Toleransi yang sesungguhnya bukanlah mengaduk-aduk pandangan yang berbeda dengan pandangan yang kita miliki. Tak ada keharusan untuk bertoleransi dalam pengertian itu. Karena kita tahu, setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda yang terkadang sulit untuk kita terima dan kita terapkan. Dalam konteks seperti ini, toleransi tak mengharuskan kita mencampuradukkan pandangan mereka dengan pandangan kita. Kita bertoleransi dalam pengertian menerima dan mengizinkan orang lain memegang pandangannya masing-masing tanpa harus memaksakan mereka untuk menerapakan pandangan kita atau sebaliknya. Artinya, toleransi adalah menghargai orang lain untuk memegang pandangan yang berbeda.
Toleransi sama sekali tak menuntut pandangan-pandangan beragam untuk menjadi sama. Namun toleransi menuntut orang-orang yang memiliki pandangan yang berbeda untuk tetap bersama tanpa merugikan satu sama lain. Toleransi tak mengharuskan pandangan-pandangan yang berbeda untuk dicampuradukkan menjadi satu. Namun toleransi menuntut orang-orang yang memegang pandangan berbeda untuk tetap bersatu dan saling menghormati satu sama lain.
Ketidaksamaan dalam hal pandangan adalah sesuatu yang lumrah seperti selera masing-masing orang yang juga berbeda-beda. Namun perbedaan itu tak memaksa orang lain untuk menjadi sama. Orang-orang yang memegang pandangan yang berbeda bisa saja duduk bersama seperti sekelompok teman yang duduk bersama dalam satu meja namun memesan menu makanan yang berbeda. Meski makanan mereka berbeda-beda, mereka tetap bersama dan bersatu dalam satu meja dengan damainya. Seperti itu pula kita seharusnya beragama. Kita diperkenankan menganut salah satu agama tertentu, namun masih bisa hidup bersama dalam satu negera tanpa merugikan satu sama lain. Seperti itulah makna toleransi yang sesungguhnya.
Toleransi mengajak kita untuk tidak menyalahkan orang lain yang memiliki sudut pandang yang berbeda. Toleransi mengajak kita menghargai sudut pandang yang berbeda, memberi kebebasan kepada mereka untuk tetap menganut keyakinannya masing-masing. Jadi toleransi meleburkan pandangan 'Hanya ini yang paling benar, yang lain salah,' karena toleransi mengajak kita melihat sesuatu dengan perspektif yang berbeda.
Perbedaan bukanlah kesalahan. Bagi pecinta kopi, minum secangkir kopi hangat adalah kenikmatan. Namun nikmatnya kopi belum tentu sama bagi orang-orang yang tidak suka minum kopi. Ada banyak orang yang bahkan tak suka minum kopi. Namun bukan berarti orang yang tidak suka kopi tersebut adalah orang-orang yang sesat. Sama halnya dengan agama. Ketika sekelompok orang tertentu menganut salah satu agama, bukan berarti agama-agama yang lain adalah salah. Mereka menganut agama itu karena mereka cocok dan sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Sementara yang tidak cocok, boleh saja menganut agama yang lain sesuai dengan kecocokan dan kebutuhan masing-masing.
Loc. Pura Besakih, Bali
Kamis, 09 Agustus 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mewujudkan Harapan
Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...
-
Sing Mbahu Rekso Bumi ini semakin kehilangan cara untuk mempertahankan diri. Terik panas belakangan ini terlihat semakin manjadi-jadi. Be...
-
Bagi sebagian orang, tertawa kadang menjadi pilihan untuk menyembunyikan derita yang tak perlu diumbar dan dibesar-besarkan. Tujuannya supay...
-
Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar