

Alam mengamuk sebagai respon tindakan manusia yang merusak alam. Alam itu seperti cermin, yang mana ketika manusia-manusia merusak alam, maka dengan sendirinya alam akan memberikan reaksi yang serupa. Alam sebenarnya sudah beberapa kali mengingatkan umat manusia supaya menjaga alam dan tidak merusaknya. Ketika manusia memperlakukan alam dengan baik, maka alam pun akan memenerikan perlakuan yang serupa. Alam adalah cermin dari tindakan manusia. Namun karena keserakahan manusia, alam dihabisi tanpa memikirkan dampaknya.

Hujan deras ini menyebabkanku tak bisa mengikuti perkuliahan. Dan aku mendapat kabar bahwa perkuliahan memang sengaja diliburkan sehubungan dengan cuaca buruk ini. Aku berdiam di dalam kamar menggarap tugas-tugas yang mesti dikerjakan. Namun sontak aku terbangun ketika pohon di samping kamarku tumbang akibat amukan angin yang berlangsung ribut bersama hujan.



Pohon itu tumbang menjatuhi bangunan vihara. Rimbun dedaunannya menyandar di atap bangunan. Namun sepertinya tidak banyak kerusakan, sebab pohon yang tumbang ini tidak terlalu besar dan kalah kuat dengan dinding bangunan vihara yang tebal dan kuat. Belum bisa dipastikan seberapa besar kerusakan bangunan, karena hujan masih turun lebat.

Mewujudkan Harapan

Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...