Jumat, 27 Juli 2018

Kopi dan Malamku

Aku ingin menulis cerita perihal kopi dan malamku. Secangkir kopi ini adalah jamuan malamku hari ini. Tanpa ada cemilan lain. Hanya secangkir kopi hitam pekat, tanpa campuran gula sebutir pun. Pahit memang, tapi masih tak sepahit penderitaan orang-orang di bumi ini. Aku bukanlah pecandu kopi, tapi kopi telah menjadi kebutuhanku untuk melanjutkan aktivitasku di malam hari hingga tengah malam nanti. Kopi adalah sahabatku yang membantu aku memaksakan hidupku sebentar di negeri perantauan ini. Karena tanpanya, kantuk adalah musuh terberatku di mana malam juga meninabobokan setiap insan dengan caranya sendiri. Sementara masih ada tumpukan tugas dan hobi yang perlu digarap.



Malam ini adalah bulan purnama, yang masyarakat Sri Lanka menyebutnya hari Poya atau Uposatha. Ribuan orang berlalu lalang di halaman vihara. Lantunan ayat-ayat suci mengumandang merdu memecah keheningan malam hingga suaranya membumbung ke angkasa bersama kepulan-kepulan asap dupa. Semerbak harum dupa dan bunga pun seperti tak ada habisnya. Seperti tak pernah ada saja sepinya vihara ini. Selalu ramai dipadati pengunjung setiap harinya.
Bellanwila Rajamaha Viharaya ini adalah vihara bersejarah yang memiliki keagungan tersendiri, sebab pohon Bodhi yang kini usianya sudah mencapai lebih dari 2300 tahun, masih berdiri kokoh di halaman vihara ini. Ini adalah salah satu kekayaan dari negeri ini, sebab pohon ini adalah salah satu dari tiga puluh dua cangkokan dari pohon Bodhi yang ada di Anuradhapura, dibawa dari India pada waktu penyebaran agama Buddha di negeri ini di abad ke tiga sebelum masehi.

Purnama bersinar terang di antara pekat-pekat malam. Sinarnya menghiasi langit-langit malam dengan titik-titik bintang yang membentang cakrawala. Sesekali terlihat kepulan-kepulan asap yang terbawa angin melintasi lingkaran kuning dalam purnama itu. Dalam legendanya, bulan purnama adalah bulan yang keramat dan disakralkan. Ada segudang cerita-cerita mistik mengenai bulan purnama, hingga kemistikannya diadopsi oleh beberapa agama-agama di India bahwa bulan purnama adalah bulan pembawa berkah. Oleh sebab itu, setiap bulan purnama tiba, pengikut agama-agama dari negeri Jambudipa atau India, melakukan praktik-praktik keagamaan berdasarkan keyakinan mereka masing-masing. Agama Buddha menawarkan praktik atthasila atau puasa dengan mematuhi delapan aturan kemoralan.

Aku menyeruput perlahan kopi yang sudah rada mendingin. Terkadang ada sedikit penolakan dari lidah ini ketika pahitnya kopi menyetuh bagian sensitifnya. Minum kopi tapi seperti minum jamu brotowali saja. Namun ini pun sudah rada mendingan, sebab aku sudah mulai membiasakan pahitnya kopi ini. Lidahku pun sudah mulai beradaptasi ketika hati juga meyakinkan bahwa pahitnya kopi ini adalah kebutuhan yang harus dirasakan.

Aku bercengkrama dengan malam melalui keheningan. Diam namun tidak membatu. Pemikiran demi pemikiran berdialog dan mendiskusikan susuatu untuk kuramu menjadi sebuah tulisan. Di sisi lain, hati ini memprotes supaya disaring lebih dalam lagi, agar yang tertulis bukanlah kata-kata kosong yang tak mengandung makna. Seketika otak kiri dengan cepatnya membahasakan hasil dialog itu dan menyarankan beberapa diksi yang pantas untuk dipergunakan.

Jemariku mengejawantahkan input-input itu kedalam sebuah tulisan. Meski sudah disaring berkali-kali, rupanya otak kanan memprotes hasil ketikan itu sebab maknanya sulit dipahami dan bisa menimbulkan banyak interpretasi yang menyimpang. Jari pun kemudian mengambil masukan untuk mencocokkannya kembali pemikiran-pemikiran itu dengan bahasa yang bisa diterima.

Aku menyuruput kembali kopi itu berkali-kali. Dalam setiap seruputan, ketika bibir ini menyentuh bibir cangkir, aku merasakan kehangatan kopinya. Perlahan aku meneguknya, mencoba menikmati setiap pahit yang menjadi unsur utama dari kopi. Seperti manis dan pahitnya hidup yang harus diterima dengan lapang dada tanpa perlu menyisankan dendam di akhirnya.

Aku ingin bercerita kembali bahwa malam ini adalah malam-malam penyambutan festifal Perehera yang akan berpuncak pada tanggal sebelas agustus nanti. Bellanwila Rajamaha Viharaya ini adalah tuan rumah tahunan untuk melaksanakan festifal agung ini. Esala Perahera adalah salah satu festifal Buddhis di Sri Lanka, yang mana dalam acara ini diawali dengan puja di hari-hari pertama, kemudian dilanjutkan pembacaan Pirith atau sutta-sutta Buddha dalam seminggu non-stop, pembabaran Dhamma untuk beberapa hari dan tarian-tarian tradisional Sri Lanka untuk mengiringi pembawaan relik Buddha mengelilingi kampung Bellanwila.

Aku menghela nafas lebih dalam dan kembali meneguk kopi itu sedikit lebih banyak. Sebab aku tak ingin kopi ini mendingin setelah sekian lama duduk di hadapanku. Tegukan demi tegukan, kopi di hadapanku semakin mendangkal mendekati pantat cangkir dan menyisakan sedikit ampasnya. Aku ingin menutup cerita ini, seperti aku ingin menyudahi perjamuan malam dengan secangkir kopi hitam ini. Mungkin, di perjamuan kopi hitam berikutnya aku akan memberikan kelanjutan kisah ini. Atau kalau tidak, mungkin kopi berikutnya adalah inspirasiku yang berbeda untuk didiskusikan bersama malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mewujudkan Harapan

Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...