Selasa, 31 Juli 2018

Senjaku Di Trincomalee


Aku bukan ahli filsafat yang mampu menguraikan makna-makna filosofis dengan bahasa akademis. Aku juga bukanlah penyair yang mampu menerjemahkan aroma kopi, rintik hujan, siluet senja ke dalam sajak-sajak puitis. Aku juga bukan penggila sastra yang bisa menerjemahkan cinta ke dalam kata-kata romantis. Makanya jangan panggil aku filsuf, penyair atau penggila sastra sebab aku masih jauh dari kriteria itu.

Sore ini, aku menengadah langit-langit senja yang menguning keemasan. Ada keindahan yang syahdu di antara mega-mega terjal di angkasa. Siluet jingga membawa kesan yang dalam sebelum sang baskara kembali ke peraduannya. Semilir anginnya mendesir bersama suara ombak pantai yang menggulung-gulung menuju daratan. Gemuruh demi gemuruh terdengar mengiringi kepergian sang hari. Jingga merekah di antara langit yang beranjak menghitam.

Aku berdiri di antara tumpukan batu karang sambil mengamati momen-momen mengesankan ini. Senja selalu mengesankan sebab senja mengajarkan perpisahan yang mengenang. Senja bahkan lebih mengerti bagaimana menyampaikan perpisahan dengan tidak meninggalkan luka kepada dunia. Dan darinya pula kita harus belajar untuk tidak membuat luka dan derita setelah kepergian kita kelak. Kita harus belajar menjadi manusia yang bisa dikenang banyak orang karena kebaikan kita.

Inilah pemandangan indah yang disuguhkan semesta kepada penduduk sini. Di ujung timur pulau Sri Lanka ini, aku menikmatinya. Trincomalee atau Trikunamalaya ini adalah tempat yang menyediakan keindahan alam yang luar biasa. Tempat ini masih sangat alami dan jauh dari kebisingan kendaraan seperti di kota metropolitan, Colombo dan kota-kota lainnya. Burung-burung merak masih bebas berkeliaran di alam terbuka tanpa seorang pun berani menangkapnya. Sebab, bagi masyarakat di wilayah ini yang mayoritas adalah Hindu, mempercayai bahwa merak adalah wahana atau kendaraanya dewa Skanda, sementara masyarakat Sinhala mempercayai bahwa merak adalah kendaraanya dewa Kataragama, maka burung merak dianggap sebagai burung sakral yang tak boleh ditangkap. Menangkapnya atau melukainya sama saja membuat dosa besar yang sulit diampunkan.

Namun bagian ujung timur dari negeri Sri Lanka ini juga adalah tempat yang menyimpan banyak kisah tragis yang menyebabkan pertumpahan darah dan kengerian yang luar biasa. Beberapa tahun silam, di sini dicap sebagai garis hitam yang tak bisa dijamah bebas. Berkunjung ke sini berarti menjemput kematian. Sebab para pendatang atau orang-orang yang berbeda dari kaum mereka adalah musuh yang mesti dibinasakan. Perang saudara antara warga Tamil dan Sinhala menyebabkan ratusan nyawa hilang, ratusan orang menderita luka-luka, ratusan orang kehilangan keluarganya, dan banyak ketakutan yang mencekam. Perang ini berimbas ke kota-kota besarnya lainnya, yang tentu tak lain karena ditunggangi politik picik dari beberapa politikus. Sri Lanka menjadi kelam dan tak aman untuk dihuni dalam beberapa tahun. Dimana-mana terdengar ledakan bom, desing peluru, tembakan-tembakan, dan ratap tangis. Sungguh, kata guru saya, waktu itu benar-banar ngeri. Dan cerita kelam itu sama seperti novel yang pernah saya baca tahun lalu, yang menyebabkan banyak warga negara elit memutuskan untuk merantau ke negeri orang. Beruntung masih banyak orang-orang berjiwa patriotisme untuk tetap tinggal di negeri sendiri dan merampungkan konflik ini. Akhirnya konflik ini selesai di bawah presiden Mahinda Rajapaksa, yang berhasil mempersatukan kembali perpecahan dan menegakkan kembali persatuan demi kebahagiaan dan kedamaian bersama.

Kini mereka telah berdamai dan sepakat untuk bersatu menjadi negarawan yang mencintai negeri Sri Lanka. Bersama senja ini aku kembali mengingat kisah-kisah itu. Harapku semoga kisah-kisah kelam seperti itu tak kan berulang lagi, sebab kedamaian jauh lebih berharga daripada sebuah kekuasaan. Perdamaian menyatukan perbedaan-perbedaan. Perdamaian adalah panji kehidupan yang mesti dijaga.

Kulihat kawan-kawan asyik bermain air. Mengambang bersama ombak-ombak kecil di tepian. Berkali-kali mereka memanggilku untuk ikut serta. Aku menolak, sebab aku menemukan keasyikan tersendiri di sini. Keasyikan menikmati semilir angin dan mengamati detik detik menjingganya langit senja.

Aku menitip pesan kepada angin tentang doa-doaku seperti yang saban hari kulakukan, ‘Semoga semua makhluk hidup berbahagia.' Kepadanya angin aku menyampaikan salam-salam kedamaian. Aku tak ingin perbedaan merenggut kedamaian dan ketentraman semua makhluk. Karena semua makhluk sama-sama mencintai kehidupan dan ingin hidup bahagia, maka sudah semestinya kita tidak menyebabkan makhluk-makhluk lain kehilangan haknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mewujudkan Harapan

Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...