Selasa, 31 Juli 2018

Malam Perahera

Sudah beberapa hari ini, lantunan sutta-sutta menggema merdu di vihara ini. Larik demi larik kalimat-kalimat suci dilantunkan dengan penuh keyakinan. Merdu suaranya membawa
kedamaian batin bagi yang mendengar. Setiap kalimat menyampaikan pesan-pesan Buddha yang menggunggah. Pesan-pesan tentang kebajikan yang akan membawa kebahagiaan bagi yang melaksanakannya.



Bila malam tiba, lampu-lampu hias menghiasi langit-langit malam. Cahayanya berwarna-warni di tengah kegelapan malam. Seluruh bangunan dan halaman vihara ini dilengkapi dengan lampu-lampu hias untuk memeriahkan acara ini. Acara Perahera masih berlangsung dan akan berpuncak minggu depan.

Para bhikkhu terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang mendapat bagian untuk menjaga Dhatu Mandira atau tempat penyimpanan relik. Ada yang bertugas membacakan sutta-sutta di dalam sebuah mandapa yang sudah dipersiapkan. Ada yang bertugas menyiapkan segala kebutuhan para bhikkhu tamu dan masih banyak tugas-tugas lainnya. Malam-malam ini memang begitu sibuk. Aku yang sebenarnya sedang mempersiapkan ujian tegah semester juga harus nimbrung dalam kesibukan semacam ini. Hingga sebagian dari waktuku tersita untuk acara-acara ini.



Aku duduk di bangunan Dhatu Mandira bersama rekan-rekan samanera yang lain malam ini. Di lantai dua persisnya. Duduk di atas kursi teras yang sesekali angin malam datang memeluk dingin. Lampu-lampu hias di halaman makin terpapang jelas di hadapanku. Cahaya kuning keemasan dipasang membentuk atap di sepanjang jalan menuju Dhammasala dan Stupa. Sementara lampu-lampu hijau dan biru bergelantungan di ranting-ranting pohon dan bangunan Devalaya. Panji-panji buddhis dikibarkan sepanjang jalan.

Suara kendang yang ditabur mengiringi para bhikkhu memasuki ruang Dhammasala. Payung-payung bercorak keemasan dipersiapkan untuk memayungi satu per satu bhikkhu yang berjalan. Anak-anak sekolah minggu dengan seragam putih-putih memegangi setiap gagang payung, mengiringi keberangkatan para bhikkhu menuju ruang Dhammasala. Semua umat yang berada di halaman berdiri serentak untuk memberikan penghormatan dengan merangkapkan kedua telapak tangan di depan dada. Sementara yang di dalam ruangan Dhammasala, mereka membungkukkan diri sambil bersikap anjali.

Malam ini jelas belum begitu ramai sebab puncak Maha Perahera akan berlangsung minggu depan. Minggu-minggu seperti ini hanya diisi dengan pembacaan sutta dan Dhammadesana. Namun tiga hari sebelum puncak Maha Perahera nanti sudah dipastikan vihara ini penuh dipadati pengunjung dari berbagai kota. Pejabat-pejabat pemerintahan biasanya hadir pada hari-hari menjelang Maha Perahera. Presiden dan para menterinya sudah menjadi tamu tahunan untuk hadir dalam acara besar seperti ini. Dan acara ini nanti akan disiarkan di stasiun-stasiun televisi secara langsung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mewujudkan Harapan

Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...