Hawa pegunungan mulai terasa sejak mobil yang kita tumpangi masuk ke sebuah wilayah Hatton. Di malam yang pekat, mobil kita berjalan merambat menyusuri tikungan-tikungan tajam yang membawa ngeri tersendiri. Di luar sana sangat pekat, hanya beberapa titik lampu yang berpendar lindap. Jauh sekali dari ingar-bingar suasana kota. Aku yang sempat terlelap dalam tidur yang panjang selama perjalanan dari Colombo, akhirnya terbangun karena riuh teman-teman yang semakin semangat bernyanyi. Entah apa yang dinyanyikan, yang jelas suara yang melengking itu seperti menyayat dan membawa bising yang amat sangat, hingga aku harus menyudahi drama mimpi yang sudah diputar meski belum paripurna. Aku terbangun dan mencoba mengintip di sisi kanan dan kiri yang hanya berhias gelap gulita.
Setelah memakan berjam-jam untuk perjalanan dengan mobil, akhirnya kita tiba di sebuah titik di mana kita harus memulai pendakian dengan jalan kaki. Kita turun dari mobil dan mempersiapkan barang-barang yang mesti dibawa untuk bekal perjalanan menuju puncak Siripada. Saat kita turun dari mobil, kita disambut dengan ribuan bintang yang membentang cakrawala. Malam telah membukakan tirainya dengan sejuta pesona. Titik-titik bercahaya bertahta di antara jelaga malam. Gemuruh angin mengoyak kesunyian malam. Membuatku aku harus berkali-kali memeluk diri dengan kain-kain yang sengaja kulilitkan ke seluruh tubuh.
Dingin pegunungan masih bisa menemukan celah dan menusuk-nusuk sampai bagian tulang yang paling dalam. Ada dingin yang becampur ngilu. Ditambah lagi angin yang berkali-kali menghantam membawa gigil berbagai sisi. Sungguh, aku benar-benar kedinginan di sini. Suasana di sini sangat jauh sekali berbeda dengan kota Colombo yang panasnya minta ampun.
Sebelum perjalanan dimulai, kita memutuskan untuk mampir sebentar di sebuah kedai untuk sejenak menyeruput kopi panas. Lumayan, setiap seruputan kopi mampu mengurangi dingin yang sempat membekukan tubuh. Meskipun di sini daerah gunung, di sini dan di sepanjang jalan nanti bakal kita temui kedai-kedai yang menyediakan makanan ringan dan minuman. Jadi, tak perlu khawatir, lagi pula jalur pendakian tak sebegitu rumit. Jalan menuju puncak Siripada bukan lagi jalanan becek ataupun jalan bebatuan terjal, sebab ribuan anak tangga sudah dibangun untuk keperluan ini. Dan di sepanjang jalan, lampu-lampu sudah menerangi dalam setiap tikungan gelap.
Perjalanan dipimpin oleh Bhante Pemaratana. Kita berhenti pada satu titik untuk melakukan penghormatan di hadapan altar Buddha dengan membacakan syair-syair pujian. Dan Bhante Ratanasiri memberikan tuntunan tisarana dan pancasila kepada umat yang mendampingi perjalanan kita.
Perjalanan pun dimulai dengan gembira. Kita memencar sesuai dengan kemampuan masing-masing. Namun aku masih tetap bersatu dengan rombongan, sebab aku sadar bahwa aku adalah orang yang paling ringkih, apalagi perihal perjalanan jauh. Tak terasa kita sudah melangkah jauh meninggalkan dasar. Hawa dingin pun mulai berubah menjadi biasa tatkala keringat dan hawa tubuh saling beradu. Wajah pun seketika menyungai dengan keringat yang membajiri sekujur tubuh. Temanku sudah jauh dari tatapan mata. Sementara aku masih santai dengan kawan-kawan. Berkali-kali kita berhenti untuk mengabadikan perjalanan ke dalam sebuah potret.
Kita tak sendiri, sebab ada ratusan orang yang juga berkeinginan sampai di puncak. Menurut informasi yang saya dengar, ada kepercayaan bahwa setiap orang Sinhala wajib menginjakkan kakinya di puncak Siripada ini, minimal sekali dalam sehidup. Dan puncak Siripada juga menyimpan banyak cerita dan kisah. Seperti yang tertera dalam kitab kuno Mahavamsa, Buddha dikatakan telah meninggalkan jejak kakinya di puncak ini di kunjungannya yang ketiga di tanah Sri Lanka. Jadi memuncak ke gunung ini adalah salah satu bentuk peribadatan yang lazim bagi seorang umat Buddha. Di sisi lain, puncak gunung ini juga diakui oleh umat Hindu sebagai peninggalan jejak dewa Siva. Sementara umat Muslim dan Kristen mengaku puncak ini sebagai puncak di mana Adam pertama kali turun ke Bumi. Makanya, selain dikenal sebagai Samanakuta atau Samanagiri, tempat ini juga dikenal dengan sebutan Adam’s Peak atau Puncak Adam setelah Inggris menjajah Sri Lanka.
Aku berjuang melawan lelah dan dingin yang berkali-kali menyerang. Meskipun berkeringat, dingin masih begitu terasa, apalagi di hari menjelang esok. Beberapa kali aku pun harus menahan sesak dengan nafas yang tergopoh-gopoh. Aku terbujur lunglai. Kakiku legam dan kedua mataku mengantung menyiratkan kantuk dan letih yang luar biasa. Aku benar-benar lelah pada sebuah titik hingga aku sempat berkeinginan untuk mengurungkan niatku menuju puncak. Jalanannya cukup terjal dan sempit. Apalagi jalanan yang bertangga membuat kakiku berkali-kali ingin undur diri tak sanggup. Setiap langkah menimbulkan gemetar yang tak kokoh. Namun, puncak tinggal sedikit lagi. Akhirnya kuteguhkan tekadku kembali untuk tetap melangkah sampai ke puncak.
Setelah melewati berjam-jam perjalanan, akhirnya kita sampai di puncak Siripada. Bagiku ini tidak seperti puncak gunung yang biasa dikunjungi para petualang, di mana puncaknya terdapat sabana luas untuk mendirikan tenda-tenda dan bersuka ria. Puncak ini tidak sebegitu luas. Ada banguan vihara di mana konon telapak kaki Buddha ditilaskan. Namun petilasan itu sekarang sudah ditutup rapat-rapat sehingga tak ada satu pun yang bisa melihatnya. Hanya ada tempat puja di mana umat-umat melakukan penghormatan terhadap Siripada atau telapak kaki Buddha. Agak ke bawah sedikit, di pinggir jurang-jurang yang curam terdapat bangunan untuk bersemayamnya pada bhikkhu tamu maupun bhikkhu yang bertugas menjaga tempat itu.
Aku mengistirahatkan kakiku sambil duduk di teras ditemani angin malam yang masih tak henti-hentinya menerpa dari berbagai sisi. Di sini aku bertemu kembali dengan kawan-kawan yang sudah sampai lebih awal. Kita masih menunggu Bhante Pemaratana dan kelompoknya. Mungkin saja mereka juga mengalami hal sama seperti yang kualami tadi, lelah berkecamuk putus asa untuk melanjutkan pendakian. Namun nyatanya aku berhasil melewati rintangan itu.
Temanku memberikan minuman jahe yang tinggal sedikit. Selama perjalanan, minuman jahe itu juga yang menjadi penghangat di sela-sela dingin yang membekukan suasana. Aku meneguknya beberapa kali hingga tetes terakhir.
Setelah rombongan kita sudah terkumpul, kita bersama-sama menuju tempat pemujaan. Aku dan kawan-kawanku berajak naik ke tempat itu. Ruangan yang kecil itu cukup padat pengunjung yang juga ingin melakukan puja. Kita bergiliran satu persatu untuk bisa naik sampai di tempat yang disakralkan itu.
Waktu terus berputar mengiringi pergantian hari. Masih ada sekitar tiga jaman bagi kita untuk sejenak membaringkan tubuh. Aku pun yang sangat lelah sekali, tanpa pikir panjang menggunakan waktu itu untuk tidur. Aku beranjak menuju bangunan yang disediakan untuk para bhikkhu. Bangunan itu terdiri dari dua lantai, yang lantai bawah untuk umat awam dan yang lantai atas untuk para bhikkhu. Meskipun terkesan seperti tempat pengungsian, tapi apa boleh buat, yang penting bisa membaringkan tubuh dan menghindar dari terpaan angin yang samakin membawa dingin. Singkatnya, aku tidur pulas dan bangun sesuai dengan rencana.
Setelah membersihkan diri, aku sengaja keluar menantang dingin hanya sekadar untuk menikmati pesona pagi di puncak gunung. Langit yang tadinya gelap gulita beranjak menguning. Sang baskara mengintip di antara gundukan-gundukan awan yang tak rata. Pohon-pohon mulai memperlihatkan bentuknya, meskipun hijau daunnya belum ketara. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya aku menyaksikan keindahan semesta alam yang luar biasa. Alam memang begitu cantik, dan sangat sayang apabila kita merusaknya. Dari sini aku menikmati merekahnya sang baskara yang beteger di antara awan-awan putih.
Semesta alam yang maha indah terpampang di hadapan orang-orang yang sudah dari tadi menunggu momen ini. Pemandangan ini memberikan kepuasan tersendiri yang tak bisa didapat di perkotaan. Sungguh indah bumi ini dan sangat disayangkan apabila manusia-manusia serakah merusaknya. Dari sini, hamparan hijau terlihat begitu menakjubkan. Terbing-tebing curam menambah keindahan semesta alam.
Di puncak ini aku ingin menyampaikan terima kasih kepada semesta alam. Perjalanan ini sungguh mengesankan. Aku harap, ada kesempatan lain untuk bersua kembali di puncak sakral ini. Aku tak peduli, apakah yang tertilas di puncak ini adalah telapak kaki Buddha, dewa Siva, atau Adam. Sungguh aku sama sekali tak mau memperdebatkan keyakinan, karena bagiku keyakinan adalah hal yang sangat pribadi sekali. Siapapun itu, yang jelas puncak ini adalah puncak terdekat dengan surga. Kalau dari sini saja begitu dingin, bagaimana dengan surga yang dipercayai lebih tinggi dari puncak ini. Makanya aku lebih bersyukur terlahir di alam manusia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar