Kamis, 26 Juli 2018

Maafkan Aku Janapada Kalyani

Maafkan Aku Janapada Kalyani

Cerita ini diadopsi dari Nanda Sutta dan Dhammapada Aṭṭhakathā

Sinar sang baskara kembali memberi kehangatan kepada dunia hari ini. Burung-burung menyambutnya dengan riang. Bunga-bunga bermekaran indah menghiasi kota Kapilavatthu. Langit cerah berhiaskan awan kumulus hari ini mengiringi kebahagianku yang tak dapat kubahasakan menjadi kata. Orangtuaku memang tepat menamakanku Nanda, yang berarti yang bergembira.

Aku sangat beruntung terlahir di keluarga kerajaan. Kebajikan-kebajikan yang kulakukan di kehidupan yang lampau mengantarkanku pada semua keberuntungan dan kebahagiaanku di kehidupan ini. Mengingat kakak sepupuku sekaligus kakak tiriku, Pangeran Siddhattha pergi meninggalkan istana dan sekarang telah menjadi Buddha, aku ditunjuk oleh ayahku untuk menggantikan posisinya sebagai putra mahkota. Aku dan Pangeran Siddhattha memang saudara sepupu. Ibuku dan ibunya adalah kakak beradik. Selain itu, aku dan Pangeran Siddhatta juga bersaudara, karena Raja Suddhodana adalah ayah kami berdua. Ibu pangeran Siddhattha adalah Dewi Maha Maya. Sementara ibuku adalah Maha Pajapati Gotami, adik dari Dewi Maha Maya yang juga merupakan istri kedua dari Raja Suddhodana. Sejak Dewi Maha Maya meninggal, ibuku menjadi istri utama dari raja. Dan sejak saat itu, aku dan Siddhattha mendapat susu yang sama dari ibuku. Secara umur aku hanya beberapa hari lebih muda dari Siddhattha.

Rencananya, di umurku yang ke tiga puluh lima tahun ini, aku akan dinobatkan sebagai putra mahkota sekaligus dinikahkan oleh gadis tercantik sejanapada.
Janapada Kalyani terkenal di segala penjuru karena kecantikannya. Dia adalah gadis perawan tercantik di antara gadis-gadis yang lainnya. Itulah mengapa ia disebut sebagai Janapada Kalyani atu Keanggunan Kerajaan. Banyak pangeran yang menaksirnya. Ia adalah gadis primadona bagi para lelaki. Aku sungguh beruntung bisa mendapatkannya. Bagiku tidak ada gadis yang melebihi kecantikannya. Di adalah nomer satu dan satu-satunya pujaan hatiku.

Hari ini adalah hari tunanganku dengan Putri Janapada Kalyani. Kakak sepupuku, Sang Buddha, hari ini hadir di sini menerima undangan makan. Ini adalah hari ketiga kunjungan beliau ke kerajaan Kapilavatthu setelah pencapaian penerangan sempurna.

Hari sebelumnya kedatangan beliau disambut meriah oleh penduduk kota dan keluarga kerajaan. Ayahnya, Raja Suddhodana sangat merindukannya. Apalagi, mantan istrinya, Yasodhara, sudah begitu berat merindukannya. Anaknya, Rahula, yang ditinggal pergi saat kelahirannya, akhirnya bertemu dengan ayahnya untuk yang pertama kali.

Hari ini juga sama dengan sambutan itu. Bahkan lebih meriah, sebab setelah mendengar khotbah-Nya, orang-orang di istana memperoleh keyakinan yang kokoh terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha. Apalagi hari ini adalah hari pernikahanku dengan Janapada Kalyani. Di momen yang spesial ini, kita semua sangat bahagia menyambut kedatangan Buddha bersama murid-muridnya.

Kami melayaninya dengan penuh hormat dan menjamunya dengan makanan-makanan yang disajikan dengan apik. Ada makanan keras dan makanan lunak yang sengaja kami persiapkan dengan kualitas yang terbaik. Setelah perjamuan dirasa cukup, Sang Buddha memberikan mangkuknya kepadaku untuk kubersihkan. Aku membersihkannya dengan tanganku sendiri. Tapi aku tak mengerti, mengapa Sang Buddha tidak mengambil mangkuknya lagi dan bergegas meninggalkan kerajaaan. Mangkuk itu masih berada di genggaman tanganku.

“Ah mungkin Sang Buddha akan mengambil mangkuk-nya di pintu gerbang istana,” pikirku.

Dan aku masih tetap berjalan mengikuti-Nya sambil membawakan mangkuk-Nya di tanganku. Aku berjalan perlahan, dengan penuh hormat, menuju pintu gerbang istana.

Melihatku berjalan mengkuti Sang Buddha, terlihat samar-samar Putri Janapada Kalyani berlari mengejarku. Tangannya melambai-lambai dan berteriak “Sayangku. Jangan kau pergi terlalu lama. Kembalilah dengan segera.”

Aku menoleh sebentar dan menganggukkan kepala, sebab kalau aku membalasnya dengan teriakan aku takut suaraku mengganggu Sang Buddha. Aku hanya tersenyum kecil, karena aku juga menghargai Sang Buddha dan murid-muridnya yang berjalan dengan ketenangan.

Aku masih berjalan mengikuti-Nya. Kita sudah melewati gerbang istana, namun rupanya Sang Buddha tidak mengambil mangkuknya dari tanganku. Beliau tetap berjalan. Aku takut dan sungkan untuk memberikannya di pertengahan jalan. Akhirnya kuputuskan untuk terus mengikuti-Nya hingga akhirnya kita sampai di vihara. Sesampainya di vihara, aku persembahkan kembali mangkuk itu kepada-Nya.

“Sang Buddha, ini mangkuk Sang Buddha,” ucapku lembut dengan penuh hormat sambil menyodorkan kedua tangan ini di hadapan-Nya.

Saat menerima mangkuk itu, Sang Buddha bertanya kepadaku “Nanda. Apakah kamu mau jadi bhikkhu?”

Aku pun terkejut dan terdiam kaku. Namun karena rasa hormat ini, aku sungkan untuk menolak. Berat sekali untuk mengatakan ‘Maaf Bhante, aku tidak bisa, karena Janapada Kalyani menungguku.” Mulutku pun akhirnya mengatakan “Iya Bhante.”

Hari ini juga aku ditahbis menjadi bhikkhu. Aku kini telah memakai panji suciwan yang membuatku dihormati oleh banyak orang. Tapi bukannya malah senang bisa menjadi bhikkhu dan ditahbis oleh Sang Buddha sendiri, aku malah merasa menyesal karena aku telah meninggalkan tunanganku sendirian, menantiku untuk pulang segera. Wajah cantiknya terngiang-ngiang dalam hatiku.

Malam demi malam kulalui. Namun aku tak bisa menggenggam rindu yang begitu hebat ini. Aku ingin meleburkan rindu ini dengan temu. Rindu ini hanya untuk Janapada Kalyani. Aku rindu dengan senyumannya. Aku rindu tuk membelai rambut ikalnya. Aku ingin mencubit pipinya. Aku tak mampu melepaskannya. Dalam setiap diamku, rindu ini selalu muncul dan menggerogoti ketenanganku.

Aku memang bukanlah bhikkhu sebagaimana bhikkhu dengan arti yang sebenarnya. Saṃsāre bhayaṃ ikkhatīti bhikkhu. Bhikkhu adalah dia yang melihat ketakutan akan lingkaran tumimbal lahir. Tujuannya menjadi bhikkhu adalah untuk terbebas dari lingkaran samsara. Sementara aku masih terlalu duniawi. Meskipun aku memiliki keyakinan yang kuat terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha, namun aku masih terikat pada kesenangan duniawi. Hanya dia yang memenuhi seluruh isi otakku. Dia, Janapada Kalyani.

Belum lama menjadi bhikkhu, aku sungguh tersiksa dengan pikiranku sendiri yang merindukan Janapada Kalyani. Aku ingin kembali ke kehidupan semula. Aku ingin lepas jubah dan kembali membangun kehidupan rumah tangga dengan gadis pujaanku. Aku tak pantas mengenakan panji suciwan sementara batinku merindukan keelokan Janapada Kalyani.

Aku yakin Janapada Kalyani juga merasakan hal yang sama seperti yang kualami. Aku tak mau menanggung kerinduan ini sendirian. Aku cemas, resah, dan galau memikirkan ini. Hari-hariku menjadi murung dan tak bersemangat.

“Avuso. Ada apa dengan dirimu? Kau tampak gundah gulana memikirkan sesuatu.” Para bhikkhu bertanya kepadaku setelah melihatku murung belakangan ini.

“Tidak apa-apa Bhante,” jawabku lesuh.

“Beneran? Tapi kamu tampak memikirkan sesuatu?”

“Iya Bhante. Sebenarnya aku selalu terngiang-ngiang dengan pesan tunanganku untuk pulang segera. Aku ingin menepati janjiku. Aku ingin kembali ke kehidupan seperti semula.”

Sang Buddha ternyata telah membaca pikiranku. Di samping itu, para bhikkhu akhirnya juga melaporkan kegelisahanku ini. Maka dari itu, Beliau tahu bahwa aku sudah tidak betah menjalankan praktik suci ini.
Beliau hari ini memanggilku karena ada sesuatu yang ingin beliau tunjukkan. Aku menemuinya dengan penuh hormat, berusaha mungkin menutupi kegelisahan ini.

“Nanda. Apakah kamu terngiang-ngiang dengan tunanganmu?” tanya Sang Buddha kepadaku.

Aku terkejut. Padahal aku belum memberitahukan hal ini kepada-Nya.

“Iya Bhante. Aku selalu teringat dengan tunanganku yang memanggilku untuk segera pulang,” jawabku dengan muka menunduk, sebab sekarang aku tak bisa menyembunyikan kegelisahan ini lagi. Ini mungkin saatnya, aku harus terang-terangan supaya diizinkan lepas jubah dan kembali ke istana.

Tiba-tiba beliau memegang tanganku dan sesaat aku bak tak sadarkan diri. Perlahan aku membukakan mata dan ternyata kusadari bahwa Sang Buddha mengajakku ke dunia lain. Beliau membawaku menuju alam devata Tavatimsa. Dalam perjalanan, Sang Buddha menunjukkanku hutan yang terbakar di mana terdapat seekor monyet rakus yang sedang duduk di atas dahan yang terbakar. Telinga, hidung, dan ekornya juga terbakar pula. Jelek dan tak enak dipandang.

Secepat kilat bagaikan satu kali kedipan mata, aku dan beliau kini sampai di surga Tavatimsa. Luar biasa indahnya surga Tavatimsa. Dari sini kulihat Deva Sakka, raja para dewa, sedang dikerumuni oleh ratusan bidadari cantik. Beberapa kali aku mengucek kedua mataku dan mencubit diriku sendiri, ternyata ini bukanlah mimpi. Aku benar-benar melihat bidadari-bidadari cantik. Kecantikan para penari istana hanyalah olesan kosmetik, sementara mereka terlihat seperti alami. Luar biasa cantiknya. Kulitnya bercahaya cemerlang.

“Nanda. Tidakkah kau lihat lima ratus bidadari cantik yang mengerumuni Dewa Sakka itu?” tanya Sang Buddha kepadaku.

“Saya melihatnya Bhante,” aku menjawabnya dengan penuh kekaguman dan sedikit gugup sebab aku belum pernah melihat kecantikan seperti itu.

“Lebih cantik mana tunanganmu dengan para bidadari itu?”

“Tentu cantikan para bidadari itu Bhante. Janapada Kalyani tidaklah sebanding dengan mereka. Ia hanya seperti monyet malang yang terbakar hidung dan ekornya yang kita lihat sewaktu perjalanan.”

“Kamu mau para bidadari itu menjadi milikmu?”

“Tentu saja Bhante. Satu bidadari saja bagiku luar biasa, apalagi kalau bisa mendapatkan lima ratus bidadari itu.”

“Beruntunglah kau Nanda. Kau bisa mendapatkan mereka semua apabila kamu mau berjuang keras dan bertahan menjadi bhikkhu.”

“Sungguh? Semua? Kalau begitu saya mau tetap menjadi bhikkhu.”

Setelah pulang dari alam dewa itu, aku kini semakin lebih giat menjalani praktik sebagai bhikkhu. Aku ingin tetap menjadi bhikkhu. Bagiku Japada Kalyani tidaklah seberapa dengan para bidadari itu. Aku berharap semoga aku bisa mendapatkan bidadari-bidadari itu, seperti dewa Sakka, raja para dewa, yang memiliki keberuntungan itu. Aku ingin tetap menjadi bhikkhu supaya tujuan itu tercapai.

Berita bahwa aku menjadi bhikkhu dengan tujuan mendapatkan bidadari-bidadari cantik telah menyebar ke para bhikkhu yang lain. Bukannya tanggapan baik, tapi malah tanggapan buruk yang kuterima. Banyak celaan dan hiaan dilontarkan kepadaku.

“Selamat pagi bhikkhu sewaan, rendahan,” para bhikkhu muda itu meledekku.

“Apa kau bilang? Bhikkhu buruh harian, rendahan?” Kemarahanku sudah di batas ubun-ubun. Aku marah.

“Iya. Kamu kan menjadi bhikkhu hanya untuk mendapatkan bidadari-bidadari cantik. Ha ha ha.” Sambil tertawa mereka pergi meninggalkanku.

Aku terpukuk malu. Kusadari memang demikian. Aku malu dengan ejekan mereka. Sungguh malu. Aku tak tahu di mana aku harus meletakkan mukaku. Aku putuskan untuk menyendiri. Aku pergi ke tempat terpencil dan kupusatkan perhatianku pada objek meditasi yang kupilih. Aku ingin melepas semua keinginan konyol itu. Aku akan berjuang untuk menjadi bhikkhu yang sesungguhnya.

Setelah aku berjuang dengan sunguh-sungguh, akhirnya aku pun dapat menembus kebenaran ini. Aku berhasil membabat tuntas kilesa hingga akar-akarnya dan menjadi arahat. Kelahiran telah kuhancurkan. Kehidupan suci telah kujalani. Apa yang harus kulakukan telah kulakukan. Aku tidak akan dilahirkan kembali di tempat mana pun juga.

Pada malam ini pula, aku pergi menuju kuti Sang Buddha untuk memberitahu kabar gembira ini. Rupanya Sang Buddha sudah tahu, karena sesosok dewata telah memberitahukannya.
Setelah melakukan penghormatan kepadanya, aku duduk bersimpuh dan menceritakan semua ini.

“Bhante. Saya telah membebaskan Sang Tathagata dari janji yang menggaransikan aku untuk mendapatkan lima ratus bidadari apabila aku tetap menjadi bhikkhu.”

“Nanda. Aku pun sudah tahu. Aku mengetahui pikiranmu dan melihat bahwa kau telah melenyapkan kekotoran batin dalam kehidupan ini, menembus, merealisasikan, mencapai tujuan tertinggi, seimbang, dan bijaksana. Begitu kau terbebas dari ikatan-ikatan keinginan duniawi, dan telah merealisasi tujuanmu, pada saat itu pula aku terbebas dari janjiku.”

Sang Buddha berkata bahwa aku bagaikan atap bocor yang sudah diperbaiki. Sejak aku menjadi bhikkhu dengan berkeinginan untuk mendapatkan lima ratus bidadari, kini aku telah terbebas darinya dan telah mencapai apa yang harus kucapai sebagai bhikkhu. Tentu, tujuan itu bukanlah Janapada Kalyani ataupun lima ratus bidadari itu, tetapi Nibbāna yang telah kurealisasi saat ini. Janapada Kalyani memang cantik. Begitu juga para bidadari itu. Tapi Nibbana melebihi semua itu. Maafkan aku Janapada Kalyani. Semoga kau memahamiku dan mampu menjadi sepeti aku.

Note: Pada akhirnya Janapada Kalyani juga menjadi bhikkhuni dan mencapai arahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mewujudkan Harapan

Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...