Jumat, 17 Agustus 2018

Bekas kesedihan

Tempat ini masih membekaskan kesedihan di balik kepergian sosok yang dihormati dan dituakan. Suasana duka masih terasa menyelimuti pasca upacara kremasi agung yang dihadiri ribuan orang lokal dan mancanegara.

Sebuah kepergian yang tak diduga-duga dan tentu tak mungkin dipersiapkan. Namun apa daya, kematian memang bisa datang kapan saja dan siapa saja harus siap tatkala waktunya telah usai.

Bellanwila Rajamaha Viharaya ini menjadi saksi perjalanan panjang Ven. Prof. Wimalarathana Thero. Aku hanyalah sebagian, mungkin hanya sekata atau dua kata yang apabila dituliskan dalam seluruh perjalanan hidupnya.

Ternyata sudah dua tahun lebih aku menginjakkan di negara ini. Dan Bellanwila Rajamaha Viharaya ini juga akan menjadi saksi bisu perjalanan hidupku nanti. Ku pun tak tahu entah sampai kapan aku menuntup catatan terakhirku. Namun kusadar, usia yang semakin bertambah, kekuatan yang semakin melemah, tubuh yang mulai menunjukkan kelapukan, semuanya ini akan berakhir pada kematian juga. Entah kapan. Siapa yang tahu.

Kehidupan selalu berakhir dengan kematian. Pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Dualitas ini tak dapat dipisahkan. Kematian dan perpisahan serasa menjadi momok yang menakutkan dan terasa tabu untuk didengar. Tak seorang pun menginginkan kematian dan perpisahan. Namun inilah realitas kehidupan, yang tak bisa ditolak oleh siapa saja.

Siapa yang hidup pasti akan mati. Dan siapa yang bertemu, pasti akan berpisah. Menolaknya adalah penderitaan. Menerimanya adalah cara membebaskan diri dari penderitaan. Terimalah kematian sebagai kematian tanpa mengikutsertakan kesedihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mewujudkan Harapan

Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...