Saat gegap gempita politik semakin riuh, kedamaian dan persatuan bangsa terancam dengan adanya kemungkinan perang politik. Kubu satu dengan para pendukungnya ingin memenangkan pertarungan. Kubu kedua juga menginginkan hal yang sama. Pertarungan politik yang licik akan berdampak pada tercerai berainya persatuan bangsa. Dan isu sara adalah senjata ampuh yang mungkin akan digunakan para politikus busuk untuk menjatuhkan lawan.
Agama akan dipolitisasi demi kepentingan politik. Tempat-tempat ibadah yang sejatinya untuk menyiarkan ajaran agama akan berubah menjadi tempat menyiarkan visi dan misi politik. Ujaran kebencian yang menyudutkan lawan politik tak bisa dihindari. Bahkan ancaman, seperti tidak mengijinkan umat pendukung kelompok lain untuk melakukan ibadah di tempat itu, bisa saja terjadi. Hoak bisa menjadi ledakan yang meruntuhkan pertahanan lawan politik. Persekongkolan partai dengan lembaga agama sangat memungkinkan sekali terjadi. Kalau ini dibiarkan, kecurangan bisa saja terjadi dengan tameng agama dan para pemukanya.
Indonesia tak bisa dikatakan sedang baik-baik saja. Hukum dan perdamaian digadaikan oleh orang-orang yang mengaku agamis. Kita bisa belajar dari kasus-kasus yang pernah terjadi sebelumnya. Isu agama telah digoreng untuk menjatuhkan lawan politik, dan ironisnya yang menggoreng isu itu sendiri adalah para pemukanya sendiri.
Dan kita tahu, sesuatu yang berawal dari kecurangan pasti juga akan berujung pada ketidakberesan. Kasus-kasus korupsi yang marak terjadi di kalangan para pejabat adalah produk politik yang berawal dari kecurangan. Dari pengalaman seperti itu seharusnya kita belajar untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.
Jangan mudah terpancing dengan rayuan politik yang menggiurkan. Belum tentu janji-janji itu akan ditepati kalau sudah terpilih. Mereka hanya memanfaatkan kesempatan untuk memenangkan suara. Setelah itu biasanya mereka mendadak amnesia dan tak mau bertanggung jawab dengan dalih yang dibuat-buat.
Kita harus lebih cerdas dalam memilih pemimpin negeri kita tercinta ini. Masa depan negeri tergantung pada pilihan kita. Jangan biarkan negeri ini dijarah oleh mereka yang bernafsu mengumpulkan kekayaan sendiri. Jangan biarkan tikus-tikus berdasi memperoleh ladang basah untuk berkembang biak. Para koruptor dan calon koruptor tak boleh diberi kebebasan untuk menguasai negeri ini. Kita butuh pemimpin yang merakyat, mementingkan kepentingan bersama, jujur, dan mau mengabdi kepada negera.
Sengketa politik tentu akan bedampak pada persatuan bangsa itu sendiri. Negara akan selalu dibuat ribut dengan isu-isu politik yang berkedok agama. Energi kita menjadi terkuras banyak untuk menyelesai sengkata politik dan agama daripada mengembangkan potensi negeri ini. Bagaimana tidak, ketika negara-negara lain sudah semakin maju dengan modernisasi, teknologi yang canggih, kita malah masih meributkan permasalahan agama yang tak kunjung usai. Akibatnya kita malah semakin tertinggal jauh dengan negara-negara maju lainnya.
Senin, 13 Agustus 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mewujudkan Harapan
Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...
-
Sing Mbahu Rekso Bumi ini semakin kehilangan cara untuk mempertahankan diri. Terik panas belakangan ini terlihat semakin manjadi-jadi. Be...
-
Bagi sebagian orang, tertawa kadang menjadi pilihan untuk menyembunyikan derita yang tak perlu diumbar dan dibesar-besarkan. Tujuannya supay...
-
Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar