Senin, 13 Agustus 2018

Kesalahan Berulang adalah Sebab Pembenaran

Kesalahan yang dilakukan berulang-ulang adalah asal mula pembenaran yang mungkin akan terjadi di kemudian hari. Kesalahan yang sering kita lakukan akan menjadi kebiasaan yang bahkan akan sulit untuk diluruskan kembali. Ketika ada orang lain yang ingin meluruskannya kembali, kita akan berargumen dan menentang dengan dalih yang kita miliki sebab kita telah membudayakan kesalahan itu. Kesalahan yang sudah membudaya akan terasa berat untuk diluruskan kembali. Seperti karat besi yang menebal akan menjadi sulit untuk dipulihkan kembali. Oleh sebab itu, kita harus mampu membiasakan melihat kesalahan sebagai kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.

Tak bisa dipungkiri, manusia memang tempatnya salah. Entah disengaja atau tidak, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Berbuat kesalahan sekali mungkin bisa dianggap lumrah, dan bahkan kesalahan adalah salah satu risiko yang mesti ditanggung untuk memulai sesuatu yang baru. Seperti kata Albert Einstein bahwa siapapun yang tidak pernah melakukan kesalahan berarti tidak pernah mencoba sesuatu yang baru. Namun mengulang kesalahan yang sama berulang-ulang tak bisa dikatakan lumrah. Itu namanya kebablasan. Tak bisa ditoleransi lagi.

Kesalahan sekecil apapun harus dilihat sebagai kesalahan dan harus diperbaiki. Sesuatu yang kecil jangan sekali-sekali diremehkan sebab sesuatu yang besar juga berawal dari sesuatu yang kecil. Seperti itu pula kesalahan. Kesalahan kecil yang terus diulang lagi dan lagi akan menyebabkan kesalahan yang besar di kemudian hari.

Seperti dua batang lidi yang disejajarkan, kalau di awalnya saja sudah ada regang makan regang diujungnya akan semakin besar. Seperti itu pula kesalahan kecil yang diremehkan akan menyebabkan kesalahan yang semakin besar. Dan itu sangat merugikan baik diri sendiri maupun orang lain.

Kesalahan kecil yang dibiarkan saja akan menenggelamkan seseorang suatu hari nanti. Seperti perahu yang bocor, kalau tidak segera ditambal maka airnya akan masuk sedikit demi sedikit yang lama-lama bisa menenggalamkan perahu itu. Hidup kita juga seperti kapal yang menempuh perjalanan jauh di lautan yang berombak. Ombak ibarat permasalahan hidup yang sering kita alami di kehidupan ini. Seperti halnya ombak yang menghantam perahu dari berbagai sudut, permasalahan hidup yang kita alami juga sering mengantam kita dari berbagai sudut. Sementara kapal adalah diri kita sendiri. Kalau kita tak bisa menyikapi permasalahan hidup yang kita hadapi, kita akan terkalahkan oleh permasalahan hidup kita sendiri.

Kita juga seperti kapal yang ketika bocor didiamkan akan tenggelam perlahan. Kalau kita membiarkan diri kita melakukan kesalahan yang berulang-ulang, kita akan tenggelam karena kesalahan kita sendiri. Makanya kita harus bisa memperkokoh diri dengan keyakinan dan usaha. Sebagaiamana kita harus yakin mampu melewati ombak di lautan, kita juga harus yakin mampu melewati setiap permasalahan hidup yang kita hadapi. Sebagaimana perahu yang sebisa mungkin tidak bocor saat di lautan, kita juga harus berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat kesalahan-kesalahan yang bisa membuat kita gagal mencapai tujuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mewujudkan Harapan

Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...