Pagi itu sang baskara merangkak naik dari ufuk timur. Sinarnya menyebar memberikan kehangatan kepada dunia. Bulir-bulir embun pagi beranjak pergi dari persembunyiannya. Bertemunya dua partikel panas dan dingin itu menyebabkan basah rerumputan menguap. Ada hawa sejuk yang tertinggal.
Aku berjalan pelan menuju kamar sehabis menyantap sarapan pagi. Kutanggalkan jubah yang melilit tubuhku di balik pintu kamar. Belum sempat pintu kututup, terdengar panggilan lembut menyebut namaku.
“Samanera, coba ke sini sebentar!” Kurang lebih seperti itulah yang kudengar. Aku langsung beranjak menuju tempat di mana Bhante Pannyavaro berdiri. Persisnya di depan bangunan Gapura Hening Karta. Bangunan yang baru diresmikan tahun lalu. Bangunan itu belum berdiri gagah ketika aku masih tinggal di vihara itu.
Terlihat Bhante Pannyavaro berjalan mondar-mandir seperti mencari sesuatu. Namun tatapannya tertuju pada puncak bangunan itu. Beliau berdiri sejenak dan menerawang, namun kembali mencari titik yang pas. Aku berjalan semakin mendekat dan berdiri di samping beliau.
“Samanera coba lihat dari sini!” tuturnya dengan lembut.
Aku manut dan mencoba mengamati dengan serius.
“Ada titik tai lalat di atas bibir seperti milik samanera!” tambahnya sambil tersenyum dan menelunjukkan jari kearah itu.
Sekarang tatapanku semakin serius, namun tak juga kutemukan titik itu.
“Agak sedikit ke sini Samanera! Tunggu sebentar sampai sinar matahari menyorotkan sinarnya pada titik itu,” jelasnya. Aku pun mengangguk menuruti petunjuknya.
“Oh itu,” secara reflek aku mengucapkannya. Bhante Pannyavaro tersenyum lebar tanpa menjelaskan panjang lebar apa itu dan apa filosofinya.
Seketika pikiranku kembali mengingat filosofi di balik titik di atas bibir. Ingatanku mempertemukanku kembali pada sebuah penjelasan di buku Primbon Jawa. Dalam bahasa primbon Jawa, titik tai lalat di atas bibir dikenal dengan nama Gunasakti. Ini adalah pertanda baik karena tai lalat di atas bibir dipercaya memiliki makna kecerdasan, keberuntungan, dan mudah berkawan.
Namun itu tak sebegitu penting dibanding dengan pesan yang disampaikan oleh bangunan gapura itu. Bangunan gapura itu berdiri gagah dengan wajah muka empat di atapnya. Ketika melihat bangunan itu, kita seperti diajak berpetualang menuju negera Kamboja yang terkenal dengan bangunan Angkor Wat.
Iya, Gapura Hening Karta ini adalah replika dari bangunan Angkor Wat dalam ukuran yang lebih kecil. Dibangun di halaman vihara Mendut, sebagai gerbang kedamaian. Hening berarti kesunyian dan Karta berarti pekerjaan yang telah tercapai. Gapura adalah nama lain dari pintu gerbang. Jadi bangunan Gapura Hening Karta ini adalah pintu gerbang menuju tercapainya keheningan. Keheningan di sini adalah kedamaian batin yang bebas dari keserakahan, kebencian dan kebodohan yang berkecamuk dalam batin seseorang. Baik ketika masuk atau keluar dari vihara ini, bangunan ini mengingatkan kembali kepada para pengujung untuk menyingkirkan keserakahan, kebencian dan kebodohan batin.
Wajah muka empat sangat tak asing sekali dengan penggambaran dewa Brahma dalam agama Hindu. Dalam Buddhis, empat muka adalah empat sifat-sifat luhur yang mesti dikembangkan oleh umat Buddha. Empat sifat luhur tersebut antara lain: cinta kasih (Metta), welas asih (Karuna), simpati (Mudita), dan keseimbangan batin (Upekkha). Cinta kasih adalah mengharapkan semua makhluk hidup berbahagia. Welas asih adalah tindakan untuk mengurangi penderitaan makhluk lain. Simpati adalah turut berbahagia atas kebahagiaan orang lain. Keseimbangan batin adalah sikap batin yang tenang dan netral dalam menghadapi kejadian-kejadian, baik itu menyenangkan atau tidak.
Jadi di balik gagahnya bangunan Gapura Hening Karta yang berdiri di Vihara Mendut ini, ada filosofi yang mendalam yang disampaikannya. Bangunan ini bukan hanya pajangan yang memberikan nilai estetis semata, namun juga pertanda dan pengingat untuk memahami filsafat hidup yang menuntun pada kedamaian. Empat sifat-sifat luhur itulah pesan yang ingin ditunjukan dari adanya bangunan Gapura Hening Karta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar