Secangkir kopi malam ini menemaniku bercengkrama dengan malam. Berdialog dengan alam sekitar. Hujan baru saja reda, namun rintik-rintiknya masih sesekali tempias terbawa angin malam. Setidaknya kopi ini meredakan gigil malam yang bercampur dengan semprawutnya keheningan.
Bukan aku yang kedinginan dan kesepian. Tapi yang di luar sana. Di balik jendela terpampang ketabahan sebuah pohon yang merelakan kehilangan dan perpisahan. Angin mengobat-abitkan setiap ranting-rantingnya. Sekuat apapun ia mempertahankan daunya, pada akhirnya dedaunannya pun rontok juga. Bukan hanya yang tua, yang baru menguning dan yang masih bertunas pun dilalap juga.
Pohon itu menunjukkan betapa tabahnya ia yang sedang kehilangan, meskipun ranting-rantingnya menggigil harus melewati malam sendirian tanpa dedaunan yang sudah terbiasa menemaninya. Aku memberanikan diri tuk bertanya “Apakah engkau dendam kepada yang merenggut milikmu dan kebahagiaanmu?” Pohon itu bergeming tak memberikan jawaban iya atau tidak.
Di balik diamnya aku mengerti bahwa memang pohon tak akan berbicara dengan bahasa manusia. Dan aku juga tak menanyainya dengan bahasa manusia. Pohon itu memberikan isyarat bahwa ia sama sekali tak dendam dengan siapa pun, termasuk angin yang telah berkali-kali memisahkan dirinya dengan dedaunannya. Ia tak menyalahkan hujan yang membawa gigil di saat-saat kehilangan.
Aku akhirnya mengerti pesan yang disampaikannya. Pohon itu mengajarkan ketabahan dan siap menerima apapun yang terjadi dalam hidup ini. Berpisah dengan orang-orang yang kita cintai adalah sebuah kewajaran yang juga harus diterima secara wajar. Memang pasti akan ada kesedihan di balik perpisahan, namun itu pun juga akan berlalu seiring waktu yang menyembuhkan. Daun yang rontok memang tak mungkin kembali ke ranting semula, namun ranting itu masih memiliki kemungkinan untuk menumbuhkan daun-daun yang baru. Waktu akan membuktikannya.
Pohon saja lebih mengerti perihal merelakan. Kenapa kita manusia sulit untuk merelakan perpisahan? Pohon saja lebih mengerti perihal tidak menyimpan dendam dan menyalahkan pihak lain sebagai penyebab kesedihannya. Lalu kenapa kita manusia malah suka mengambing hitamkan orang lain sebagai penyebab kesedihan kita? Kenapa kita begitu sulit mengampuni orang lain dan terus menyulut dendam kepada orang lain? Malam ini pohon itu mengajarkan pembelajaran yang berarti kepadaku. Khususnya perihal menerima kenyataan dan menyikapinya dengan kebijaksanaan.
Aku kembali teringat dengan kasus yang menimpa Lombok. Gempa bumi telah meluluhlantahkan Lombok. Bangunan-bangunan rata dengan tanah. Penderitaan dan kesedihan belum rampung dan masih terbayang-bayang suasana yang mencekam. Mereka kehilangan segalanya. Rumah mereka ambruk dan rata dengan tanah. Sebagian sanak keluarga mereka meninggal dan bahkan beberapa masih tertimbun di reruntuhan bangunan. Pekerjaan lumpuh sehingga tak ada pemasukan lagi. Bahkan untuk makan pun susah. Mereka sudah tak punya apa-apa. Mereka hidup mengadalkan uluran tangan dari para dermawan. Mereka menyambung hidupunya seadanya di tenda-tenda darurat sampai nanti suasana memulih kembali.
Kalau mau menyalahkan, bisa saja mereka menyalahkan alam semesta atau Tuhan. Kalau mau memprotes, bisa saja mereka memprotes alam semesta atau Tuhan. Pikiran mereka masih runyam dengan pertanyaan kenapa bencana harus terjadi di tanah mereka; kenapa alam semesta merenggut kebersamaan mereka dengan keluarganya.
Aku harap mereka mampu menjadi seperti pohon yang bersedia menerima kenyataan dengan bijaksana. Meskipun kehilangan orang yang dicintai itu memang berat, semoga mereka mau merelakan kepergian mereka dengan lapang dada. Meskipun sungguh sulit untuk menerima kenyataan pahit ini, semoga mereka tak menyimpan dendam kepada siapapun dan tak menaruh dendam kepada alam semesta ini. Alam semesta hanya menjalankan tugasnya. Gempa bumi adalah fenomena alam yang merupakan bagian dari kerja alam semesta.
Kamis, 16 Agustus 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mewujudkan Harapan
Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...
-
Sing Mbahu Rekso Bumi ini semakin kehilangan cara untuk mempertahankan diri. Terik panas belakangan ini terlihat semakin manjadi-jadi. Be...
-
Bagi sebagian orang, tertawa kadang menjadi pilihan untuk menyembunyikan derita yang tak perlu diumbar dan dibesar-besarkan. Tujuannya supay...
-
Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar