Hukum tabur tuai atau hukum karma masih tetap akan berlaku dan takkan tergantikan oleh zaman. Hukum karma mengajarkan bahwa siapapun yang menanam, ia juga yang akan memetiknya. Ia akan memetik sesuai dengan apa yang ia tanam. Apabila ia menanam kebaikan, maka yang akan ia petik juga kebaikan. Setiap kebaikan akan selalu membuahkan hasil yang baik. Maka siapapun yang ingin mendapatkan kebahagiaan, seharusnya ia menanam benih-benih kebajikan.
Jangan pernah berhenti berbuat kebajikan hanya karena merasa masih menderita terus-terusan meski telah berbuat kebajikan. Kebaikan tetaplah kebaikan yang pasti akan mendatangkan manfaat. Bila tidak sekarang, buah kebajikan itu akan dapat dinikmati di kemudian hari. Dan apa yang kita hadapi saat ini adalah buah perbuatan-perbuatan yang pernah kita ciptakan. Orang bilang, anggap saja penderitaan itu seperti melunasi hutang. Ambil sisi positifnya bahwa di balik penderitaan yang kita hadapi saat ini adalah cara kita melunasi hutang perbuatan buruk yang pernah kita lakukan. Dengan begitu, hutang kita akan semakin berkurang dan tabungan kebajikan kita semakin bertambah.
Menyesali penderitaan dan kesusahan saat ini tidak membawa manfaat bagi kehidupan. Menyesalinya sungguh sangat tak perlu. Yang terpenting adalah menerimanya dengan lapang dada dan mencoba tidak mengulang kesalahan yang sama. Penderitaan yang kita hadapi saat ini bukanlah cobaan dari siapapun. Dan kebahagiaan yang kita nikmati juga bukan merupakan hadiah dari siapapun. Semuanya adalah konsekuensi dari perbuatan-perbuatan yang pernah kita lakukan. Kita bertanggung jawab atas kehidupan kita masing-masing. Makanya teruslah berbuat baik, karena kebaikan adalah teman sejati sekaligus pelindung sejati.
Saat kita sedang susah, kebajikan adalah teman sejati kita, karena kebajikan tak akan meninggalkan pembuatnya, bagai bayangan yang tak meninggalkan pemiliknya. Kebajikan akan selalu menemani pemiliknya dalam keadaan senang maupun susah. Kebajikan juga merupakan penolong sejati kita. Kebajikan mampu menetralisir penderitaan yang seharusnya kita hadapi, bagai garam yang diletakkan di bejana yang berair banyak, maka rasa asin pun menjadi tak terasa.
Kebajikanlah yang menjadi harta sejati, sebab harta benda duniawi tak dapat dibawa ke kehidupan selanjutnya setelah kematian. Harta benda duniawi hanya bisa dinikmati selama masih hidup, dan setelah ia mati, harta itu akan menjadi milik anak. Sementara kebajikan adalah harta sejati, sebab kebajikan akan mengikutinya kemanapun ia dilahirkan. Maka teruslah berbuat baik, karena kebajikan akan selalu membuahkan hasil yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar