Jumat, 17 Agustus 2018

Sri Kalyani Dhamma School

Hari ini hari minggu. Anak-anak berpakain putih-putih memenuhi komplek Kelaniya Rajamaha Viharaya. Mereka semua sangaṭ antusias mengikuti Sekolah Minggu. Sudah menjadi aturan di Sri Lanka, bahwa anak-anak pergi ke Sekolah Minggu dengan berseragam putih. Yang perempuan, memakai baju putih khas Sri Lanka - bawahan sarung putih dan atasan baju putih dengan tetap memperlihatkan bagian pinggang. Dan tentu rambut yang harus dikepang dua. Yang laki-laki mengenakan bawahan sarung dan atasan baju putih polos.

Di Kelaniya Rajamaha Viharaya ini terdapat murid sekolah minggu dengan jumlah kurang lebih 470. Dalam proses pembelajarannya, ada yang mengambil kelas dengan medium bahasa Sinhala dan ada yang memilih medium bahasa Inggris.

Kebetulan hari ini saya mengajar dengan medium bahasa Inggris. Metode pembelajaran Sekolah Minggu di sini sangat berbeda sekali dengan yang di Indonesia. Di sini anak-anak sekolah minggu dibagi menjadi beberapa kelas sesuai dengan tingkatannya. Ada materi khusus yang harus diajarkan. Tidak ada permainan. Sepenuhnya diisi pelajaran seperti di sekolah pada umumnya.

Yang begitu mengejutkan, terutama bagi saya pribadi, materi pelajaran yang diberikan bukanlah materi yang mudah. Tadi saya sempat kaget, karena hari ini saya berkewajiban menjelaskan ajaran Kelahiran Kembali kepada anak-anak berusia lima belas tahunan. Jujur saja, saya gak punya banyak materi untuk ngomong tentang Kelahiran Kembali dalam durasi dua setengah jam. Untung ada buku panduan untuk mengajar. Jadi sewaktu saya mengajar mereka, sesungguhnya saya juga sedang belajar.

Aku tak habis pikir, anak-anak seusia itu sudah dijejali dengan materi yang menurutku sangat berat. Tapi bagi mereka mungkin sudah terbiasa karena sejak kecil pun sudah diperkenalkan ajaran Buddha. Makanya tidak heran, dulu ada orang Indonesia yang juga belajar di Sri Lanka, bilang bahwa materi yang diberikan di sini setara dengan materi perkuliahan di STAB di Indonesia. Saya pribadi mengakui bahwa materinya memang tidak gampang. Makanya saya tidak menganggap diri saya sebagai guru di sini, saya hanya fasilitator dan juga teman yang sama-sama masih belajar. Tapi ini sungguh luar biasa.

***

Seperti biasa, saya mengawali kelas dengan mengabsen satu persatu murid yang hadir. Tidak begitu banyak murid yang mengikuti kelas dengan medium bahasa Inggris sebagai pengantarnya. Cuma ada sekitar lima belas murid di kelas 10 ini.

Ketika saya memanggil nama mereka satu per satu, mereka pasti senyum-senyum sendiri sebab logat Jawaku ini begitu ketara dan sering kali terdengar aneh kalau menyebut nama-nama orang Sinhala.



Awalnya mereka mengira kalau saya tidak tahu sama sekali bahasa Sinhala. Makanya mereka membicarakan saya di belakang. Namun seketika saya tanya balik dengan bahasa Sinhala, dan mereka terkejut, bertanya "Bhante bisa bahasa Sinhala." Saya tidak menjawab iya atau tidak, tapi kulanjutkan dengan percakapan dengan bahasa Sinhala. Setelah itu akhirnya mereka tak berani lagi membicarakan saya di belakang, sebab mereka tahu bahwa saya memahami apa yang mereka omongkan.

Saya pikir, anak-anak di negara Buddhis itu pendiam, pemalu, polos, lugu, dll, sebab saya tak pernah mendengar ada tawuran antar sekolah seperti sekolah2 di Indonesia. Pikir ku mereka orang2 yg polos, ternyata setelah mencemplung di dunia mereka, mereka ternyata tak jauh beda dengan anak-anak pada umumnya - usil, urakan, cerewet. Tapi masih dalam batas normal usia anak-anak.

Mereka mengajari saya bahwa pendewasaan bukan untuk dipaksakan. Tingkah dan pemikiran usia anak-anak tidak bisa dan tidak boleh dipaksakan menjadi tingkah dan pemikiran orang dewasa. Kita yang sudah dewasa secara umur seharusnya memandang mereka sebagai anak-anak dengan sifat alaminya. Dan barangkali, orang yang lebih tua daripada kita, juga harus melihat kita di usia ini dengan sifat alaminya. Meskipun pendewasaan tidak ditentukan oleh umur, namun umur memiliki sifat alaminya yang tidak boleh dipaksakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mewujudkan Harapan

Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...