Elegi menggema bersama angin pasca gempa meluluhlantahkan pulau Lombok beberapa hari yang lalu. Lagu klasik karya Ebiet G. Ade yang berjudul ‘Berita Kepada Kawan’ kembali mengiringi setiap potret kesedihan. Lirik-lirik sedihnya mengajak kita menanyakan kenapa bencana ini harus terjadi. Ratap tangis dan air mata tak bisa dibendung melihat kenyataan yang sama sekali tak direncanakan ini.
Gempa kembali mengguncang Lombok dengan dasyatnya. Gempa pertama telah menelan banyak korban jiwa dan menyapu rata bangunan-bangunan. Gempa susulan berskala separuh dari gempa utama juga menyebabkan banyak bangunan runtuh karenanya. Dikabarkan gempa susulan ini juga menelan korban jiwa akibat tertimbun reruntuhan. Getaran dasyatnya bahkan sampai di pulau Bali dan menyebabkan kerusakan ringan pada beberapa bangunan.
Doa-doa melantun dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Bantuan materi pun mulai digalang sejak gempa utama terjadi beberapa hari yang lalu. Pemerintah daerah turut serta membantu meringankan beban korban, mengevakuasi para korban, dan menyediakan tenda-tenda darurat untuk para korban gempa di Lombok.
Sungguh bencana bukanlah sesuatu yang direncanakan atau diinginkan. Tak ada satu pun orang yang menghendaki bencana terjadi di tanahnya. Namun tetap saja bencana terjadi. Di sela-sela kesedihan yang belum rampung ini, ada banyak pertanyaan mengapa bencana seperti ini harus terjadi. Dalam lagunya, Ebiet G Ade, juga menanyakan pertanyaan yang serupa. Akhirnya ia menawarkan beberapa kemungkinan yaitu apakah ini terjadi karena sikap Tuhan yang sedang murka melihat tingkah manusia yang bangga dengan dosa-dosa. Alternatif lain adalah ataukah alam yang mulai enggan bersahabat dengan manusia-manusianya. Namun, bencana masih tetap saja menjadi misteri sebab kedua pertanyaan Ebiet tak bisa memberikan jawaban yang akurat. Dan akhirnya Ebiet G Ade mengajak kita untuk bertanya pada rumput yang bergoyang.
Kekuatan alam memang lebih dasyat daripada manusia-manusia. Namun manusia-manusia sombong merasa lebih kuat dan bersikap seenaknya terhadap alam. Padahal sekali hentakan saja, kekuatan alam mampu meluluhlantahkan dan membinasakan manusia.
Masihkah kita sombong kalau bencana seperti ini terjadi? Jawabannya, tak ada yang patut disombongkan oleh makhluk-makhluk lemah seperti manusia ini. Kekuatan manusia tak sebanding dengan kekuatan alam. Maka, sebagai manusia, kita hendaknya tak bersombong diri.
Pray For Lombok
Loc. Uluwatu, Batu
Minggu, 05 Agustus 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mewujudkan Harapan
Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...
-
Sing Mbahu Rekso Bumi ini semakin kehilangan cara untuk mempertahankan diri. Terik panas belakangan ini terlihat semakin manjadi-jadi. Be...
-
Bagi sebagian orang, tertawa kadang menjadi pilihan untuk menyembunyikan derita yang tak perlu diumbar dan dibesar-besarkan. Tujuannya supay...
-
Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar