Ada diam yang menerjemahkan seribu bahasa. Ada kosong yang menyuratkan rumitnya filsafat hidup. Diam tersebut adalah melihat ke dalam diri sendiri, mengamati setiap momen yang selalu berubah-ubah. Kosong tersebut adalah pengertian mendalam tentang hakekat hidup yang tanpa substansi, tanpa diri yang abadi.
Hidup memang tak serumit menghitung butiran pasir di pantai. Namun memahami hakikat hidup tidaklah semudah melihat bercak hitam di lembaran kertas putih. Yang tampak oleh mata kepala sering kali bias dengan realitanya. Banyak kefanaan yang terbungkus dengan keberadaan. Dunia yang seolah-olah gemerlap dengan banyak kesenangan sejatinya menyimpan banyak penderitaan atau ketidakpuasan. Menikmatinya adalah awal dari ketagihan yang menebalkan kemelekatan terhadapnya. Melekatinya adalah awal ketidaksanggupan untuk melepaskannya. Dan apabila terjadi hal yang tak diinginkan, kesedihan menghantam begitu dasyat hingga tak sempat untuk menyelamatkan diri. Perpisahan menjadi alasan dari sebuah kesedihan. Kehilangan menjadi alasan sebuah penderitaan.
Sungguh mudah melihat cacat orang lain daripada diri sendiri. Sungguh mudah menilai orang lain daripada diri sendiri. Memang seperti itu, melihat noda hitam lebih mudah daripada melihat lembaran putih yang masih bersih lainnya. Mencela satu kesalahan orang lain lebih mudah daripada mengapresiasi kebaikan lain yang masih tersisa. Padahal kalau dibandingkan dengan kebaikan yang lain, keburukan itu bisa jadi tak seberapa, namun karena mata memberikan perioritas padanya, maka yang muncul adalah keburukannya. Akibatnya banyak orang salah menilai seseorang hanya satu keburukan yang tampak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar