Jumat, 27 Juli 2018
Selalu Ada Alasan
Selalu ada alasan di balik keputusan, sikap, dan cara berpikir seseorang. Seseorang akan mudah menghakimi dan mengkritik keputusan orang lain apabila tidak melihat alasan-alasan ini. Terkadang kita bisa saja mengkritik dengan menggunakan referensi yang kita anggap valid, tetapi ternyata referensi yang mereka pakai untuk mendasari sikapnya lebih valid dari apa yang kita pikir. Kita cenderung mudah menyalahkan orang lain karena kita tidak melihat kisah seutuhnya. Apa yang sering kita lihat adalah permukaannya saja. Kita bahkan enggan melihat latar belakangnya. Seperti membaca buku, kita hanya melihat sampulnya saja tanpa membaca isinya dan melihat kesimpulannya.
Bagi seseorang yang tahu, ia tidak akan mudah menarik kesimpulan pada apa yang dilihat sepihak dari dirinya saja. Kesimpulan harus diputuskan setelah melihat dari beberapa sisi. Seseorang perlu melihat gambar seutuhnya. Misalnya ketika beberapa orang buta yang mencoba mendeskripsikan gajah. Setiap dari mereka memiliki kesimpulan masing-masing. Bagi yang meraba gajah di bagian kepalanya menyimpulkan bahwa gajah seperti tong air. Yang memegang kupingnya menyimpulkan bahwa gajah seperti penampi keranjang. Orang buta yang meraba gadingnya mendeskripsikan gajah seperti mata bajak. Orang buta yang memegang belalainya mendeskripsikan gajah seperti galah bajak. Orang buta yang meraba tubuhnya mendeskripsikan gajah seperti gudang. Orang buta yang meraba kakinya berkesimpulan bahwa gajah seperti tonggak. Ia yang memegang pinggangnya mendeskripsikan gajah seperti lesung. Yang memegang buntutnya mengatakan bahwa gajah seperti penumbuk lesung. Dan orang yang memegang pucuk buntutnya berkesipulan gajah itu seperti sapu. Karena berbeda pendapat akhirnya mereka saling menyalahkan satu sama lain dan mengklaim dirinya yang benar.
Sebenarnya tidak ada yang salah dari apa yang mereka deskripsikan. Mereka mendeskripkan sesuatu dari apa yang dipegangnya. Namun karena tidak melihat seutuhnya gajah itu, mereka berkesimpulan sepihak. Yang lebih buruk lagi, mereka saling menyalahkan orang lain dan mengklaim dirinya yang paling benar. Padahal sesungguhnya ia tidak melihat seutuhnya.
Bagi orang yang bisa melihat gajah itu seutuhnya, hanya bisa tertawa melihat orang-orang buta yang berpegang pada apa yang dilihatnya sepihak. Demikian pula bagi orang yang melihat orang lain mengkritik seseorang dengan pandangan sepihak, ia hanya bisa tertawa karena orang itu melihat alasan dari orang yang dikritik itu secara utuh. Dia tahu kisah dan latar belakangnya secara menyeluruh.
Kita perlu melihat alasan-alasan di baliknya sebelum datang pada satu kesimpulan yang menyudutkan orang lain. Ada rentetan kisah panjang yang perlu diketahui sebelum seseorang berhenti pada kesimpulannya. Memang tidak mudah bersikap demikian, karena kita memiliki satu hal. Dan hal itu adalah tidak mau melihat kisah orang lain. Dengan kata lain, tidak mau melihat alasan orang lain karena kita cenderung mengedepankan gagasan kita sendiri.
Ada beribu alasan di balik perilakuku, cara berpikirku, dan keputusanku. Aku memiliki kisah panjang yang seandainya dibukukan dapat memuat ribuan halaman. Atau seandainya difilmkan akan menjadi beberapa episode. Namun itu semua tidak mampu melihatkan apa sejatinya diri saya.
Alasan mengapa saya suka membaca cerpen, novel, atau karangan fiksi adalah karena saya ingin membeli sudut pandang orang lain. Dengan beberapa paragraf yang diuntai dengan kalimat-kalimat, setidaknya aku mampu menemukan sudut pandang yang dimiliki penulis. Karena aku percaya ada makna yang mendalam di setiap larik kata yang disampaikan penulis.
Seorang penulis bukan hanya sebagai pengetik. Namun ia juga seorang pemikir. Pengetik bisa saja mengetik apapun yang ia mau, tetapi seorang penulis perlu merangkai gagasan dan menaruh makna di balik setiap kata. Sekali jari tangan menekan satu huruf di atas keyboard, pemikirannya langsung mendekorasinya di antara beberapa kata yang ia susun.
Novelis bersejarah yang paling kusuka adalah Bhante Ananda. Beliau hidup di abad ke enam sebelum masehi. Kemampuannya tidak bisa diragukan lagi, sehingga ia mampu menceritakan kembali semua kisah perjalanan guru agung Buddha dalam membabarkan ajarannya. Semua ajaran guru agung Buddha terlipat rapi diotaknya. Sehingga ketika konsili pertama diadakan, tiga bulan setelah Sang Buddha wafat, Bhante Ananda mampu mengulang semua ajaran Sang Buddha berserta kisahnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mewujudkan Harapan
Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...
-
Sing Mbahu Rekso Bumi ini semakin kehilangan cara untuk mempertahankan diri. Terik panas belakangan ini terlihat semakin manjadi-jadi. Be...
-
Bagi sebagian orang, tertawa kadang menjadi pilihan untuk menyembunyikan derita yang tak perlu diumbar dan dibesar-besarkan. Tujuannya supay...
-
Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar