Rabu, 29 Agustus 2018

Rekam Jejak Perjalanan ke Kalutara


Kejenuhan yang membelukar ini mengantarkanku pada sebuah pilihan untuk mengunjungi ke sebuah tempat di daerah Kalutara. Ketegangan pikiran itu belum paripurna pasca ujian yang sempat menggilakan sesaat. Aksara-aksara dewanagari dan bahasa Sansekerta masih berkecamuk di dalam pikiran, mengobrak-abrik seisi otak demi mencari celah untuk bersandar. Selaput otak ini seperti semakin ruwet akibat benang-benang hafalan rumus yang semprawut. Kosakata bahasa Prakrit menambah keruh ingatan yang sudah dibangun. Berkali-kali bahasa Sansekerta dan Pali berbenturan hingga menyebabkan pusing di bagian belakang kepala. Ditambah bahasa Sinhala yang turut ikut campur. Bahasa Inggris pun akhirnya mengalah dan mengalami degradasi pasca ditelantarkannya oleh sang pemilik. Dan sekarang-sekarang ini bahasa Indonesia mendapat perioritas lebih banyak meski bukan dalam bentuk suara. 

Destinasi perjalananku kali ini adalah Kalutara. Tempat di mana aku pernah menyaksikan keagungan sebuah stupa dari sudut stasiun kereta. Ceritanya beberapa tahun yang lalu aku ketiduran pada waktu pulang dari kampus saat naik kereta. Tanpa kusadari, kereta yang kutumpangi menurunkanku di sebuah daerah yang amat asing bagiku. Tiga puluh delapan kilometer dari tempat di mana aku harus berhenti. Ngantuk dan lelah itu tak bisa ditawar hingga aku terbawa sebegitu jauh. Kurang lebih satu jam dari tempat di mana aku harus turun, di Dehiwala. Namun beruntungnya, aku menjadi mengenal tempat itu dan rasa penasaran itu mendorongku untuk mengunjungi tempat itu kembali. 

Aku mengajak salah satu temanku untuk mewujudkan rencana itu. Ketika rencana ini kusampaikan, ia langsung saja mengiyakan sebab ia sendiri juga tak sibuk. Sebelumnya aku sempat memohon salah satu lagi dari teman sekelas kita, namun ia menolak sebab ia sudah memutuskan untuk pergi ke suatu tempat dengan temannya. Akhirnya kita berangkat berdua saja.
Perjalanan dimulai dengan naik bus dari Peliyagoda menuju Bambalapitiya. Kita sengaja mampir ke sini untuk sejenak menikmati menu makan siang. Tempat ini namanya Majesty City, salah satu pusat perbelajaan di kota Colombo. Hanya di tempat inilah kita bisa menemukan berbagai jenis makanan dari berbagai negera. Di warung beratasnamakan Malaysia, aku menyantap nasi goreng khas Malaysia yang tak jauh berbeda dengan Indonesia. 

Kita kemudian melesat menuju Kalutara dengan menggunakan kereta api. Sepanjang perjalanan, lautan biru menjadi pemandangan yang memukau untuk dinikmati. Angin laut bersemilir membawa sejuk tersendiri. Gemuruhnya seperti terdengar mengalunkan melodi. Terdengar pula merdu suara ombak yang berdebur menabrak bebatu karang. Kita menikmati perjalanan ini. temanku berkali-kali menyampaikan kekagumannya dan kegembiraanya. Katanya perjalanan menggunakan kereta api sungguh menyenangkan. Dan ia jarang sekali menggunakan kereta api.

Aku sempat berdialog dengan penumpang lain menanyakan perihal tempat pemberhentian kita. Peta yang terpampang dihadapanku lumayan membantuku menemukan informasi nama-nama tempat yang kita lintasi. Sudah lebih dari satu jam kita melaju, ternyata tempat yang kita tuju masihlah jauh. Aku akhirnya sadar betapa nyenyaknya diriku waktu itu, hingga aku pernah terbawa sebuah kereta sampai sebegitu jauh.  

Kereta yang kita tumpangi berhenti di stasiun Kalutara Selatan. Kita semua turun dari kereta dan beranjak menuju lokasi tujuan yang tak jauh dari sini. Puncak bangunan stupa yang cukup besar itu terlihat dari kejauhan sini. Aku dan temanku pun bergegas menuju ke sana dengan jalan kaki.

Panas matahari di belahan bumi sini begitu menyengat. Sepertinya di sini lebih panas daripada kota Colombo. Itu mungkin karena dini sini adalah daerah pesisir pantai. Alasan yang lain adalah tingkat ketinggian daerah. Ketinggian suatu tempat mempengaruhi suhu atau panas dinginnya suatu tempat. 

Akhirnya kita tiba di depan bangunan stupa itu. Tempat ini disebut Kalutara Chaitya. Namun kita tak langsung menuju bangunan itu, kita memilih untuk melakukan puja terlebih dahulu di sebuah pohon Bodhi yang dipercaya telah berumur ribuan tahun. Merupakan salah satu dari tiga puluh dua cangkokan pohon Bodhi dari Jaya Sri Mahabodhi yang berada di Anuradhapura. 

Di sekeliling vihara ini kita bisa menjumpai kedai-kedai yang menawarkan bunga teratai sebagai sarana puja. Aku pun mendekati seorang laki-laki tua yang menawarkan bunga teratai dan mengambilnya empat biji bunga teratai. Kita bersama-sama melakukan puja di hadapan pohon Bodhi. 
Setelah itu, kita beranjak menuju bangunan stupa. Sebelumnya aku sudah mendapat informasi dari seorang petugas yang berjaga di sini bahwa di tempat ini tidak ada bhikkhu yang tinggal. Segala kepengurusan di sini ditangani oleh petugas. Awalnya saya sempat ragu, masa vihara semegah ini tak ada seorang pun bhikkhu yang tinggal. Keraguanku tercerahkan saat aku memasuki bangunan ini dan berbincang-bincang dengan petugas yang lain. Petugas itu mengatakan bahwa vihara ini dibangun oleh pemerintah, jadi segala kepengurusannya ditangani oleh pemerintah. Namun kalau vihara ini mengadakan sebuah acara, didatangkanlah bhikkhu dari vihara lain. 

Aku dan kawanku berjalan perlahan menuju sebuah bangunan dan berjalan naik melalui sebuah tangga. Sampailah kita di halaman stupa yang ukurannya cukup besar itu. Kubah stupa ini berdiameter 30.5 meter, mulai dibangun pada tahun 1964 dan selesai pada tahun 1974. Di sekeliling stupa ini terdapat tembok-tembok raksasa yang mengelilingi area ini. Jadi ketika tiba di pelataran ini pemandangan agung terpampang di hadapan kita. 

Bangunan stupa ini berbeda dengan stupa-stupa di vihara-vihara lain. Selain ukurannya yang raksasa, di dalam stupa ini ternyata masih terdapat ruangan yang cukup luas. Kita pun memasuki ruangan itu. Persis di tengah-tengah ruangan ini, terdapat sebuah stupa yang berukuran lebih kecil. Boleh dikatakan ini adalah stupa di dalam stupa. Di sekeliling ruangan ini terdapat lukisan-lukisan cantik yang mengisahkan riwayat hidup Buddha Gotama. Beberapa kisah-kisah Jataka dilukiskan di panel-panel mengelilingi bangunan ini. Ini sungguh menakjubkan dan sangat luar biasa. Aku merangkapkan kedua tangan di hadapan stupa itu dan melakukan puja dengan bernamaskara dan melantunkan syair-syair pujian. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mewujudkan Harapan

Berharap menjadi sukses dan hidup makmur merupakan harapan yang wajar bagi manusia pada umumnya. Kita semua mengakui itu. Tak ada satu pun ...