Di sini aku berdiri. Di bukit batu di Medawachchiya. Bukan hari ini, tapi beberapa bulan yang lalu.
Suasananya sangat sepi dan sunyi. Tidak banyak kendaraan lewat. Hanya suara monyet yang sesekali terdengar berisik. Atau suara burung-burung yang berkicau. Namun asyik. Sangat alami. .
Tangan tanganku menunjuk ke sebuah arah. Entah arah mana aku tak tahu persis. Yang jelas menunjuk ke pepohonan hijau yang rimbun.
Ada banyak cerita tentang pepohonan hijau. Dari akar sampai ujungnya mengajarkan pesan-pesan penting. Akarnya mengingatkan kita tentang sebuah pondasi yang kuat. Impian juga harus berakar kokoh. Dan akarnya adalah keyakinan. Yakin saja bahwa hidup adalah pilihan, dan tetaplah yakin mampu mewujudkannya. Batangnya mengajarkan keteguhan hati. Apapun yang terjadi, kita harus kuat seperti batang yang kokoh meski angin mencoba merobohkannya. Semakin tinggi pohonnya, semakin besar pula anginnya. Pucuknya mengajarkan fleksibelitas. Meskipun angin terus menghantamnya, ia tak akan patah. Ia juga lebih bijaksana menghadapi kenyataan ketika harus berpisah dengan daunnya. Tapi tak pernah menyerah, karena tahu bahwa daun rontok demi daun yang baru. Dia sudah membuktikannya. Berkali-kali daunnya rontok, namun berkali-kali pula daunnya tumbuh. Bahkan bisa lebih lebat.
Kamis, 26 Juli 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mewujudkan Harapan
Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...
-
Sing Mbahu Rekso Bumi ini semakin kehilangan cara untuk mempertahankan diri. Terik panas belakangan ini terlihat semakin manjadi-jadi. Be...
-
Bagi sebagian orang, tertawa kadang menjadi pilihan untuk menyembunyikan derita yang tak perlu diumbar dan dibesar-besarkan. Tujuannya supay...
-
Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar