Kamis, 30 Agustus 2018

Kedewasaan

Hari ini aku mencoba membuka ulang semua kenangan yang tersimpan dalam facebook. Larik-larik foto dan tulisan singkat itu mengajakku kembali menyelami masa lalu yang kini tinggal cerita. Persis seperti menonton ulang video masa lalu. Memang itulah salah satu fungsi foto dan tulisan, yaitu untuk mengabadikan momen dan menceritakan kembali peristiwa itu dikemudian hari. Foto-foto itu membawaku bernostalgia. Sesekali aku tertawa melihat kelucuan yang pernah aku lakukan di waktu itu. Terselip juga sedih tatkala ada benturan kenyataan dan kenangan yang tak lagi sejalan. Namun, juga ada bingung karena tak paham maksud status yang pernah kubuat waktu itu. 

Bukan itu yang ingin kuungkit kembali menjadi sebuah tulisan yang baru. Aku hanya ingin mengambil topik kedewasaan kuambil dari sebuah pengalaman pribadi. Tulisan-tulisan dan foto-foto tadi membuatku sadar tentang proses pendewasaan yang terjadi pada diriku. Meskipun kedewasaan itu pilihan, ternyata umur juga menentukan isi kedewasaan itu. 

Aku mungkin beranggapan waktu itu aku sudah cukup bijak dan dewasa, namun ternyata apa yang kupahami kedewasaan waktu itu berbeda dengan pemahaman kedewasaan yang kumiliki saat ini. Apa yang dimaksud kedewasaan bagi anak umur belasan tahun memang berbeda dengan kedewasaan yang dipahami oleh orang-orang yang sudah menginjiak di atas dua puluh tahun. Dan pemahaman ini juga akan berbeda ketika umur sudah semakin bertambah, ketika pengalaman dan pengetahuan sudah semakin bertambah. Oleh karena itu, kita tidak bisa menilai kedewasaan orang lain dengan penilaian kedewasaan yang kita miliki saat ini. Kedewasaan juga butuh waktu untuk tumbuh. Dan suatu saat, saya juga pasti akan menertawakan kedewasaanku saat ini ketika umur, pengalaman, dan pengetahuanku sudah bertambah. 

Kedewasaan bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan. Kedewasaan akan tumbuh dengan sendirinya seiring usia dan pengalaman yang bertambah. Kita tak bisa memaksakan anak-anak untuk bersikap dan bersepemikiran dengan orang-orang dewasa. Dan kita juga tak bisa memaksakan anak-anak remaja untuk bersepemikiran dan bersikap seperti orang tua. Anak-anak remaja memiliki sifat alami yang tak bisa dipaksakan. Oleh karena itu, kita semua harus melihat orang-orang sebagaimana levelnya. Kita harus melihat anak-anak sebagai anak-anak dengan sifat alaminya. Kita melihat para remaja sebagai para remaja dengan sifat alaminya. Kita melihat orang tua sebagai orang tua dengan sifat alaminya. Dengan begitu, kita tak akan mudah menghakimi orang lain, sebab setiap orang sedang tumbuh dengan caranya masing-masing. 

Ada beberapa faktor yang mendorong seseorang untuk tumbuh. Ada faktor usia yang membuat seseorang bersikap alami sesuai dengan umurnya. Ada faktor pergaulan yang membuat seseorang terpengaruh oleh lingkungan dan teman-temannya. Ada faktor pendidikan atau pengalaman yang bisa ia dapat dari membaca buku atau mengikuti kegiatan-kegiatan lainnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mewujudkan Harapan

Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...