Jumat, 27 Juli 2018

Samsara

Pengembaraan panjang melewati lembah-lembah dan perbukitan yang penuh dengan hutan berimba telah dilaluinya. Entah sampai kapan dia akan terus berjalan sampai ia menemukan titik akhir di mana ia harus berhenti. Bahkan sudah berapa lama ia telah berjalan dan sampai kapan ia harus berjalan pun tak tahu. Baginya hidup hanyalah menikmati tiap-tiap persingahan di gubuk-gubuk kecil untuk sejenak menegak air minum.

Gubuk-gubuk kecil tegantung padanya ia menemukan. Terkadang gubuk yang ia temukan terlihat kokok dan terdapat air minum dan sisa-sisa makanan. Terkadang ia menemukan gubuk yang sungguh reot, hingga untuk duduk saja pun banyak ketakutan. Kadang pula ia menemukan gubuk yang sudah hancur berantakan saat angin dan hujan bertarung di sana, hingga ia tak ada harapan untuk singgah dan minum.

Dia adalah Naro, kumpulan dari elemen-elemen batin dan jasmani yang orang-orang menyebutnya manusia. Ia tidak jauh beda dengan manusia-manusia pada umumnya. Berkaki dua, bertangan dua, bermata dua, bertelinga dua, dan memiliki otak untuk berpikir.

Bukan hanya dia semata yang tak tau sampai kapan ia harus berjalan di hutan berimba. Ia hanya mendengar cerita bahwa di akhir sana terdapat kebahagiaan yang tak tertandingi. Namun ia sendiri juga tak tahu karena ia belum pernah melihatnya. Bahkan ia pun ragu apakah cerita itu hanyalah fiksi ataukah kebenaran sejati. Sebagian dari mereka yang berjalan bersamanya mencoba meyakinkan bahwa itu benar. Namun sebagian dari mereka juga mengingatkannya bahwa itu hanyalah khayalan belaka.

Naro masih berjalan walau keringat terus bercucuran. Terik mentari yang menyengati tubuhnya menambah penderitaanya selama perjalanan. Hembusan angin yang walaupun sementara sangatlah dinatikannya karena menurutnya angin adalah kebahagiaan meskipun itu akan berlalu lagi. Angin dan panas adalah fenomena yang datang silih berganti selama ia berjalan. Tak selamanya angin akan berhembus dan tak selamanya pula terik panas menyengat. Rimbunan pepohonan terkadang menyelamatkannya dari terikan panas. Air sungai yang mengalir menjadi penggantinya di saat angin tak berhembus kepadanya.

“Kawan. Kemana kita akan menempuh perjalanan lagi?” Ia bertanya kepada kawan sekumpulannya.

“Ke arah kiri.” Salah satu menjawabnya.

“Bukan. Kita harus berjalan menuju ke arah kanan.” Yang lain menyautnya.

“Kawan kita harus berjalan menuju arah timur karena dari arah timur matahari terbit. Mungkin kita bisa bertanya kepada makhluk agung yang mengendalikan tata surya dan seisinya.”

“Sebaiknya kita menuju arah barat karena matahari tenggelam di arah barat. Barang kali di sana terdapat akhir dari perjalanan kita.” Sebagian mencoba meyakinkannya.

Demikian berbagai pandangan ia temukan. Naro menjadi bingung entah jalan mana yang akan ia ikuti. Ia sama sekali tidak tahu arah ia mau kemana dan dari mana. Ia hanya berjalan menempuh perjalanan panjang, menyinggahi setiap gubuk-gubuk kecil menghabiskan bekal-bekalnya.

“Apakah saya benar menapak jalan ini untuk mencapai tujuan sebagaimana yang diceritakan oleh para leluhur.” Dia bergumam dalam hati karena hatinya penuh bimbang.

Para pengikut arah timur mencoba membujuknya untuk mengikutinya menuju arah timur. Sementara para pengikut barat juga mencoba membujuknya untuk mengikutinya mereka menuju arah barat. Mereka berpegang pendapat bahwa pendapatnya adalah yang paling benar karena cerita tentang keindahan akhir tercatat dalam buku kuno yang mereka anggap suci.

Naro masih bimbang. Kalau ia mengikuti arah barat ia akan dikatakan membangkang karena leluhurnya mengikuti arah timur. Tetapi kalau ia mengikuti arah timur, ia akan dianggap bodoh karena sampai kapan pun matahari akan terbit dari arah timur. Sulit memang bagi Naro untuk memutuskan arah jalan yang dilematis baginya.

Setelah singgah sejenak di dalam gubuk ini, akhirnya mereka berpisah memencar sesuai dengan perbuatannya. Bagi mereka yang mempunyai cukup bekal untuk menempuh perjalanan lagi akan menemukan gubuk yang lebih layak. Sementara mereka yang sudah mulai kehabisan bekal akan menemukan gubuk yang rapuh penuh dengan kegetiran. Perdebatan tentang penentuan arah tak lagi ditemukan karena perdebatan arah hanyalah ada di sekolompok orang yang mengaku religius di gubuk lama.

Walau sekarang Naro berada dalam dunia yang berbeda, ia rupanya masih harus berjalan karena ia belum mencapai pada titik akhir. Ia beruntung karena bekal-bekal perjalanan yang masih tersisa masih cukup untuk membawanya menuju gubuk yang lebih layak. Gubuk itu terletak di antara pepohonan rindang di dekat genangan air dan angin selalu berhembus menambah kesejukan selama ia bersinggah.

“Apakah ini yang diceritakan para leluhur sebagai surga? Apakah ini juga yang diperdebatkan oleh para penentu arah di gubuk lama di mana saya singgah sebelumnya?” Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Sejenak sambil menikmati hembusan angin, ia melihat kawan-kawannya yang sedang asyik di podok-pondok surgawi menikmati bekal perjalanannya. Naro melangkahkan kakinya menuju mereka secara perlahan.

“Kawan. Kalian datang dari arah mana hingga kalian bisa sampai di sini?”

“Kita tak tahu pasti kawan. Yang jelas sebelum kita sampai di sini kita pernah singgah di gubuk reot jauh di bawah sana.”

“Apa yang membawa kalian bisa sampai di sini?”

“Sepertinya ini berkat bekal kebajikan yang kita kumpulkan saat menempuh perjalanan.”

“Apakah ini akhir dari tujuan kalian?”

“Kata para penunjuk arah di gubuk reot bawah sana ini adalah tujuan mereka. Namun, setelah kita sampai di sini, ternyata kita masih harus berjalan lagi karena ini bukanlah akhir. Gubuk ini tak mampu menampung persinggahan kita menjadi selama-lamanya. Ketika bekal kita sudah habis, kita harus beranjak pergi meninggalkan gubuk ini dan menempuh perjalanan panjang yang melelahkan lagi.”

Naro pun juga berpikir begitu. Ia sadar bahwa ia juga harus berjalan lagi menempuh perjalanan. Setelah waktunya tiba, ia harus pergi dari gubuk itu.
Gubuk-gubuk yang akan ia singgahi bergantung pada bekal yang dipersiapkannya. Kadang kala ia harus singgah di gubuk yang menyakitkan, namun kadang ia akan menemukan gubuk yang lebih layak. Gubuk yang kokoh dan reot pernah ia singgahi semua hingga tak terhitung lagi. Keringat yang bercucuran saat ia menempuh perjalanan dari gubuk yang tak terhitung jumlahnya mungkin kalau dikumpulkan sudah melebihi samudera yang luas. Darah yang mengalir keluar dari tubuhnya di saat ia bersenggolan dengan ranting-ranting di gubuk-gubuk reot mungkin sudah melebihi dalamnya sungai terbesar di dunia. Namun tujuan akhir tersebut masih tak ia temukan karena ia tak mau menghentikan sumber utama yang membuatnya terus mengembara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mewujudkan Harapan

Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...