Kehidupan ini dibungkus dengan kelapukan dan kesementaraan. Tak ada yang abadi, karena setiap momen segalanya mengalami proses perubahan. Perubahan demi perubahan ini menyebabkan kelapukan yang tak bisa kita tolak. Jasmani ini berproses setiap saat menuju ketuaan dan akhirnya kematian pun tak bisa dihindarkan.
Sering kali kita membanggakan kekuatan fisik, namun ketika ketuaan telah tiba, bahkan untuk menggerakkan tangan pun terasa berat. Seluruh tubuh gemetaran menanggung beban yang tak seimbang dengan tenaga. Sering kali kita membaggakan kecantikan fisik, namun ketika usia sudah tak lagi muda, kulit yang kencang pun berangsur-angsur mengkerut hingga paras yang tadinya cantik pun berubah menjadi penuh kerutan yang tak merata.
Inilah sifat kehidupan yang mesti dipahami bahwa hidup ini sementara dan terjerat kelapukan. Sebagaimana bunga yang terlihat cantik dan memesona ini, yang tak lama kemudian akan hancur menggugurkan satu persatu lembaran bunganya, demikian kehidupan ini juga akan lapuk dimakan usia dan ketuaan yang tak bisa kita hindari.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mewujudkan Harapan
Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...
-
Sing Mbahu Rekso Bumi ini semakin kehilangan cara untuk mempertahankan diri. Terik panas belakangan ini terlihat semakin manjadi-jadi. Be...
-
Bagi sebagian orang, tertawa kadang menjadi pilihan untuk menyembunyikan derita yang tak perlu diumbar dan dibesar-besarkan. Tujuannya supay...
-
Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar