Dalam kitab Ramayana, terdapat sebuah syair menarik yang berbunyi ''जननी जन्मभूमिश्च स्वर्गादपि गरीयसी'' yang artinya Ibu dan bumi pertiwi lebih mulia daripada surga.
Di Indonesia sendiri kitab Ramayana sudah sangat membumi dan beberapa nasihat-nasihat penting dari kitab ini sudah mengakar kuat di jiwa nusantara. Tatakrama dan budi pekerti luhur adalah ciri masyarakat nusantara waktu itu. Orang-orang zaman dulu sangat lugu, sopan dan menghormati satu sama lain. Perbedaan bukanlah masalah yang serius untuk disalahkan. Masing-masing orang menghargai perbedaan dan menerimanya sebagai hal yang lumrah. Perbedaan budaya dan agama tak pernah menjadi pemicu konflik. Apa yang baik dari agama lain, mereka adopsi ke agama mereka, dan prinsip yang kurang disetujui dari agama yang mereka anut, mereka diamkan, tidak dipaksakan untuk diterapkan. Itulah mengapa masyarakat zaman dulu cenderung damai, tidak banyak konflik yang menyalahkan orang lain yang tidak sepaham.
Sekarang ini kita menjumpai banyak pertikaian mengatasnamakan agama. Katanya hanya agama ini yang berhak masuk surga, sementara yang lain adalah sesat, sebaik apa pun mereka di bumi ini, mereka tak akan diperkenankan masuk surga. Seolah-olah surga hanya milik sekelompok orang tertentu. Salah menyalahkan menjadi tak bisa dihindari. Konflik verbal menjadi pemicu konflik fisik. Konflik ini menyebabkan kita menjauh dari kedamaian dan keutuhan bangsa.
Demi mengejar surga yang sering diceritakan indah, banyak orang lupa tentang pentingnya kehidupan saat ini. Beberapa kriminalitas terjadi atas nama surga. Katanya dengan melakukan itu, ada jaminan surga baginya. Sungguh ini adalah pemahaman yang miris. Sebab sampai kapanpun, kejahatan atau tindakan yang merugikan orang lain, tak akan pernah mengantarkannya pada surga yang sebenarnya.
Kita harus kembali menilik naskah kuno yang sudah lama diajarkan di tanah air kita ini. Petikan syair di atas harusnya menyadarkan kita betapa pentingnya hidup di bumi ini, dengan mencintai ibu dan juga tanah air. Tak perlu jauh-jauh memikirkan surga, kalau kita mencintai dan merawat ibu dan bumi pertiwi ini dengan baik, kita sudah merasakan nikmatnya surga. Ketika kita hidup damai, bebas dari benci dan iri hati, bermanfaat bagi banyak orang, sesungguhnya kita sudah mencicipi surga di bumi ini.
Kalau di bumi ini saja kita tak mencintai dan merawat ibu dan bumi pertiwi ini dengan baik, bagaimana kita bisa mendapatkan surga? Ibu dan bumi pertiwi ini lebih mulia daripada surga, karena mereka nyata. Mereka menyertai kehidupan kita di sini. Sementara surga tak lain adalah cerita turun temurun yang sering digambarkan dalam kitab suci. Namun tak seorang pun mampu membuktikan kebaradaanya. Karena surga adalah hal yang abstrak maka definisi surga pun bermacam-macam. Yang kasat mata saja banyak interpretasi yang berbeda, apa lagi yang tak kasat mata? Ambil contoh saja definisi hujan. Hujan turun dengan jelas dan terlihat oleh mata kepala. Namun apakah hujan hanya berdefinisi satu? Jawabannya tidak. Ada banyak interpretasi berbeda mengenai hujan. Orang-orang religius menyebutnya sebagai anugrah Tuhan, karena air hujan akan menyuburkan tetumbuhan di bumi ini. Para ilmuan menyebutnya proses alamiah dari alam yang terbentuk dari air yang menguap karena panas matahari, uap tersebut membentuk awan-awan kecil yang kemudian menjadi besar setelah bersatu dengan bantuan angin. Kandungan air di awan yang semakin besar menyebabkan awan tak dapat menampung air dan akhirnya turunlah hujan. Bagi beberapa penyair, hujan adalah rintikan inspirasi untuk menciptakan karya tulis. Beberapa mendefinisikan air sebagai rintikan air yang turun bersama kenangan yang masih menggenang bak pelataran saat hujan turun. Intinya ada banyak definisi hujan.
Hujan saja yang jelas-jelas terlihat oleh mata memiliki ribuan definisi dan interpretasi. Lalu mengapa kita memperdebatkan keanekaragaman definisi surga yang jelas-jelas tak terlihat oleh mata kepala? Syair dalam Ramayana itu sama sekali tak bermaksud memaksa orang untuk tidak mempercayai surga. Hanya saja jangan sampai kita melupakan tugas dan kewajiban hidup saat ini demi mengejar surga yang masih katanya. Jangan sampai untuk mengejar surga, kita mengabaikan ibu dan bumi pertiwi ini. Maka cintailah ibu dan bumi pertiwi ini, karena mereka adalah wujud nyata dari keberadaan surga di kehidupan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar