Pohon Bodhi di Bellanwila Rajamaha Viharaya
Pohon itu masih berdiri walau sudah terlihat renta. Di dahan utamanya terdapat tongkat berwarna keemasan yang menopangnya agar tidak membungkuk ke tanah. Tubuhnya terpahat alami keriput-keriput tua yang mengitari setiap batang. Urat-uratnya tergambar lebih jelas di lekuk-lekuk tubuhnya. Ranting-rantingnya masih lentik bagai jemari muda walau daun-daunnya sudah tidak selebat dulu. Namun semakin tua, semakin kuat pula akar-akarnya yang menancap ke dalam bumi. Semakin dalam menerobos bebatuan dan tanah-tanah terjal. Orang-orang menamakannya sebagai pohon bodhi yang artinya pohon pencerahan. Ini bermula ketika seorang petapa dari suku Sakya meninggalkan istana dan mencapai pencerahan agung di bawah pohon sejenis itu. Nama asli dari pohon itu adalah Ficus Religiosa, namun sekarang lebih dikenal sebagai pohon bodhi.
Pagi ini masih cerah seperti biasanya. Burung-burung masih menjalankan rutinitas hariannya, menyanyikan simponi-simponi pagi. Sementara orang-orang semakin memadati area sekitar pohon Bodhi. Semerbak wangi dupa semakin menusuk hidung. Orang-orang berbaris di pinggiran pagar pohon bodhi, membawa berbagai macam persembahan seperti bunga teratai, bunga kamboja, dan beberapa untaian bunga melati. Beberapa membawa kendi-kendi berisi air bersih dan kemudian ditumpahkannya di setiap sudut pagar sedikit demi sedikit sambil mengitarinya tiga kali.
Seseorang berbalut jubah merah kekuning-kuningan terlihat dari kejauhan sedang berjalan menuju pohon bodhi. Dilihat dari gaya berjalannya, orang itu pasti Bhante Vidyananda. Di Bellanwila Raja Maha Viharaya ini, beliau ditugaskan untuk mengurus pohon bodhi. Setiap pagi beliau menyapu dan membersihkannya. Kalau ada umat yang datang dan ingin mempersembahkan jubah, beliau juga yang membukakan pintu masuk ke atas bangunan yang menglilingi pohon bodhi. Ribuan orang datang setiap harinya, namun pintu untuk naik hanya dibuka untuk orang-orang yang ingin mempersembahkan jubah saja. Bagi yang ingin mempersembahkan bebungaan dan puja lainnya biasanya diletakkan di tempat yang disediakan di pinggir-pinggir pagar pembatas pohon bodhi.
Bhante Vidyananda memasuki pintu dan naik ke fondasi yang dibangun mengelilingi pohon bodhi. Diambilnya segagang sapu dan mengayunkannya kekiri dan ke kanan. Dikumpulkannya daun-daun berbentuk cinta yang tergeletak di atas butiran-butiran pasir putih. Sesekali beliau memungut dengan tangannya sendiri ketika daun-daun itu jatuh di tempat di mana patung Buddha bermodel borobudur di tempatkan.
Aku mendekatkan diri di mana Bhante Vidyananda sedang menyapu. Goresan-goresan kumpulan lidi yang diuntai, membekas jelas membentuk seperti daun kelapa. Memang menyapu di vihara seperti menggambar. Halaman yang ada di vihara umumnya adalah pasir pantai. Jadi apa yang disebut menyapu bukan hanya memunguti sampah-sampah, tetapi harus meninggalkan tilas membentuk persis seperti suwiran daun kelapa yang masih berjuntai di pelepahnya.
Setelah bertukar sapa, aku menggaruk tumpukan daun-daun cinta yang sudah layu dan memindahkannya di keranjang yang terbuat dari rotan. Aku tak peduli apakah itu daun hijau atau daun yang menguning. Yang aku tahu semua daun yang tergeletak ini telah menjadi sampah. Demikianlah hidup, terlepas apakah itu muda atau tua, kematian menjemput tanpa tebang pilih. Muda atau tua, pria atau wanita, cantik atau buruk rupa, kaya atau miskin, di mata raja kematian adalah sama. Tak seorang pun bisa mengelak. Harta pun tak mampu menyuap untuk hidup kekal. Jabatan pun tak kuasa membawahi sifat ketidakekalan dari kehidupan.
Setelah semua selesai, aku berdiri menghadap pohon bodhi. Pohon itu mengingatkanku kembali tentang sejarah masa lalu. Walau aku bukanlah pelaku atau saksi sejarah itu, tapi aku tahu kisahnya dari untaian-untaian kata yang terpatri di lembaran-lembaran kertas putih. Aku juga mendengar dari beberapa guru yang berkisah. Menurut sejarahnya, pohon bodhi ini ditanam di abad ke tiga sebelum masehi. Dia adalah saksi di balik kejayaan raja Devanampiyatissa yang memerintah negara ini dan meresmikan negara ini sebagai negara Buddhis di abad ketiga sebelum masehi. Neneknya adalah pohon bodhi yang ada di India persis di mana Buddha Gotama mencapai pencerahan agung. Ibunya adalah cangkokan dari pohon itu dan sekarang masih berdiri di Anuradhapura.
Pandangan mataku masih tertuju pada pohon itu, pohon yang disakralkan dan hormati oleh sekian banyak orang. Pohon itu tumbuh menjulang ke angkasa dan dahan-dahannya tubuh mencangkar langit. Aku teringat tentang bencana tsunami di tahun 2004 yang berpusat di Aceh di Indonesia yang mengakibatkan Sri Lanka juga kena imbasnya. Aku melihat dari layar kotak bersuara, ribuan mayat tergeletak kaku setelah digulung-gulung ombak dan tertimbun reruntuhan bangunan. Menurut beritanya tsunami itu mengakibatkan lebih dari 35.000 orang meninggal di Sri Lanka.
Aku lalu bertanya kepada Bhante Vidyananda tentang bagaimana nasib pohon ini ketika tsunami meluluh lantahkan daerah pesisir pantai di daerah Galle. Beliau kemudian menceritakan kejadian silam yang tragis. Aku merasa seakan-akan kembali di zaman itu dan melihat langsung bagaimana kondisi waktu itu. Aku terdiam membisu. Pohon bodhi yang ada dihadapanku ini masih berdiri kokoh walau hujan lebat mengguyur. Beruntungnya tsunami tidak meluluhlantahkan vihara ini. Hanya daerah pesisir pantai yang terkena imbasnya.
Aku salut akan ketegarannya. Bahkan sampai sekarang aku masih salut dan menghargainya. Mengingat dirinya adalah pohon tertinggi di desa Bellanwila, angin tak henti-hentinya menabrak-nabrak dari berbagai sisi. Kadang sendirian, dan terkadang beramai-ramai seperti masa yang berdemo menuntut keadilan di depan kantor pemerintahan. Katanya semakin tinggi pohon, semakin tinggi pula anginnya. Namun rupanya ia tetap tegar walau angin selalu mencoba merobohkannya. Dia rupanya mencoba menikmati hiruk pikuk kehidupan, baik suka maupun duka, dengan keseimbangan. Manakala angin berhembus kencang dari arah timur, ia menggeleng ke arah barat. Manakala angin berhembus kencang dari arah utara, ia menggeleng ke arah selatan. Dia tidak pernah menyalahkan angin walau angin sering kali merontokkan daun-daunya. Atau bahkan sesekali mematahkan ranting-rantingnya.
Yassa mūle nisinno va – sabbāri vijayaṃ akā
Patto sabbaññutaṃ satthā – vande taṃ bodhi pādapaṃ
Ime ete mahā bodhi – loka nāthena pūjitā
ahaṃ pi te namassāmi – bodhirājā namatthu te
Duduk di akarnya, Sang Guru mengatasi semua musuh, menjadi maha mengetahui, kepada pohon Bodhi itu aku memuja.
Pohon-pohon Bodhi itu, dipuja oleh Pelindung Dunia (Buddha), demikian saya juga akan memujamu. Semoga ada penghormatan padamu, oh Mahā Bodhi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mewujudkan Harapan
Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...
-
Sing Mbahu Rekso Bumi ini semakin kehilangan cara untuk mempertahankan diri. Terik panas belakangan ini terlihat semakin manjadi-jadi. Be...
-
Bagi sebagian orang, tertawa kadang menjadi pilihan untuk menyembunyikan derita yang tak perlu diumbar dan dibesar-besarkan. Tujuannya supay...
-
Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar