Kamis, 27 September 2018

Sawang Sinawang

Urip iku pancen sawang sinawang. Nyawang uripe wong liya kaya luwih kepenak, luwih mapan, lan serba luwih sak liyan-liyane. Padahal sejatine wong seng disawang iku ora kaya sak nyatane. Dheweke ugi nyawang wong liya kaya uripe luwih kepenak. Dadi pada sawang-sawangan, nanging ora nyawang sak nyatane. 

Urip iku owah gingsir kaya dene cakra kang mlaku muter. Ing sajroning urip ana susah lan ana bungah, ana untong lan ana rugi, ana dianggep lan ana ora dianggep, ana dipuji ugi ana diece. Wolung panandang iki bakal muter siji siji kaya dene mutere cakra. Kadhang ana nduwur kadhang ana ngisor. Ora ana wong urip sing bungah terus-terusan tanpa ngrasakake susah. Kadhang-kadhang wong kui bakal nemoni susah barang. Ora ana wong urip sing terus-terusan untong tanpa ngrasakake rugi. Pisan pindo mesti bakal entuk rugi. Semana uga wong seng dianggep ugi bakal nemoni ora dianggep, wong seng kerep dipuji-puji bakal nemoni diece dan didak-idak liyan. 

Mula kuwi yen nyawang wong liya aja mung disawang penake tok. Ora usah meri karo uripe wong liya. Yen kana uripe ketok kepenak, ora mesti uripe pancen kepenak. Mula yen lagi untong, aja lali yen mengka bakal nemoni rugi. Yen lagi bungah, mengka bakal nemoni susah. Yen lagi dianggep, mengka bakal nemoni ora dianggep. Yen lagi dipuji, mengka bakal nemoni diece. Sejatine wong kang urip ing alam donya iki bakal nemoni wolung panandang iki siji-siji. 

Aja cilik ati yen lagi nandang susah. Aja gedhe ati yen lagi nandang bungah. Panandang kang kita sebut susah bungah kui sejatinipun ora ajeg. Sakwayah-wayah isoh owah. Seng sugeh durung mesti bakal sugeh terus. Seng mlarat durung mesti bakal mlarat terus. 

Kepedulian adalah bahasa universal

Kepedulian adalah bahasa universal yang bisa dipahami oleh siapa saja tanpa perlu mempelajarinya. Orang buta bisa melihat indahnya kepedulian. Orang tuli bisa mendengar lembutnya kepedulian. Orang cacat bisa menyentuh hangatnya kepedulian. Siapapun bisa memahami bahasa universal ini. Saling menolong adalah bentuk kepedulian. Saling berbagi adalah bentuk kepedulian. Saling memotivasi di dalam kebaikan adalah bentuk kepedulian. 

Jangan berpikir sempit bahwa kasih dan kepedulian hanya milik agama tertentu, atau milik organisasi tertentu. Kepedulian dan kasih sayang sifatnya universal, seperti udara yang siapapun boleh menghirupnya. Karena itulah kepedulian bisa dipraktikkan oleh siapa saja dan manfaatnya bisa dirasakan oleh siapa saja. 

Selalulah berbuat baik karena itu adalah cara mewujudkan kepedulian dalam tindakan nyata. Orang yang selalu berbuat baik menunjukkan kepeduliannya terhadap orang-orang di sekitarnya dan juga dirinya sendiri. Sifat dari perbuatan baik adalah bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan kedua belah pihak. Siapapun yang berbuat baik berarti ia peduli pada dirinya sendiri dan juga orang lain.

Berbuat baik sesungguhnya tak begitu sulit. Hanya saja banyak orang memberati diri mereka dengan definisi perbuatan baik yang begitu berat dan membutuhkan pengorbanan. Padahal berbuat baik tak harus diartikan sebagai perbuatan yang besar. Hal-hal yang sepele yang memberikan kenyamanan orang lain juga merupakan kebaikan. Tersenyum atau menyapa hangat ketika bertemu orang lain sudah termasuk perbuatan baik. Bersikap ramah terhadap orang lain dan menghormati orang yang lebih tua adalah bentuk perbuatan baik yang sederhana dan mudah dilakukan oleh siapa saja. 

Dengan mulai membiasakan diri untuk selalu berbuat baik, mulai dari perbuatan-perbuatan yang sederhana, melakukan perbuatan baik yang besar tidak akan menjadi sulit untuk dilakukan. Kebaikan-kebaikan kecil tersebut tak boleh diremehkan, sebab kebaikan-kebaikan yang terus dilakukan berulang-ulang akan memberikan manfaat yang besar bagi si pembuat kebaikan. Diibaratkan seperti tetesan air hujan yang meneteskan tetesan demi tetesan lama kelamaan akan membuat ember yang menampungnya menjadi penuh. Demikian juga kebaikan yang dilakukan secara terus menerus akan terkumpul dengan sendirinya dan menjadi banyak sehingga dapat membuahkan manfaat yang begitu besar.

Berbuat baik adalah cara menjadikan hidup menjadi lebih bermakna. Sekadar hidup tanpa melakukan kebaikan seperti batu yang karang yang tak memberikan manfaat. Terlahir sebagai manusia adalah anugrah terbesar dalam hidup, di mana kita bisa menjadikan hidup kita menjadi lebih bermakna dan berguna bagi banyak orang. Manusia adalah makhluk yang memiliki otak yang bisa dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kebaikan banyak orang. Maka gunakan akal manusia dengan benar agar kita benar-benar menjadi manusia yang sesungguhnya. 

Minggu, 23 September 2018

Ke Kandy

Semilir angin mendesir seiring kereta yang melaju dengan kecepatan tinggi. Pemandangan hijau menghiasi sepanjang jalan menuju kota Kandy. Sabana hijau terbentang di antara jalur rel kereta api. Ada hawa sejuk bercampur hangat tatkala sinar matahari bertemu dengan hawa dingin pegunungan.



Ceritanya kemarin, aku dan teman-teman memutuskan untuk pergi ke Kandy. Sungguh bukan perjalanan yang terencana jauh-jauh hari. Keinginan yang terlintas seketika berwujud pada tindakan nyata. Salah satu temanku memberitahuku bahwa ia dan teman-temannya ingin berburu buku di sebuah toko buku terkenal di Kandy. Ajakan itu pun seketika ku setujui dengan mengajak salah satu temanku yang lain.

Kita berangkat pagi-pagi buta dengan sebuah kereta dari kota Colombo menuju kota Kandy. Setelah menyumpal lapar dengan sepotong roti sosis di sebuah kedai di stasiun, perjalanan pu  dimulai. Kereta yang kita tumpangi meninggalkan kota Colombo persis jam tujuh pagi.

Kandy adalah destinasi yang menarik, sebab Kandy merupakan destinasi bagi setiap turis mancanegara yang berkunjung ke Sri Lanka. Selain terkenal dengan Buddha's Tooth Relic Temple, Kandy juga terkenal dengan kawasan pegunungannya. Selain hawanya sejuk, pemandangannya pun sungguh luar biasa.

Di sepanjang jalan menuju Kandy, pemandangan pegunungan terpampang indah. Jalur kereta api yang membelah perbukitan membuat kita kita benar-benar masuk dalam kawasan hutan atau kebun  yang jarang dijamah manusia. Lorong-lorong bawah tanah adalah hal yang menarik dari lintasan ini. Berkali-kali anak-anak muda berteriak riang saat kereta yang kita tumpangi memasuki lorong bawah tanah. Suaranya pun menjadi menggema sepanjang lorong berakhir.

Anak-anak berpose riang saat kereta melintasi lintasan curam di lereng-lereng pegunungan. Dari sini sungguh, pemandangan yang mempesona terpampang di hadapan mata.

Rabu, 19 September 2018

Diam Menerjemahkan Seribu Bahasa

Ada diam yang menerjemahkan seribu bahasa. Ada kosong yang menyuratkan rumitnya filsafat hidup. Diam tersebut adalah melihat ke dalam diri sendiri, mengamati setiap momen yang selalu berubah-ubah. Kosong tersebut adalah pengertian mendalam tentang hakekat hidup yang tanpa substansi, tanpa diri yang abadi.

Hidup memang tak serumit menghitung butiran pasir di pantai. Namun memahami hakikat hidup tidaklah semudah melihat bercak hitam di lembaran kertas putih. Yang tampak oleh mata kepala sering kali bias dengan realitanya. Banyak kefanaan yang terbungkus dengan keberadaan. Dunia yang seolah-olah gemerlap dengan banyak kesenangan sejatinya menyimpan banyak penderitaan atau ketidakpuasan. Menikmatinya adalah awal dari ketagihan yang menebalkan kemelekatan terhadapnya. Melekatinya adalah awal ketidaksanggupan untuk melepaskannya. Dan apabila terjadi hal yang tak diinginkan, kesedihan menghantam begitu dasyat hingga tak sempat untuk menyelamatkan diri. Perpisahan menjadi alasan dari sebuah kesedihan. Kehilangan menjadi alasan sebuah penderitaan.

Sungguh mudah melihat cacat orang lain daripada diri sendiri. Sungguh mudah menilai orang lain daripada diri sendiri. Memang seperti itu, melihat noda hitam lebih mudah daripada melihat lembaran putih yang masih bersih lainnya. Mencela satu kesalahan orang lain lebih mudah daripada mengapresiasi kebaikan lain yang masih tersisa. Padahal kalau dibandingkan dengan kebaikan yang lain, keburukan itu bisa jadi tak seberapa, namun karena mata memberikan perioritas padanya, maka yang muncul adalah keburukannya. Akibatnya banyak orang salah menilai seseorang hanya satu keburukan yang tampak.

Minggu, 16 September 2018

Cintai Ibu dan Bumi Pertiwi

Dalam kitab Ramayana, terdapat sebuah syair menarik yang berbunyi ''जननी जन्मभूमिश्च स्वर्गादपि गरीयसी'' yang artinya Ibu dan bumi pertiwi lebih mulia daripada surga. 

Di Indonesia sendiri kitab Ramayana sudah sangat membumi dan beberapa nasihat-nasihat penting dari kitab ini sudah mengakar kuat di jiwa nusantara. Tatakrama dan budi pekerti luhur adalah ciri masyarakat nusantara waktu itu. Orang-orang zaman dulu sangat lugu, sopan dan menghormati satu sama lain. Perbedaan bukanlah masalah yang serius untuk disalahkan. Masing-masing orang menghargai perbedaan dan menerimanya sebagai hal yang lumrah. Perbedaan budaya dan agama tak pernah menjadi pemicu konflik. Apa yang baik dari agama lain, mereka adopsi ke agama mereka, dan prinsip yang kurang disetujui dari agama yang mereka anut, mereka diamkan, tidak dipaksakan untuk diterapkan. Itulah mengapa masyarakat zaman dulu cenderung damai, tidak banyak konflik yang menyalahkan orang lain yang tidak sepaham. 

Sekarang ini kita menjumpai banyak pertikaian mengatasnamakan agama. Katanya hanya agama ini yang berhak masuk surga, sementara yang lain adalah sesat, sebaik apa pun mereka di bumi ini, mereka tak akan diperkenankan masuk surga. Seolah-olah surga hanya milik sekelompok orang tertentu. Salah menyalahkan menjadi tak bisa dihindari. Konflik verbal menjadi pemicu konflik fisik. Konflik ini menyebabkan kita menjauh dari kedamaian dan keutuhan bangsa. 

Demi mengejar surga yang sering diceritakan indah, banyak orang lupa tentang pentingnya kehidupan saat ini. Beberapa kriminalitas terjadi atas nama surga. Katanya dengan melakukan itu, ada jaminan surga baginya. Sungguh ini adalah pemahaman yang miris. Sebab sampai kapanpun, kejahatan atau tindakan yang merugikan orang lain, tak akan pernah mengantarkannya pada surga yang sebenarnya. 

Kita harus kembali menilik naskah kuno yang sudah lama diajarkan di tanah air kita ini. Petikan syair di atas harusnya menyadarkan kita betapa pentingnya hidup di bumi ini, dengan mencintai ibu dan juga tanah air. Tak perlu jauh-jauh memikirkan surga, kalau kita mencintai dan merawat ibu dan bumi pertiwi ini dengan baik, kita sudah merasakan nikmatnya surga. Ketika kita hidup damai, bebas dari benci dan iri hati, bermanfaat bagi banyak orang, sesungguhnya kita sudah mencicipi surga di bumi ini. 

Kalau di bumi ini saja kita tak mencintai dan merawat ibu dan bumi pertiwi ini dengan baik, bagaimana kita bisa mendapatkan surga? Ibu dan bumi pertiwi ini lebih mulia daripada surga, karena mereka nyata. Mereka menyertai kehidupan kita di sini. Sementara surga tak lain adalah cerita turun temurun yang sering digambarkan dalam kitab suci. Namun tak seorang pun mampu membuktikan kebaradaanya. Karena surga adalah hal yang abstrak maka definisi surga pun bermacam-macam. Yang kasat mata saja banyak interpretasi yang berbeda, apa lagi yang tak kasat mata? Ambil contoh saja definisi hujan. Hujan turun dengan jelas dan terlihat oleh mata kepala. Namun apakah hujan hanya berdefinisi satu? Jawabannya tidak. Ada banyak interpretasi berbeda mengenai hujan. Orang-orang religius menyebutnya sebagai anugrah Tuhan, karena air hujan akan menyuburkan tetumbuhan di bumi ini. Para ilmuan menyebutnya proses alamiah dari alam yang terbentuk dari air yang menguap karena panas matahari, uap tersebut membentuk awan-awan kecil yang kemudian menjadi besar setelah bersatu dengan bantuan angin. Kandungan air di awan yang semakin besar menyebabkan awan tak dapat menampung air dan akhirnya turunlah hujan. Bagi beberapa penyair, hujan adalah rintikan inspirasi untuk menciptakan karya tulis. Beberapa mendefinisikan air sebagai rintikan air yang turun bersama kenangan yang masih menggenang bak pelataran saat hujan turun. Intinya ada banyak definisi hujan.

Hujan saja yang jelas-jelas terlihat oleh mata memiliki ribuan definisi dan interpretasi. Lalu mengapa kita memperdebatkan keanekaragaman definisi surga yang jelas-jelas tak terlihat oleh mata kepala? Syair dalam Ramayana itu sama sekali tak bermaksud memaksa orang untuk tidak mempercayai surga. Hanya saja jangan sampai kita melupakan tugas dan kewajiban hidup saat ini demi mengejar surga yang masih katanya. Jangan sampai untuk mengejar surga, kita mengabaikan ibu dan bumi pertiwi ini. Maka cintailah ibu dan bumi pertiwi ini, karena mereka adalah wujud nyata dari keberadaan surga di kehidupan ini. 

Sabtu, 15 September 2018

Cintailah Tanah Air Indonesia

Cintailah tanah air Indonesia. Mencintai tanah air bukan berarti harus mencium tanah berlumpur di dalam genangan air seperti yang pernah aku lakukan karena pembodohan yang dilakukan oknum-oknum tertentu atas nama Pramuka. Iya, waktu itu kita ditanya “Apakah kalian cinta tanah air Indonesia?” Tentu saja jawabannya adalah iya, karena kita Indonesia, lahir dan tumbuh di Indonesia, sudah seharusnya kita mencintai tanah air Indonesia ini. Namun jawaban itu sepertinya tak memuaskan bagi si penanya. Bukannya mendapat apresiasi dan motivasi yang mendidik supaya menjadi orang yang mencintai negeri ini dengan benar, orang-orang itu malah menghukum kita supaya mencium tanah berlumpur di dalam genangan air, dengan ancaman kalau tidak melakukannya kita akan mendapatkan hukuman yang lebih berat. 

Mencintai tanah air Indonesia tentu bukan begitu caranya. Mencintai tanah air Indonesia yang sesungguhnya adalah dengan menjadi orang-orang yang berjiwa patriotrisme, menjaga tanah air ini supaya tidak rusak, menjaga kerukunan dan persatuan bangsa, dan menjadi individu yang bermanfaat untuk bangsa. Kalau kita benar-benar mencintai Indonesia, kita tak mungkin akan merusak alam Indonesia, mengeksploitasi alam untuk kepentingan sendiri. Kalau kita benar-benar mencintai Indonesia, kita tak akan mungkin memecah belah persatuan bangsa, meruntuhkan kerukunan dengan berbagai tindakan yang membuat rakyat Indonesia menjadi terbecah belah. Kalau kita mencintai Indonesia, kita akan membuat negeri kita menjadi semakin maju dan berkualitas baik, bukan malah sebaliknya. 

Di era di mana patriotrisme kita yang semakin menipis ini, kita seharusnya sadar bahwa mencintai tanah air Indonesia adalah kewajiban kita semua sebagai rakyat Indonesia. Indonesia adalah negara demokrasi yang semua keputusan ditentukan oleh rakyat. Oleh karena itu, mencintai Indonesia dan menjaga persatuan Indonesia, bukan hanya tugas para pemimpin bangsa atau para pejabat daerah semata, melainkan itu adalah tugas kita semua sebagai rakyat Indonesia. Kita semua bertanggung jawab atas apa yang terjadi di negeri kita. Segala sesuatu adalah sebab dan akibat yang komplek, maka dari itu menjadikan Indonesia maju dalam segala aspek, membutuhkan campur tangan kita semua. Kita semua dituntut untuk bersatu padu dalam upaya memajukan negera. Jangan karena beda pendapat dan pilihan, kita mengabaikan negeri kita. Kita harus bersatu, siapapun pemimpinnya, karena nasib Indonesia, bukan hanya di tangan satu pemimpin, melainkan di tangan seluruh rakyat Indonesia. 

Belakangan ini, isu-isu negatif digoreng oleh sekelompok orang yang ingin menjatuhkan citra Indonesia. Akibatnya ada konflik yang bukan hanya memecah belah persatuan bangsa, tetapi juga konflik yang mengancam keberadaan pemimpin bangsa kita. Isu-isu ras, agama, ekonomi, dan hutang didesain sedemikian rupa untuk menjatuhkannya. Sangat disayangkan hal ini terjadi di negeri kita. Di luar sana, orang-orang mengapresiasi baik kinerjanya. Ini terbukti dari beberapa kemajuan bangsa yang mengangkat nama baik negeri kita. Namun sayangnya di kandang sendiri, hujatan demi hujatan dilemparkan kepadanya. 

Kita harus belajar menjadi masyarakat yang cerdas. Jangan sampai kita diadu domba oleh orang-orang yang hanya mementingkan kekuasaan sendiri. Nasib bangsa kita berada di tangan kita semua. Jangan gadaikan keutuhan bangsa dengan janji-janji palsu yang belum jelas. Jangan mudah tertipu oleh berita-berita bohong yang dengan sengaja dibuat-buat. Lihatlah, Indonesia sekarang ini sudah semakin maju. Bangsa lain memuji-mujinya. Terus tingkatkan kemajuan ini. Besatupadulah untuk mengembangkan negeri tercinta ini. Dukunglah orang-orang yang mengemban tugas penting dalam pemerintahan negeri ini. Negeri kita akan mudah berkembang bila rakyat dan para pejabat bersatu padu, bahu membahu, dan bekerja sama untuk kepentingan bersama. 

Mewujudkan Harapan

Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...